Oleh : Aisha Rahma* (Pegiat Dakwah Islam Malang)

Mediaoposisi.com-Sempat beredar gambar di media sosial yang menggambarkan tentang sebuah toko ritel ternama akan memberikan diskon 35 persen pada setiap konsumen setiap belanja, dengan syarat mau teriak bertagar 2019 tetap J*k*w* atau dalam versi yang lain ada yang hanya dengan teriak 2 periode di depan kasir. Banyak tanggapan dari kubu pendukung oposisi, dan tak sedikit yang
menyebarluaskan berita tersebut, dengan komen sinis, padahal ternyata isinya hoax, karena pic itu diedit dari promo dari toko tersebut terkait Hari Pelanggan Nasional (Vide : viva.co.id , 7/9/2018).

Gencarnya isu bertagar ganti presiden, isu bertagar tetap Pancasila atau what ever lah... tanpa disadari menyebabkan para aktivis perubahan ikut larut dalam narasi yang viral di lini masa media sosial. Banyaknya unggahan tulisan yang bermuatan “negatif” seperti berita tentang ibu bangsa, tempe setipis ATM, dsb, justru diangkat habis-habisan oleh para aktivis perubahan atau bahkan sengaja membuat video tandingannya, seakan tidak mau kalah pokoknya.

Fenomena seperti ini menunjukkan lemahnya kontrol diri dalam bersosial media. Mestinya, para aktifis perubahan bisa memilah dan memilih, mana isu utama dan mana yang tak bermakna, sehingga tidak berubah arah haluan, sebagaimana orang-orang pada umumnya- yang bermodal semangat belaka, ikut terbawa arus masif-mainstream media, bahkan bisa ikut terjebak dosa karena turut berkoar asbun (asal bunyi) seperti kubu yang sebelah ‘sana’, tanpa manfaat sebagaimana yang dilarang dalam ajaran Islam.

Pertanyaannya, apakah perubahan dapat diharapkan, dengan jalan mempertandingkan seruan / tagar dukungan atau bahkan berkoar-koar secara absurd di berbagai laman jejaring sosial ? Alih alih berubah, justru yang terjadi malah mengaburkan isu sensitif di negeri ini dan menjauhkan dari kemampuan umat dalam mengolah fakta yang sebenarnya terjadi. Apa itu? Tentang keadaan kita yang sedang terjajah, tentunya karena ulah penjajah, melalui penguasa antek dan antek penguasa yang bengal dan pongah. Hayuk.. fokus aja lah!

Mengusung Ide Perubahan Sebagaimana Rasulullah

PERUBAHAN, adalah kata yang mudah diucapkan, tapi rumit (kalau tak ingin dibilang tak mungkin- untuk diwujudkan). Apalagi perubahan itu dilakukan atas sistem rusak (Sekuler- apitalis) yang sudah mengakar seperti saat ini. Bisa saja dalam prosesnya, manusia yang menginginkan perubahan tersesat atau hilang arah dan orientasi. Seperti yang banyak terjadi belakangan, dan ini adalah fakta.

Jika diwujudkan dalam sebuah ilustrasi, para aktivis dakwah di atas hanya melihat bayangan seribu cermin. Maka yang sedang diviralkan adalah sekedar bayang – bayang cermin, yang memang disengaja supaya tampak, namun hilang jika ditangkap (pengalihan isu), atau dengan ilustrasi yang lain lagi seperti jurus seribu bayangannya Naruto, para aktivis dakwah maunya menyerang Naruto, tapi yang diserang justru bayangannya Naruto, atau (lagi) mudah juga untuk berilustrasi seperti penokohan dalam sebuah cerita, yaitu tokoh protagonist masih berurusan melulu dengan deutragonis, tidak menyentuh sama sekali pada tokoh antagonisnya. untuk itu aktivis dakwah harus paham betul, menguasai jurus-jurus dan dilengkapi dengan intelegensi yang sehat untuk menimbang dan memutuskan arah aktivitasnya untuk benar-benar mencermati siapa sebenarnya tokoh musuh utamanya, yang dalam hal ini adalah system dzalim yang dijalankan oleh penguasa dzalim pula.

Untuk itu, sungguh dibutuhkan sebuah idelisme dan fokus pada aktifitas dakwah yang sudah dicontohkan Rasulullah Saw, suri tauladan sepanjang masa yang tak lekang oleh zaman, sebagaimana firman Allah SWT :
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suatu contoh yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan (keridhaan) Allah dan hari kemudian, serta banyak mengingat Allah, “ (TQS. Al Ahzab : 21).

Salah satu aktifitas dakwah Rasul yang penting adalah membentuk opini umum di tengah masyarakat, dengan menyebarkan pemikiran dan tanggapan atas setiap kerusakan yang terjadi. Menyerang pemikiran yang rusak dan menyudutkannya, hingga bisa menyadarkan umat untuk mencampakkan afkar (pemikiran) tersebut. Lalu tak boleh lupa, memberikan solusi yang lurus dan tuntas yang berasal dari Islam.
Apalagi Rasul bersabda: “.... Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR. Al- Hakim dan al- Khatib dari Hudzaifah ra.), yang berarti Rasulullah telah melarang cuek pada persoalan umat. Tapi tak elok juga kalau narasinya payah dan mengaburkan hakikat Islam sebagai solusinya.

Sangat vital agar para pengemban dakwah selalu sigap menyikapi dan memberi solusi atas berbagai peristiwa yang menimpa umat, baik skala regional, nasional maupun internasional. Karena dampak penerapan sistem dzalim Kapitalis – Liberal yang dipaksakan di tengah umat Islam saat ini telah menimbulkan banyak korban. Kemiskinan, kerusakan moral, kriminaltas, lost generation, depresi, bahkan tingginya tingkat bunuh diri, bahkan dari hal-hal tersebut itu ada yang paling tragis, yaitu tidak mampu menerjemahkan kerusakan sebagai hal yang rusak yang harus dibenahi. Luar biasa tragis.

Contoh, terkait tingkat bunuh diri karena berbagai motif. Salah satunya depresi karena tekanan kehidupan yang sangat berat. Ternyata, di Indonesia ada 10 ribu kasus per tahun. Atau dengan kata lain, ada 1 orang setiap jamnya yang bunuh diri di sini, menurut catatan Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Internasional (IASP). (Vide : doktersehat.com). Pada momen Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri di dunia, 9 September setiap tahunnya, problem ini terus diungkap oleh IASP agar masyarakat peduli dan berusaha mencegahnya. Tapi apa daya, sistem ini terus menambah angka kasus bunuh diri secara masif. Bukankah dibutuhkan solusi yang konprehensif, untuk menyelamatkan generasi ke depan? Apalagi kalau bukan dari tandingan mabda (ideologi) Kapitalis atau Sosialis, yaitu tidak ada lain lagi mabda (ideology) Islam! Eh, para aktifis perubahan justru teralihkan mengurus yang bisa jadi kontra produktif bagi perubahan, membuat umat menjadi kebingungan bahkan tidak mengenal mabda (ideologi) Islam.

Bahwa arus kerusakan telah dikemas sedemikian rupa, ditambah kesadaran yang masih rendah untuk membebaskan diri dari kerusakan, membuat umat masih enggan meninggalkan kerusakan (juga karena ketidakmampuan menerjemahkan kerusakan sebagai hal yang rusak), dan kemudian menggantinya dengan pemikiran dan aturan yang berasal dari dien Islam. Dibutuhkan kemampuan men-counter opini rusak dan menyuguhkan solusi bernash dalam perspektif Islam, agar bisa menjawab secara tuntas persoalan yang menghujam. Inilah hakikat aktifitas edukasi di tengah umat, aktivitas perubahan! Bukan malah terjebak hoax, ujaran kebencian, komentar dan meme yang tak mencerminkan kemuliaan ide dan akhlak Islam. Atau bahkan saking gemesnya dengan kubu seberang, linimasa miliknya dipenuhi oleh sumpah serapah kepada person.

Padahal dakwah Rasul menyerang sistem Jahiliyah, bukan person Abu Lahab dan Abu Jahal cs. Ketika Rasul membacakan : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab (pemimpin Quraisy itu). Tidaklah berfaedah kepadanya harta dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (TQS. Al Lahab : 1-5). Semua tidak lain adalah tanggapan terkait sikap para penentang dan terus berupaya menghalangi dakwah Islam. Ketika itu, Abu Lahab bersama istrinya telah bekerjasama untuk mencegah teropininya dakwah pada saat Rasul menyeru di bukit Shafa. Jadi, bukan karena kesal dengan person tertentu atau sekedar iseng ingin berkomentar semata. Apalagi Abu Lahab, adalah paman Beliau sendiri.

Tekait Abu Jahal, dia sebenarnya adalah pemuka suku Quraisy yang digelari Abul Hakam (bapak kebijaksanaan) karena dianggap cerdas. Namun oleh Nabi Saw dia digelari Abu Jahal (bapak kebodohan) karena sikap ‘bodoh’-nya menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah. Bahkan telah merencanakan berbagai makar termasuk merencanakan pembunuhan utusan Allah yang mulia, Muhammad Saw. Sungguh sebuah narasi yang tajam, menusuk ke jantung kekufuran.

Maka aktifis dakwah kekinian, sudah seharusnya membekali diri dengan pemahaman terbaik, juga retorika menarik dan tajam. Termasuk menyikapi berbagai fenomena, tak semua hal harus dikomentari. Buatlah narasi untuk membangun opini Islam saja, tak melenceng ke mana-mana. Untuk itu, dua hal yang penting diperhatikan adalah kemampuan kontekstualisasi dan kekuatan sudut pandang. Kontekstualisasi tidak lain adalah bagaimana menjadikan Islam bisa masuk dan diterapkan secara baik dan pas dengan konteksnya. Hal ini menuntut penguasaan detail masalah, penguasaan sejarah dan informasi kekinian. Sedangkan sudut pandang, biasanya mewakili paradigma kesadaran politik yang dipakai ketika melihat segala persoalan (Vide : Fika Komara: 2016).

Hari ini banyak persekusi terhadap aktifis, juga ada tuduhan ditunggangi kelompok radikal lah, macam-macam narasinya yang (terus terang) tak enak untuk didengar. Maka sempat muncul berbagai meme “jawaban”. Tapi tak jelas mau mengarah ke mana, ya kecuali yang tertangkap lucunya. Kalau itu terus menerus dibiasakan, tentu dakwah pemikiran tak terjadi. Yang ada cuma saling serang, karena tak senang.

Bukankah yang harus dilakukan adalah tetap fokus pada tujuan-tujuan dakwah? Menyerang hal yang krusial, membidik berita aktual yang menjadi kerugian besar di masyarakat. Lalu tulislah narasi yang mengedukasi umat. Membangkitkan kesadaran, yang karenanya jika semuanya itu telah ada pada setiap pengemban dakwah, setiap aktivis perubahan, tulisan ini tidak perlu ada. Maka silahkan revisi gerakan anda, ubah perlawanan ke arah ‘musuh sebenarnya’ bagi dakwah perubahan. Di sanalah sasaran tepat para aktivis yang sesungguhnya!! Selamat menemukan arah panahmu wahai para pejuang syariah. #SosmedForDakwah.[MO/dr]

Posting Komentar