Oleh: Heni Yuliana S.pd (Revowriter Karawang)

Mediaoposisi.com-Radikalisme dan terorisme seolah menjadi momok menakutkan bagi negeri ini. Terbukti dengan gencarnya upaya untuk mencegah dan menghadangnya. Dan kampus dilihat menjadi sarang adanya kedua ajaran ini.

Infiltrasi radikalisme dan terorisme yang menyeluruh tidak luput pula mengancam lingkungan pendidikan. Perguruan tinggi salah satunya, memiliki ancaman serupa yaitu masuknya bibit-bibit radikalisme dan terorisme di kalangan akademisi baik mahasiswa maupun tenaga pengajar.

Oleh karena itu pada musim penerimaan mahasiswa baru Kepala BNPT mengunjungi perguruan-perguruan tinggi untuk membekali mahasiswa dan segenap civitas. Kali ini, Kepala BNPT mengunjungi Universitas Widyatama Bandung untuk memberikan pembekalan resonansi kebangsaan serta bahaya radikalisme dan terorisme.(bnpt.go.id,12/9/2018)

Dalam pidatonya kepala BNPT menyatakan bahwa, “Kalau tantangan berprofesi itu dibutuhkan knowledge dan skill, tapi jangan lupa akhlak yg baik. Akhlak yang baik, moral, rasa nasionalisme dan
kearifan lokal, lebih baik lagi dalam membentengi diri menghadapi ancaman seperti radikalisme dan terorisme, ini nyata dan jangan dianggap remeh.

Pemuda Perubah Peradaban

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya ...Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia". Pasti kita sudah tak asing lagi dengan petikan kata-kata di atas. Itu adalah penggalan pidato Ir. Soekarno Presiden pertama negara Indonesia.

Tidak berlebihan jika Bung Karno menyatakan demikian. Karena pemuda adalah sosok tangguh dalam peradaban. Ia juga dijuluki agent of Change. Perubahan ada di tangan para pemuada.

Pemuda memiliki semua potensi untuk jadi agen perubahan. Semangat serta kekuatan fisik dalam fase terbaiknya. Dan Mahasiswa berada di garda terdepan dalam menjadi agen perubahan tersebut. Semangat menyala dipadu kekuatan intelektual menjadikan mereka sebagai lokomotif perubahan ke arah kebaikan untuk negeri ini.

Sebagaimana kita tahu negeri ini sedang dinaungi awan gelap. Permasalahan silih berganti mendera.
Seperti tak ada ujungnya. Dan mendera di semua lini kehidupan negeri ini.

Jangan sampai agenda pencegahan radikalisme dan terorisme sekarang malah membungkam sikap kritis yang dimiliki oleh mahasiswa. Apalagi bila yang disasar adalah pemikiran Islam yang sudah mulai bangkit dari mahasiswa dewasa ini.

Karena tak ada lagi arah perubahan yang shahih selain dilandasi oleh semangat kebangkita Islam. Semangat yang sama yang dimiliki para pemuda terbaik generasi Islam. Sebut saja Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinofel. Jiwa muda yang dilandasi spirit keimanan melahirkan kejayaan peradaban Islam.[MO/dr]

Posting Komentar