Oleh: Maya
Mediaoposisi.com-Badai yang sempurna tengah menerjang Indonesia. Belum redam perang tagar jelang pemilu 2019 mendatang, kini giliran perekonomian yang dihantam habis habisan. Terlebih ketika nilai rupiah terus mengalami pelemahan. Puncaknya pada Selasa malam (4/9), dilansir oleh Tribun Medan 5/9, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus angka Rp 15.029.

Menurut Presiden RI, pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan sentimen dari eksternal seperti kenaikan suku bunga The Fed, perang dagang antara China-Amerika, serta krisis yang melanda Turki dan Argentina. Mirisnya, pada kesempatan yang sama disampaikan pula bahwa pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika tidak hanya menimpa rupiah, tapi juga mata uang negara lain.

Sungguh, bukan kalimat penenang semacam ini yang diharapkan sampai ke telinga rakyat. Seolah bukan masalah besar, seolah bisa dimaklumi. Padahal dampak dari pelemahan ini begitu krusial bagi keselamatan perekonomian dalam negeri. Terlebih jika menilik hutang negara yang pada kuartal I -2018 sudah tercatat sebesar US$ 358,7 M (detikFinance 16/5), otomatis beban cicilan beserta bunga yang dibayarkan semakin besar.

Di sektor usaha, bisa dipastikan daya saing produk Indonesia baik itu domestik maupun ekspor menjadi lemah mengingat bahan baku dan barang modal industri masih bergantung pada impor. Naiknya biaya produksi ini tentu akan berujung pada naiknya harga barang sehingga memicu terjadinya penurunan daya beli masyarakat. Jika dibiarkan, bukan mustahil kebangkrutan massal mendera para pelaku usaha.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S Lukman sendiri mengaku banyak anggotanya yang merasa kelimpungan. Berbagai manuver seperti menaikkan harga, mengganti bahan baku dan kemasan terpaksa dikaji ulang demi mempertahankan proses produksi. (Serambinews 8/7).

Tak hanya makanan dan minuman, industri elektronik pun mengalami hal serupa. Lebih jauh, sebagai negara importir minyak sebanyak 250-500 ribu barel per hari, pergerakan dolar ini akan mempengaruhi pergerakan harga BBM. Kalau sudah begini, bisa dipastikan roda perekonomian masyarakat makin terjepit, khususnya kelas menengah ke bawah.

Gejolak tidak stabil akibat amukan dolar adalah harga yang harus dibayar negara negara berkembang lantaran kekukuhan mereka menumpukan perekonomian pada Amerika Serikat. Kemudian ditambah lagi problem candu impor yang tengah menimpa negeri ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan bahwa pertumbuhan impor Juli 2018 sudah mencapai 31,56 persen (year on year/yoy). Persentase inilah yang lantas memicu terjadinya defisit pada neraca perdagangan dan juga neraca transaksi berjalan.

(Republika 5/9). Dari sini, tidak tepat rasanya ketika disebutkan bahwa pelemahan mata uang hanya disebabkan oleh sentimen eksternal. Karena faktanya, faktor internal pun memiliki andil. Tidak bisa dipungkiri, fenomena fluktuasi kurs yang berkelanjutan tentu akan mempersulit jalan suatu negara untuk berdikari. Logika saja, bagaimana hendak mandiri ketika segala plan/perencanaan pembangunan perekonomian harus dikomparasikan terlebih dahulu dengan analisis naik turunnya kurs mata uang negara lain?

Sejatinya, masalah masalah moneter semacam ini bisa diatasi tatkala negara berkenan untuk berlepas
diri dari uang kertas dan beralih pada emas dan perak.

Keberadaan mata uang emas dan perak pada dasarnya mampu mencegah terjadinya inflasi. Sebab,
mustahil suatu negara dapat mencetak mata uang tersebut sesukanya untuk kemudian diedarkan ke
pasar. Berbeda dengan uang kertas yang cenderung tidak memiliki nilai intrinsik pada dirinya sendiri.

Sehingga, ketika suatu negara berkenan mencetak uang kertas dalam jumlah besar, maka secara
otomatis daya beli uang tersebut akan turun (inflasi).

Keunggulan lain, sistem emas dan perak mampu memelihara kekayaan emas dan perak yang dimiliki
suatu negara. Sebab mata uang tersebut tidak akan dapat berpindah secara percuma atau ilegal ke
negara lain kecuali sebagai kompensasi/harga atas suatu barang dan jasa. Lain cerita ketika perdagangan internasional masih bertumpu pada uang kertas.

Fluktuasi kurs bisa menyebabkan kegiatan ekspor impor mengalami ketidakpastian lantaran keduanya tidak bisa berjalan beriringan. Artinya, ketika mata uang dalam negeri melemah, maka para eksportir lah yang akan diuntungkan sedangkan pelaku importir justru buntung. Hal sebaliknya juga akan terjadi ketika mata uang menguat.

Kondisi ini tentu saja tidak ideal bagi keberlangsungan perekonomian suatu negara. Maka sungguh,
hanya dengan beralih pada mata uang emas dan perak lah negara negara berkembang khususnya
Indonesia mampu terlepas dari jeratan buah simalakama.[MO/sr]

Posting Komentar