Oleh: Lilieh Solihah 
(anggota komunitas revowriter)

Mediaoposisi.com-Istilah "the Power of emak-emak" menjadi populer akhir akhir ini, namun demikian Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo menolak istilah "the power of emak-emak" "sorry, tak ada the power of emak-emak yang ada the power of ibu bangsa"

ungkap beliau saat menyampaikan laporan pada upacara pembukaan sidang umum ICW (Intrernational Council of Women) dengan bertema Tranforming society through women empowerement (mentransformasi masyarakat melalui pemberdayaan perempuan).

Acara telah digelar di Yogyakarta pada tanggal 11-20 september. Yogyakarta menjadi tuan rumah perhelatan para tokoh-tokoh perempuan dunia dan Indonesia, bersamaan dengan ini digelar juga acara temu nasional seribu organisasi perempuan Indonesia (Republika.Co.id)

Upacara pembukaan pun dihadiri presiden Joko Widodo pada jum'at (14/9)menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pun Yohana Yambise turut hadir dalam acara tersebut Acara ini diselenggarakan untuk memperkuat komitmen bersama bagi 150 perempuan dari organisasi dunia di 18 negara dan 1000 perempuan perwakilan organisasi di Indonesia dalam meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak khususnya di Indonesia.

Dalam acara tersebut Yohana juga menjelaskan bahwa perempuan seringkali mengalami kekerasan baik fisik psikis dan seksual perempuan juga sering mengalami hak pendidikan yang di nomor dua kan dibandingkan pendidikan laki-laki, perempuan yang bekerja mencari nafkah sekaligus mengerjakan urusan rumah tangga.

Yohana juga menjelaskan bahwa perempuan berpotensi besar untuk membangun bangsa ini. Perempuan harus diberikan kesempatan untuk melakukan kontrol terhadap proses pembangunan.

Maka dengan itu maka kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dapat terwujud dan pembangunan dapat berjalan dengan baik, pun dengan salah satu pernyataan Mc Kinsey yang mengibaratkan tanpa peningkatan pemberdayaan perempuan dunia akan alami kerugian sebesar 4,5 triliun dalam PDB tahunan pada tahun 2025.

Begitulah sistem kapitalisme, perempuan harus disetarakan dengan kaum laki-laki baik dalam hal mencari nafkah maupun dalam pembangunan bangsa dan perpolitikan.

Perempuan dianggap sebagai keberhasilan mengangkat derajat para perempuan Indonesia dalam bidang perekonomian Perempuan dalam kumparan kapitalisme menjadi mesin kapital yang mencabut fitrahnya dan pada akhirnya
menghasilkan krisis dalam kehidupan keluarga kerusakan masyarakat dan kehancuran bangsa.

Dalam islam perempuan itu sangat istimewa dan mulia. Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah (HR. Muslim)

Islam juga menjelaskan bahwa seorang perempuan memiliki beberapa peran sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Allah, peran perempuan sebagai seorang anak, sebagai seorang istri terhadap suaminya peran perempuan menjadi seorang ibu Islam memandang bahwa keberadaan perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan laki-laki,

keduanya memiliki tanggungjawab yang sama dalam mengatur dan memelihara kehidupan ini agar berjalan sesuai dengan aturan sang pencipta. Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah swt. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."(QS. At-Taubah 9: Ayat 71)

Seorang muslimah atau perempuan harus memperhatikan hal-hal ketika ingin merealisasikan aktivitaspolitiknya,

1.) Harus disadari bahwa mereka terjun semata-mata karena melaksanakan perintah Allah bukan
untuk menduduki jabatan atau posisi tertentu.

2.) Allah SWT telah menentukan bentuk bentuk aktivitas politik yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan. 
3.) Tetap terikat dengan syariat

Untuk politik kekuasaan, islam memberikan penjelasan yang sangat jelas, bahwa aktivitas politik yang tidak diperkenankan bagi perempuan adalah aktivitas yang termasuk dalam wilayah kekuasaan atau pemerintahan, yakni wilayah pengurusan umat yang dilakukan secara langsung dan menyeluruh.

Islam memposisikan perempuan pada posisi yang sangat mulia, secara politis islam menempatkan peran utama bagi perempuan adalah ummun warobbah al Bayti (ibu dan pengelola rumah tangga)
Islam memberikan keadilan dan kesejahteraan tanpa diskriminasi dan tanpa mencabut fitrahnya sebagai perempuan dan ibu. Wallahua'lam bish-shawab.[MO/dr]

Posting Komentar