Oleh: Ropi Marlina, SE., M.E.Sy


Mediaoposisi.com-Dunia pendidikan di negeri ini selalu menyisakan berbagai hal yang ironis. Diantaranya masalah terkait dengan potret buram guru honorer. Berbagai persoalan tengah melanda guru honorer seperti rendahnya upah para guru honorer. Upah yang mereka dapatkan tidak sepadan dengan pengabdian mereka. Disamping itu, aturan seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018 yang sekarang diberlakukan tidak berpihak kepada guru honorer yang sudah mengabdi sejak beberapa tahun kebelakang. Karena salah satu peraturan menteri PAN RB Nomor 36 Tahun 2018 menjelaskan usia pendaftar guru honorer K2 di bawah 35 tahun. Guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun, khususnya yang usianya di atas 35 tahun akhirnya tidak bisa mengikuti seleksi CPNS karena dibatasi usia.

Itulah sekelumit potret buram guru honorer yang sampai saat ini masih jauh dari harapan. Padahal begitu besar peran dan jasa yang dilakukan oleh guru selayaknya seorang pahlawan, sehingga sosok guru dijuluki sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Namun, penghargaan terhadap guru nyatanya tidaklah sebanding dengan besarnya jasa yang telah diberikan. 

Guru adalah sosok yang dengan tulus mencurahkan sebagian waktu yang dimilikinya untuk mengajar dan mendidik siswa, sementara dari sisi finansial yang didapatkan sangat jauh dari harapan. Gaji seorang guru rasanya terlalu jauh untuk mencapai kesejahteraan hidup layak sebagaimana profesi lainnya. Sebagaimana diberitakan, sebagian besar guru harus mencari tambahan penghasilan lain di luar tugasnya mengajar. Ada yang harus mengajar di berbagai sekolah dari pagi sampai malam. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, buruh tani, bahkan yang ironis ada yang menjadi pemulung.

Kesejahteraan guru tentu harus menjadi perhatian dan hal yang patut diutamakan. Islam dalam hal ini Khilafah telah mampu memberikan kesejahteraan kepada para pendidik sampai pada tingkat yang belum pernah terjadi dalam peradaban manapun. Islam telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan. Kekhilafahan Islam telah mendorong para ulama untuk terus berkarya melalui ijtihad untuk menghasilkan karya-karya terbaik yang bermafaat untuk kemaslahatan umat.

Setiap karya yang dihasilkan berupa kitab-kitab baik itu khazanah fiqih, kedokteran, sains, dll, dihargai dengan mahal oleh Khilafah yaitu dengan dihargai oleh emas murni seberat kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama saat itu. Tentu saja ini merupakan sebuah penghargaan yang besar dari negara terhadap karya-karya orang-orang yang memiliki ilmu. Sehingga wajar jika di masa keKhilafahan, banyak kaum muslimin dengan berbagai disiplin ilmunya terus berlomba menghasilkan karya, karena disamping sebagai bentuk ibadah dan mengembangkan peradaban islam, kemakmuran mereka pun terjamin oleh perhatian dan penghargaan dari negara yang begitu luar biasa. 

Islam juga sangat memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap pada pengajar dengan memberikan upah yang sangat layak atas ilmunya. Sebagai gambaran, di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, setiap guru mendapat gaji yang luar biasa besar yaitu sekitar 15 dinar/ bulan ( 1 dinar = 4,25 gram emas). Sehingga tidak ada guru yang kekurangan, mereka sejahtera dengan upah yang didapatkannya. Hanya dengan penerapan Islamlah kesejahteraan guru akan terwujud.[MO/dr]

Posting Komentar