Oleh: Ani Herlina (Pendidik dan Anggota AMK)

Mediaoposisi.com- Pendidikan adalah tolok ukur majunya sebuah peradaban bangsa. Akan tetapi, jika ternyata dalam pendidikan tersebut ditemukan banyak sekali masalah dan pemerintah kurang memberikan perhatiannya terhadap masalah tersebut, timbullah pertanyaan: akankah peradaban bangsa yang unggul bisa tercapai? Menurut data UNESCO, Indonesia berada di peringkat ke-60 dalam soal minat membaca. Hal ini merupakan bencana intelektual yang dihadapi bangsa ini dan diperparah pula dengan kualitas tenaga pendidik di Indonesia yang masih rendah. Di samping itu, masih banyak gedung sekolah dan fasilitas pembelajaran yang belum memadai, serta gaji guru honorer yang memprihatinkan. Tugas para guru honorer juga semakin berat di tengah lingkungan saat ini yang dilematis dan penuh dengan kebobrokan moral.

Pergantian roda kekuasaan menyebabkan juga pergantian menteri pendidikan. Dengan demikian, kurikulum yang gonta-ganti dalam tempo singkat semakin menambah kerumitan sistem pendidikan di negeri ini. Mata pelajaran yang banyak, administrasi guru yang cukup melelahkan, dan kualitas anak didik yang kian hari mengalami degradasi tentu harus dicarikan solusinya agar tidak menimbulkan kerusakan yang semakin parah ke berbagai aspek.

Keberhasilan pendidikan di suatu negara dapat dilihat dari kualitas generasi bangsa yang dihasilkan. Namun, apabila melihat berbagai fakta saat ini: kerusakan pada birokrasi hingga tatanan masyarakat kecil khususnya keluarga dan korupsi yang semakin menggurita, lembaga pendidikan di negara ini boleh dikatakan gagal.

Hal ini disebabkan oleh dunia pendidikan yang semakin kehilangan esensinya dan guru yang tidak dapat lagi dijadikan sebagai figur teladan. Akhlak siswa yang semakin amburadul–terlibat seks bebas, kecanduan narkoba, dan menjadi pelaku tawuran–semakin menambah citra bahwa pendidikan di negeri ini sedang menuju kehancuran.

Pemerintah belum memiliki solusi atas permasalahan ini. Pengelolaan pendidikan malah diberikan kepada swasta sehingga terjadi kapitalisasi. Hal ini tentu membuat rakyat sengsara karena biaya pendidikan yang semakin mahal. Inilah akibat yang ditimbulkan dari penerapan sistem pendidikan sekuler yang memisahkan aspek agama dari kehidupan.

Pendidikan dewasa ini seolah-olah hanya berfungsi sebagai penggugur kewajiban pemerintah agar rakyat terbebas dari kebodohan, mampu bersaing secara global, atau bahkan hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan pekerjaan. Tujuan pendidikan dalam sistem demokrasi sekuler adalah mencari keuntungan. Maka dari itu, tujuan ini bertentangan dengan hadis berikut:

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu, tetapi yang ia harapkan bukanlah wajah Allah,
melainkan ia mempelajarinya untuk mencari harta dunia, maka ia tidak akan memperoleh
wangi surga pada hari kiamat” (HR Abu Daud No. 3664, Ibnu Majah No. 252, dan Ahmad
2:338)

Jika esensi mencari ilmu adalah dunia, arah lembaga pendidikan tentu semakin tidak jelas. Sementara itu, tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membangun karakter pribadi (asy-syakhsiyyah). Dengan demikian, sebelum anak-anak didik mempelajari ilmu-ilmu lainnya, akidah mereka akan dibangun terlebih dahulu agar menjadi individu yang taat kepada Tuhan-Nya. Setelah itu, mereka harus menguasai pengetahuan Islam dengan cara mempelajari ilmu yang termasuk fardu ain, lalu mempelajari ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah.

Mereka pun harus mampu menguasai iptek beserta keterampilan-keterampilan lainnya yang berguna bagi kehidupan mereka. Bahkan, apabila ahli dalam suatu bidang ilmu, di masa depan mereka dapat menghasilkan penemuan yang bermaslahat bagi umat. Ketika anak-anak didik memasuki universitas, mereka seyogianya diajarkan ilmu-ilmu utama, seperti ilmu budaya, fikih, bahasa Arab, dan tafsir Alquran, atau pun ilmu-ilmu empiris: matematika, kimia, biologi, fisika, kedokteran, dsb.

Demi menghasilkan generasi berkualitas seperti itu, lembaga pendidikan, rumah, dan pemerintah harus bersinergi karena sejatinya pendidikan tidak dapat dibebankan kepada salah satu pihak saja. Maka dari itu, sistem pendidikan Islam merupakan satu-satunya solusi mendasar untuk menggantikan sistem pendidikan sekuler saat ini. Pendidikan Islam yang bersumber dari Alquran, terstruktur, dan terprogram dengan baik ialah upaya yang harus diperjuangkan agar tercipta generasi Islam berakhlak karimah.

Sejarah membuktikan bahwa pendidikan yang dimiliki oleh Dunia Islam mampu menghasilkan generasi cemerlang baik secara pola pikir maupun sikap. Mereka adalah generasi yang mumpuni di bidang masing-masing dan berbudi pekerti luhur sehingga mampu mengantarkan Islam kembali ke puncak keemasan. Generasi cemerlang ini akan tercipta apabila negara memerhatikan dunia pendidikan secara total dan mampu menetapkan tujuan pendidikan secara jelas.

Islam sangat menganjurkan para pemeluknya untuk menuntut ilmu karena akhlak karimah, pemahaman tauhid, dan pengetahuan-pengetahuan duniawi lainnya hanya dapat diperoleh melalui pendidikan. Tentu sebelum mempelajari ilmu, Islam menganjurkan mempelajari adab terlebih dahulu.
Dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, Allah swt. berfirman

Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu pengetahuan”.

Berdasarkan ayat di atas, derajat orang-orang beriman dan berilmu akan ditinggikan oleh Allah. Oleh sebab itu, jika iman dan ilmu terdapat di dalam setiap diri umat Islam, puncak kejayaan Islam dapat kita genggam kembali. Tentu saja, pendidikan terbaik hanya dapat diperoleh ketika syariat Islam ditegakkan secara sempurna dan menyeluruh.[MO/dr]


Posting Komentar