Oleh: Wulan Amalia Putri, SST
(Staf Dinas Sosial Kab. Kolaka)

Mediaoposisi.com-Kasus kenakalan remaja yang berbau asusila kembali terjadi di bumi Mekongga, Kolaka. Sebagaimana dilansir oleh Sultrakini.com, kasus kekerasan seksual ini dilakukan oleh lima orang siswi sebuah sekolah negeri menengah atas kabupaten Kolaka. Kelima pelaku tersebut berinisial P, PA, MA, PJ dan SP dengan korban yang berinisial PS.

Penganiayaan terjadi usai pulang sekolah di Tribun Lapangan Konggoasa dan berlanjut di rumah kosong milik keluarga pelaku pada Rabu, 29 Agustus 2018. Sebagai hukumannya, pihak sekolah telah mengeluarkan pelaku sementara tuntutan hukum terus berlanjut.

Beberapa waktu sebelumnya, melalui kolakaposnews.com, 11 April 2018, Kepala Seksi Data Kekerasan Anak dan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Kolaka, Sitti Khadijah, mengurai angka kekerasan pada anak yang dikhawatirkan melonjak naik, meskipun ada penurunan di tahun sebelumnya.

Kalau data yang ada 2016 ke 2017 memang turun, namun dalam triwulan pertama ditahun 2018 hampir mengahampiri data 2017, di tahun 2018 ini kasus pecabulan dan pemerkosaaan itu ada 2 kasus dan KDRT yang dilaporkan sudah ada 3 kasus, sementara di tahun 2017 kasus pemerkosaan itu ada 4 kasus dan KDRT dilaporkan hanya satu kasus,” terangnya.

Penyebabnya beranekaragam, “Kalau pemerkosaan dan pencabulan faktornya itu bisa jadi dari banyak menonton konten negatif di media sosial, faktor lingkungan juga, sedangkan untuk kekerasan dalam rumah tangga juga hampir sama dan juga bisa jadi karena faktor ekonomi,” terang Khadijah.

Kasus yang terungkap ini mungkin saja hanyalah sebuah fenomena gunung es dari kasus kekerasan lainnya yang tidak terungkap ke publik. Menunjukkan betapa eratnya remaja dengan kekerasan dalam segala bentuk baik remaja sebagai korban (victim) ataupun sebagai pelaku.

Media Sosial Sekuler
Melalui peringatan Hari Pendidikan, 2 Mei 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan data bahwa tercatat ada 84%  siswa di Indonesia yang pernah mengalami kekerasan di sekolah. Sebanyak 40% siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekurangan fisik oleh teman sebaya, 75%  siswa pernah melakukan kekerasan di sekolah dan 50% anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolah (nasional.tempo.co.id, 2 Mei 2018).

Era globalisasi mendekatkan informasi. Karena itu perilaku sosial kerap ditampilkan di sejumlah media sosial. Media sosial, yang sayangnya banyak diakses oleh remaja, menyajikan ragam perilaku yang dapat ditiru dengan instan oleh remaja ataupun orang dewasa. Demikian pula bahwa tindakakan kekerasan di sekolah erat kaitannya dengan perilaku kekerasan remaja yang mungkin disaksikan di media sosial.

Kasus kekerasan siswa kepada siswa lainnya bukan yang pertama kali terjadi. Di sebuah SMA di Jember pada tahun 2012, sekelompok siswa melakukan kekerasan seperti pemukulan dan pencambukan dengan ikat pinggang hanya karena korban menolak undangan BBM. Geng sekolah pun tidak hanya di tingkat SMA, juga terjadi pada tingkat SD, seperti yang terjadi di salah satu SD di Purwokerto pada Oktober 2009.

Perilakunya pun hampir sama, sekelompok siswa atau siswi yang bergabung dalam satu geng (beranggotakan lebih dari 2 orang) merundung (bullying) siswa/siswi yang lebih lemah. Kecenderungan perilaku seperti ini adalah dampak langsung media sosial kepada remaja. Proses modelling (meniru) seketika terjadi dengan mendengar atau melihat kronologi tindak kekerasan yang dinarasikan atau ditampakkan di media sosial.

“Perilaku bullying yang terjadi di lingkungan pendidikan merupakan perbuatan atau perkataan yang menimbulkan rasa takut, sakit atau tertekan baik secara fisik maupun mental yang dilakukan secara terencana oleh pihak yang merasa lebih berkuasa terhadap pihak yang dianggap lebih lemah (Coloroso, 2007 dalam Fitria, 2014).

Sementara itu, perasaan lebih mendominasi atau lebih lemah dapat dikembalikan pada pemahaman remaja mengenai konsep diri. Masih menurut Coloraso, berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku bullying di lingkungan pendidikan salah satunya disebabkan oleh faktor konsep diri (self concept).

Konsep diri adalah sebuah persepsi tentang individu mengenai dirinya. Konsep diri merupakan bagaimana cara “kita” melihat diri sendiri serta bagaimana cara “kita” menjadi individu yang diinginkan. Secara psikologis, remaja pelaku kekerasan mempersepsikan dirinya lebih kuat dan lebih berkuasa atas korban yang mempersepsikan dirinya lemah dan mudah ditindas.

Lalu mengapa konsep diri semacam itu bisa muncul? Inilah yang menjadi dampak langsung dari sekulerisme yang mewarnai media sosial. Sekulerisme yang menjauhkan agama dari kehidupan sosial membuat perilaku sosial seolah-olah jauh dari ajaran agama. Urusan manusia seakan-akan bebas dari agama.

Apalagi pendapat bahwa masa remaja adalah masa pencarian jati diri sehingga mereka bebas melakukan apa saja. Padahal inilah pendapat yang salah. Seharusnya karena remaja sedang dalam pencarian jati diri maka suasana dan lingkungan sosial yang baiklah yang harus mereka dapatkan agar yang terserap adalah nilai (value) yang baik. Dan kita meyakini bahwa kondisi religius adalah suasana terbaik yang menghasilkan nilai hidup yang baik.

Namun, kondisi sekulerisme justru mengurangi agama dalam keseharian. Kenyataannya, dalam rapat Pleno MUI pada 23 Agustus 2017, Ketua DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, mengatakan porsi pendidikan agama disekolah umum saat ini masih jauh dari kata cukup. “Porsi pendidikan agama di sekolah umum, itu sangat minim sekali dibandingkan kebutuhan,” ujarnya di lokasi rapat. (Kumparan.com, 23 Agustus 2017).

Jadi bagaimana mungkin berharap remaja tangguh dengan konsep diri yang kuat jika pendidikan masih sekuler.

Di sisi lain, Pemerintah melalui regulasi telah melakukan berbagai cara untuk melindungi anak. Pemerintah misalnya telah mengubah  Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang saat ini sudah berlaku ± (kurang lebih) 12 (dua belas) tahun menjadi  Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Harapannya, kekerasan pada anak tidak terjadi lagi. Namun, kenyataan di lapangan, kekerasan pada anak terus berulang dan sangat memprihatinkan.

Islam Mewujudkan Remaja Tangguh
Perilaku “kacangan” model rendahan seperti perundungan (bullying) tidak akan kita temukan dimasa Islam. Tidak terbayang oleh remaja bahkan orang tua masa kini bahwa Islam mampu menghadirkan remaja yang tangguh dan berkepribadian.

Di usianya yang baru 15 tahun, Zubair bin Awwam telah menjadi teman diskusi Rasulullah SWA karena kecerdasannya, menjadi anggota pasukan berkuda, tenyata yang pemberani dan pemimpin dakwah Islam di zamannya.

Sementara itu Thalhah bin Ubaidillah di usianya yang juga masih sangat.muda menjadi seorang pembesar utama barisan Islam di Mekkah, singa podium yang handal dan pelindung bagi Nabi Muhammad SAW saat perang Uhud berkecamuk.

Hingga Rasul menjulukinya: Thalhah si Pemarah, Thahah si Dermawan. Hingga Muhammad Al Fatih yang merubuhkan kedigdayaan Konstantinopel dengan memimpin lebih dari 250 ribu pasukan di usianya yang baru 21 tahun.

Rahasia dari terbentuknya konsep diri yang ideal dan unik dalam diri remaja Islam adalah Islam itu sendiri. Bukan yang lain. Berbeda jauh dengan Sekulerisme, Islam menghendaki setiap orang termasuk remaja menginternalisasikan Islam dalam kehidupannya, dalam setiap perilakunya. Setiap perilaku yang dilakukan telah melalui pertimbangan yang matang, melalui screening halal dan haram.

Seorang individu termasuk remaja Muslim, seharunya senantiasa meningkatkan keterlibatannya dengan Islam. Untuk mencetak generasi tangguh, terdapat beberapa hal yang seharusnya dilakukan. Pertama, setiap Muslim termasuk remaja hendaknya meningkatkan pengetahuan Islamnya.

Penting bagi setiap orang untuk memahami bahwa Islam adalah sebuah Ideologi, bukan hanya sebuah agama. Kedua, setiap individu Muslim harus menyadari konsekuensi keimanan. Karena itu seorang muslim akan memperhatikan perintah dan larangan Allah SWT.

Sebagaimana yang Allah SWT informasikan dalam TQS Al anfaal: 24 “ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila Rasul menyeru kami kepada suatu yang memberi kehidupan (dakwah, jihad dan perkara agama lainnya)”.

Ketiga, masyarakat menjalankan kontrol sosial berdasarkan standar halal dan haram. Fungsi masyarakat adalah menjalankan aturan yang telah dilegitimasi negara dan agama. Perilaku kekerasan dan maksiat lainnya bukanlah saja tanggung jawab individu sendiri, namun juga tanggung jawab masyarakat. Disinilah fungsi kontrol masyarakat berjalan.

Sebab, bisa saja perilaku maksiat muncul karena sistem di masyarakat yang buruk. Sikap apatis terhadap tindakan kekerasan, budaya menikmati kekerasan lewat media dan anggapan yang salah tentang pendidikan anak atau hal-hal anak, dapat melemahkan kontrol sosial masyarakat.

Keempat, peran negara dan sistem pemerintahan sebagai institusi penerapan hukum. Imam Al Ghazali menulis dalam kitabnya, Al Iqtishod fil I'tiqod: “...dan karena inilah dikatakan: agama dan Sulthan adalah dua saudara kembar, dan karena ini pula dikatakan: agama adalah asas, sedangkan sulthan (penguasa) adalah penjaga; apa saja yang (tegak) tanpa asas, pasti runtuh, sedangkan apa saja yang (ada) tanpa penjaga, pasti juga hilang”.

Karena itu, kebobrokan dan kerusakan pada individu dan masyarakat dapat dihilangkan oleh penguasa. Termasuk pula meminimalisir atau menghilangkan perilaku kekerasan pada anak dengan kebijakan yang preventif dan kuratif, sesuai tuntunan Islam.

Pada skala lokal, organisasi dan lembaga-lembaga yang dapat mengakomodasi hak-hak anak seperti Forum Anak atau Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) yang telah dibentuk dapat lebih diberdayakan sesuai tuntunan agama dan profesi.

Begitu besar kemuliaan yang akan didapatkan oleh invidu dan masyarakat jika kita kembali kepada aturan Islam, dengan menerapkannya secara kafaah (menyeluruh). Tanpa Islam, masyarakat dan remaja khusunya akan semakin didekap oleh budaya-budaya kekerasan dan tidak beradab.

Dengan kembali pada Islam, Kolaka akan bertul-betul diberkahi oleh Allah SWT, menjadi daerah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? "(TQS. Al Kaidah:50).


Posting Komentar