Oleh: Nina Marlina, A.Md
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Sebagian besar kaum muslim di negeri minoritas Islam mengalami berbagai penderitaan dan penindasan. Selain terjajah dalam hal politik dan ekonomi, mereka harus merasakan penjajahan secara fisik. Diketahui bersama, bagaimana saudara-saudara kita di Xinjiang kehidupan beribadahnya dibatasi bahkan dilarang.

Puasa dan shalat tarawih di bulan Ramadhan pun dilarang. Di Kashmir, umat Muslim disana banyak yang ditangkap, dipenjarakan dan dibunuh serta diperlakukan secara diskriminatif. Begitu pula dengan Muslim Rohingya di Myanmar. Mereka tak henti mengalami penindasan serta pengusiran oleh para biksu dan junta militer.

Kaum perempuan pun selalu menjadi sasaran nafsu mereka. Alqur’an disobek dan dibakar. Tak jauh beda dengan masjid dan rumah-rumah penduduk juga dibumihanguskan. Tak hanya penindasan secara fisik, namun lebih dari itu. Genosida atau pembantaian secara besar-besaran dialami Muslim Rohingya.

Akibatnya mereka harus mengungsi ke negara-negara tetangga. Terlunta-lunta di tengah lautan dengan kondisi yang menyedihkan. Penolakkan kerap dilakukan banyak negara. Walau saat ini, sebagian besar penduduk Rohingya mengungsi di wilayah Bangladesh hingga penuh sesak.

Diberitakan rakyatku.com, 26/08/2018, pengungsi Rohingya memperingati setahun kejadian yang diduga usaha “pembersihan etnis” oleh junta militer di kampung halaman mereka di Rakhine, Myanmar. Sekitar 700 ribu orang dari etnis minoritas Rohingya sudah melarikan diri ke Bangladesh, tidak punya kewarganegaraan dan menatap masa depan suram.

Rohingya adalah sebutan bagi masyarakat Muslim di Myanmar. Sebagian Muslim Myanmar berasal dari Arakan, suatu Provinsi di barat laut Myanmar. 

Pada 1430 M Rohingya menjadi kesultanan Islam yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Syah dengan bantuan masyarakat Muslim di Bengal (sekarang Bangladesh). Kemudian nama Rohingya diganti menjadi Arakan (bentuk jamak dari kata Arab ‘rukun’ yang berarti tiang/pokok) untuk menegaskan identitas keislaman mereka.

Penindasan terhadap Muslim Rohingya bermula pada 1784 M  Kerajaan  Budha berkoalisi menyerang provinsi dan menduduki wilayah Arakan. Mereka membunuh kaum Muslimin,  para ulama dan da’i. Mereka juga  merampok kekayaan kaum Muslimin, menghancurkan bangunan-bangunan Islami baik berupa masjid maupun sekolah. 

Pada tahun 1824 M, Inggris menduduki Burma termasuk wilayah Arakan dan menancapkan penjajahan mereka atas Burma. Selanjutnya, Inggris memberi Burma kemerdekaan hingga akhirnya terjadi kudeta militer di Burma di bawah pimpinan militer Jenderal Ne Win. Rezim militer melanjutkan ‘tugas penting’ pembantaian terhadap umat Islam.

Puncaknya pada 2015, Pemerintah Myanmar mencabut status kewarganegaraan etnis Rohingya, sehingga mereka tidak punya kewarganegaraan lagi. Sudah satu tahun berlalu, tepatnya pada 25 Agustus 2017 Myanmar melancarkan agresi militernya dengan dalih mau menangkap “teroris Rohingya” yang diduga melatarbelakangi serangan ke puluhan pos keamanan di Rakhine.

Namun yang terjadi ternyata pihak militer malah mengusir, menyiksa, memperkosa dan membunuh warga Rohingya.

Sungguh ironi, Aung San Suu Kyi Pemimpin Myanmar yang meraih nobel perdamaian, justru malah mendukung upaya pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya. Ia juga menyangkal tuduhan pengungsi terjadi kekejaman, dengan mengatakan aparat keamanan menumpas Muslim militan sesuai hukum di Rakhine.

Meski banyak yang mengecam, Panitia Nobel Perdamaian Norwegia memastikan penghargaan yang pernah diberikan kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi tidak akan dicabut, meski tim pencari fakta independen Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut militer negeri itu melakukan pembantaian terhadap etnis Rohingya (cnnindonesia.com, 30/08/2018)

Penindasan demi penindasan yang dialami kaum muslim saat ini membuat kita sedih dan kecewa. Pasalnya, kaum muslim saat ini begitu mudahnya ditindas oleh Barat dan kaum kafir. Kekuatan dan kehebatan kaum Muslim saat ini tak nampak seperti dahulu.

Umat Islam nampak tak berdaya. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW bahwa umat Islam itu jumlahnya banyak, namun bagaikan buih di lautan yang tak memiliki kekuatan. Hal ini yang membuat Barat dan kafir berani menjajah dan menindas kaum muslimin.

Kesadaran bahwa umat Islam itu satu tubuh pun mulai luntur. Persatuan umat Islam terhalangi dengan sekat-sekat negara (nation state). Hal ini mengakibatkan umat tak peduli akan derita yang dialami saudara seiman di luar negaranya.

Begitu pun dengan para Pemimpinnya yang hanya mengecam tanpa berbuat aksi nyata. Padahal negeri mereka memiliki tentara yang kuat dan banyak.
Solusinya tentu bukan saja dengan memberikan tempat tinggal dan berdoa bagi mereka.

Karena akar masalahnya, saat ini umat Islam tak memiliki pemimpin yang melindungi dan menjaga jiwa serta kehormatan kaum Muslim. Pemimpin yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

Insya Allah penderitaan kaum Muslim akan berakhir tatkala umat Islam memiliki pelindung politik, yaitu dengan berdirinya sebuah institusi atau negara pemersatu umat Islam. Negara tersebutlah yang akan menyatukan negeri-negeri Islam yang tercerai-berai, kemudian membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan dan penindasan kaum kafir dan dzalim.[MO/sr]





Posting Komentar