Mediaoposisi.com | Salam Redaksi -Sebuah konsekuensi yang harus di terima dengan lapang dada bahwa rupaih tidak selamanya dalam kondisi stabil.pergerakan rupiah kian naik turun membuat kondisi ekonomi terancam tidak stabil.

Rilis terbaru bahwa rupiah terdepresi oleh dollar dengan nilai Rp 15.025 /dollar.

Sektor yang bersentuhsn secara langsung akibat melemahnya rupiah terhadap dollar adalah sektor industri khususnya manufaktur.sekitar 90 % Bahan baku industri manufaktur khususnya elektronik berasal dari impor.Akibatnya defisit neraca perdagangan ditambah lagi dengan melemahnya rupiah terhadap dollar akan membuat inflasi meningkat.

belum lagi di sektor kredit pemerintah terhadap swasta dan asing  tentu saja akan menabah beban punggung pemerintah itu sendiri.

menurut data Moody’s,pemerintah indonesia tercatat memiliki sekitar 41 % utang dalam bentuk valuta asing.jika rupiah terdepresi lagi maka secara otomatis pengembalian utang dengan bunga akan tersa lebih berat.

“jika kenaikan kredit meningkat lebih lanjut ( resiko pasar berkembang ) dan harga minyak tetap tinggi menjelang sanksi iran,resiko nilai tukar rupiah 15.000 adalah bahaya yang amat jelas,” kata Varathan

mitigasi nilai tukar rupiah tak bisa di jadikan “back” yang kokoh dari kuatnya arus perdagangan Valuta asing dengan konspirasi dan manupulasi politik internasional rupiah akan terus tergerus jatuh dan  mengalami pelebaran  Volalitas.

keangkuhan dari respon yang lambat oleh pemerintah  tentu akan membuat indonesia kian terpuruk hingga stabilitas ekonomi dan politik bisa saja akan jatuh dengan cepat sebelum pilpres 2019. [MO/sr]

Posting Komentar