Illustrasi
Oleh  : Siti Rahmah

Mediaoposisi.com-Mencegah generasi milenial sebagai generasi muda dari paparan radikalisme dan terorisme diperlukan usaha yang berkelanjutan.

Untuk mencegah infiltrasi paham menyimpang, dibutuhkan pembekalan untuk mempersiapkan generasi milenial dari bahaya radikalisme dan terorisme dengan menggunakan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Menyadari hal tersebut, Kepala BNPT hadir sebagai pembicara dalam Talkshow “Peran Generasi Milenial dalam Menjaga Keutuhan NKRI”.

Talkshow yang ditujukan kepada generasi milenial tersebut diselenggarakan di Auditorium Soerja Atmadja, Gedung Dekanat FEB UI, Depok, pada Senin (20/8) pagi. Sebagai pembicara, Komjen. Pol. Suhardi Alius M.H. tidak sendiri, hadir sebagai pembicara yaitu Abdul Muta’ali dari Departemen Linguistik FIB UI, Dr. Muhammad Abdullah Darazz sebagai Direktur Eksekutif MAARIF Institute for Culture and Humanity, serta moderator Talkshow Teguh Dartanto Ph.D.

“Di sinilah pentingnya memiliki nilai-nilai kebangsaan dan kearifan lokal, karena keduanya dapat membantu kita dalam berselancar di internet khususnya ketika menemui narasi dan konten radikal. Kita jadi mampu menyaring dan menilai mana yang baik, sekaligus mengasah pikiran kritis kita,” ujar Kepala BNPT.

Patroli dan Pembekalan ke kempus-kampus terus gencar dilakukan oleh BNPT. Latarbelakangnya jelas, untuk memberikan sel imun untuk mahasiswa supaya tidak terpapar pemahaman radikalisme. Langkah ini dianggap langkah paling panting dalam menjaga generasi. Karena peran kampus dalam mendidik dan melahirkan para penerus bangsa dinilai sangat strategis.

Peran Strategis Generasi Muda

Bicara kampus adalah bicara sumber daya manusia yaitu mahasiswa. Generasi muda yang menjadi tongkat estafet maju mundurnya sebuah bangsa. Kebangkitan suatu bangsa bisa terjadi ketika generasi mudanya bangkit. 

Berbagai imun dimasukan ke benak pemikiran generasi untuk menciptakan kekebalan dalam diri mahasiswa. Dengan harapan "virus" tidak mudah merusak ketahanan pemikiran mahasiswa. Untuk kasus kali ini tidak tanggung-tanggung yang mereka sebut sebagai virus ganas yang berbahaya itu adalah radikalisme dan terorisme. Parahnya mereka menuduh pengusung radikalisme itu adalah umat Islam.

Benarkah radikalisme yang membahayakan dan akan menghambat kebangkitan generasi muda?

Karena pada faktanya ancaman yang jelas menyerang generasi muda tak terkecuali mahasiswa adalah gempuran narkoba, pergaulan bebas dan sekulerisme liberalisme. 

Salah besar jika memaksakan menina bobokan generasi dengan dalih untuk menjaga keutuhan NKRI dari radikalisme. Karena masalah besar yang dihadapi negeri ini dan merenggut idealisme mahasiswa adalah paham menyimpang sekulerisme dan liberalisme.

Dengan melemahkan generasi dan menjinakan mahasiswa dari sikap kritisnya sejatinya sedang mempersiapkan ketumpulan dan kelumpuhan generasi.[MO/an]

Posting Komentar