Oleh: Dwi Rahayuningsih

Mediaoposisi.com-Perempuan, adalah sosok yang tak habis untuk dibicarakan. Keberadaannya seperti dua sisi mata uang. bisa jadi penyelamat bangsa, bisa juga menjadi perusak bangsa. Bahkan saat ini perempuan menjadi alat bangsa untuk meraup keuntungan materi guna mendongkrak perekonomian Negara. Melalui program pemberdayaan perempuan, diharapkan mampu menghasilkan materi tanpa bergantung pada lelaki.

Sebagai bentuk apresiasi, Indonesia menyambut gembira acara Internasional Council of Women (ICW) ke-35 dimana Indonesia sebagai tuan rumah dalam acara ini. Bersama dengan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) acara diadakan pada 12-20 September 2019 di Yogyakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Yohana Yambise, menjelaskan bahwa perempuan dan anak seringkali mengalami berbagai kekerasan, baik fisik, Psikis dan seksual, serta menjadi korban stereotype, marginalisasi, subordinasi, dan beban ganda. Perempuan juga seringkali mengalami subordinasi dalam kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan sehingga berdampak pada kemiskinan ekonomi. (www.kemenpppa.go.id)

Perempuan Dalam Pusaran Kapitalisme

Perempuan dalam sistem saat ini dianggap sebagai pihak nomor dua. Keberadaannya dianggap sebagai pemuas nafsu laki-laki dan mesin penghasil uang. Karena itu perempuan diharapkan mampu mandiri secara finansial. Sehingga berbagai cara dilakukan untuk memberdayakan kaum perempuan. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menggelontorkan berbagai program pemberdayaan perempuan.

Gayung bersambut. Kaum perempuan menerima dengan senang hati program tersebut. Karena selama ini, banyak perempuan (penganut paham feminis), yang menganggap bahwa dirinya mengalami deskriminasi. Termarginalkan dan selalu berada di bawah laki-laki. Bahkan kerap kali perempuan menjadi korban kekerasan seksual yang berujung perceraian.

Untuk bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada kaum Adam, perempuan harus mampu menghidupi
dirinya sendiri. Memperoleh penghasilan yang layak untuk bertahan hidup. Di sisi lain, saat ini pertumbuhan ekonomi memasuki era digital. Dan perempuan diharapkan mampu menjadi penggerak
perekonomian bangsa.

Sejalan dengan keinginan kaum perempuan untuk memeperoleh kesetaraan jender dengan laki-laki, maka pemberdayaan perempuan yang diprogramkan pemerintah mendapat sambutan hangat. Upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak juga menjadi fokus utama pembahasan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-90 bersama sidang Umum Internasional Council of Woman (ICW) ke-35 di Yogyakarta.

Menurut prediksi, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi digital tahun 2020. Sedangkan tahun 2050 peluang ekonomi digital mencapai USD 150 miliar per tahun. Untuk memujudkan pertumbuhan
ekonomi digital tersebut, berbagai upaya dilakukan pemerintah Indonesia untuk memberi peluang kaum perempuan dalam berpartisipasi aktif sebagai pembangun ekonomi negara. Diantaranya dengan
membuka lapangan pekerjaan yang pro-perempuan seluas-luasnya.

Berbanding lurus dengan kapitalis, perempuan adalah mesin uang. Diharapkan dengan memberikan kesempatan kerja, perempuan dapat mendongkrak perekonomian bangsa. Jelas ini adalah bentuk eksploitasi dan kedzoliman terhadap perempuan. Mereka dijadikan alat penghasil kekayaan.

Perempuan Dalam Pandangan Islam

Berbeda dengan kapitalis, Islam sangat memuliakan kaum perempuan. Kedudukan perempuan disamping laki-laki adalah sebagai pendamping yang letaknya sejajar, bukan di bawahnya, bukan pula di belakangnya. Apalagi nomor dua. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki untuk membersamai perjuangan.

Bahkan Islam memposisikan perempuan lebih tinggi tiga derajat disbanding laki-laki. Tugas pokok perempuan sebagai ummun wa rabbatul bait, tak tergantikan oleh laki-laki manapun. Wajar jika Allah
memberikan keistimewaan kepada perempuan dengan memberikan kesempatan untuk mendapatkan pahala jihad meski tidak terjun ke medan perang.

Dengan ketaatannnya kepada Allah dan suaminya, membuat perempuan mendapatkan keistimewaan
untuk masuk surge melalui pintu manapun yang ia suka.

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad)

Untuk menjadi wanita shalehah, tidak perlu sama dengan laki-laki. Apalagi berperan ganda untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Karena tugas untuk memberikan kehidupan yang layak ada di tangan laki-laki sebagai pencari nafkah. Perempuan terlalu berharga untuk menjadi mesin pencetak pundi-pundi rupiah. Karena perempuan adalah perhiasan. Yang harus dijaga dan diperlakukan istimewa. Bukan dieksploitasi dan didzolimi.

“Dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah.” (HR. Muslim)

Sudah saatnya menjadi perempuan yang cerdas. Tidak terbawa arus apalagi terjerat kapitalisme. Menjadi wanita shaleha dambaan umat, pencetak generasi takwa lebih mulia daripada menjadi budak
kapitalis. Jangan sampai kita menjadi bagian yang dikabarkan dalam hadist Rasulullah. Bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. Na’udzubillah.[MO/dr]

Posting Komentar