Oleh : Nurul Rachmadhani
(Komunitas Revowriter)

Mediaoposisi.com- Perempuan dalam kumparan kapitalisme, menjadi mesin kapital. Fitrah seorang perempuan telah dicabut. Hingga akhirnya menghasilkan krisis dalam kehidupan keluarga. Kehancuran masyarakat. Dan kehancuran bangsa.
Mc Kinsey mengatakan, bahwa dunia akan mengalami kerugian sebesar US$ 4,5 triliun dalam PDB tahunan ditahun 2025 apabila pemberdayaan perempuan tidak ditingkatkan. Sehingga saat ini Asia, berinvestasi pada wanita dan anak perempuan. Perempuan dijadikan sebagai alat untuk mendobrak perekonomian suatu negara. Dengan alih bahwa perempuan merupakan penunjang pertumbuhan ekonomi digital. Sehingga perempuan diarahkan harus sama seperti laki-laki, dengan alasan persamaan gender. Bahkan diberikan motivasi agar menjadi pemimpin masa depan dibidang perekonomian. Pemikiran seperti ini merupakan buah dari sistem kapitalisme saat ini. Dimana keuntungan materi yang selalu dipikirkan tanpa melihat bagaimana seharusnya perempuan menjalankan peran sesuai dengan fitrahnya. Dalam Islam, perempuan memiliki tugas khusus. Perempuan ibarat sebagai pondasi rumah. Dimana perempuan adalah seorang istri dan ibu. Menjadi seorang istri yang dapat menerima apa adanya suami. Percaya dan yakin serta selalu membantu ketika suami berada dalam kesulitan. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang perlu dilakukan. Tetapi menjadi pendamping seorang pemimpin rumah tangga atau lainnya, yang dapat membantu. Mengarahkan. Menenangkan adalah suatu hal yang mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah SWT. Kemuliaan perempuan juga terlihat saat berperan sabagai seorang ibu dapat terlaksana dengan baik. Karena dari seorang ibulah akan tercipta generasi berikutnya. Baik buruknya anak terletak dari bagaimana seorang ibu mendidik anak-anaknya. Banyak hal yang dapat dilakukan perempuan dalam masyarakat dan negara. Perempuan miliki perannya masing-masing namun berbeda peran dengan kaum laki-laki. Peran perempuan hanyalah sebagai penopang dan sandaran kaum laki-laki dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Tanpa harus dimanfaatkan dengan alasan persamaan gender atau pun pendobrak perekonomian. Karena sebenarnya alasan ini hanyalah pemikiran para kaum kapitalis atau barat. Untuk menghancurkan pondasi keislaman muslimah. Hingga akhirnya banyak perempuan yang meninggalkan kewajibannya sebagai ummun wa rabbatal bait. Hanya Islam yang memiliki solusi untuk mengangakat harkat dan martabat perempuan. Islam akan memberikan keadilan dan kesejahteraan tanpa diskriminasi. Sehingga perempuan dapat tetap menjalankan peran sesuai fitrahnya sebagai seorang istri dan ibu. [MO/sr]

Posting Komentar