Oleh: Alif Shaleha


Mediaoposisi.com-Perhelatan akbar Asian Games 2018 telah usai. Indonesia mencetak sejarah baru dengan mejadi juara umum keempat. Sebagai tuan rumah, segala sarana prasana telah disiapkan secara maksimal. Penyambutan terhadap para tamu juga tak kalah mewah. Penghargaan terhadap para atlet peraup medali sangat luar biasa. Apresiasi yang ditungu-tunggu oleh para atlet.

Namun dibalik gebyar dan gemerlapnya acara, ada ancaman nyata bagi negara penyelenggara. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas bambang Brodjonegoro telah mengingatkan dampak negative penyelenggara event olahraga tingkat internasional semacam Asian Games terhadap tuan rumah: “jika tidak bisa memanage utang dan fasilitas, maka bisaterjadi penumpukan utang dan pemanfaatan sarana yang kurang optimal,” ujar Bambang di kementrian Kominfo, Jakarta pada Ahad, 13 Mei 2018.

Indonesia selaku tuan rumah Asian Games 2018 telah menghabiskan anggaran sebesar Rp 6,6 triliun. Beberapa proyek infrastruktur pendukung Asian Games menelan biaya 27 triliun rupiah dan satusnya
masih utang dari swasta asing. Sedangkan bonus untuk para atlet mencapai Rp 210 miliar. Bukan angka yang kecil mengingat kondisi negara sedang terlilit utang.

Meski sudah banyak fakta yang terindra dari berbagai negara penyelenggara event serupa, namun tampaknya hal itu tidak menyurutkan langkah pemerintah untuk tetap melaksanakan acara tersebut. Alasannya jika mampu mengelola utang dan fasilitas dengan baik, maka tidak akan merugikan negara.

Belajar dari event-event serupa yang telah terselenggara di beberapa negara seperti Olimpiade Montreal 1976. Saat itu pembangunan Olympiic Staium dianggarkan sebesar US$ 250 juta, namun akhirnya menghabiskan US$ 1,4 miliar. Akibatnya pembangunan dibayarkan dalam bentuk utang dan
baru dilunasi 30 tahun kemudian. Kejadian serupa saat Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil pada 2016. Biaya penyelenggara Olimpiade mencapai US$ 10-12 miliar, sehingga menyebabkan ketimpangan pendapatan di Brasil semakin lebar. (tempo.co)

Seharusnya Indonesia belajar dari peristiwa tersebut. Meski optimis tidak akan membawa efek negatif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun faktanya sebelum usai Asian Games digelar nilai tukar rupiah sudah melemah. Bahkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hamper mencapi Rp 15.000,00.
Inflasi sudah di depan mata. Tentu saja hal ini berdampak pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Lebih buruk lagi, pendapatan masyarakat cenderung tetap bahkan berkurang. Bagaimana mungkin kebutuhan hidup dapat tercukupi jika harga-harga meroket tajam dan tak mampu dijangkau? Sudah pasti angka kriminalitas akan meningkat seiring dengan meningkatnya kemiskinan.

Jika sudah begini, bisakah negara membayar utang yang menggunung? Sementara animo masyarakat
untuk menggunakan fasilitas infrastruktur Asian games tidak ada. Sangat sulit rasanya untuk membantu mendongkrak pemasukan negara. Akibatnya utang negara semakin tak terkira. 

Bila hal ini terus terjadi, bisa saja negara akan mengalami kebangkrutan. Nilai rupiah yang terus melemah. Ditambah gaya hidup para pejabat yang semakin “wah”. Korupsi merajalela. Menambah daftar panjang kelemahan negara. Jika negara tidak mampu menyelesaikan persoalan ini, maka Indonesia harus bersiap untuk mengalami krisis untuk kesekian kalinya. Belajar dari kasus Venezuela, harusnya bisa membuat pemerintah waspada. 

Sudah jelas kebijakan ekonomi kapitalis membawa kesengsaraan. Tidak perlu lagi dilanjutkan. Buang jauh-jauh budaya hura-hura dan pesta pora yang dilakukan negara. Tak perlu mendapat banyak pujian dari negara-negara lain. Jika akhirnya negeri sendiri yang harus menganggung beban utang yang menggunung. Tak perlu sanjungan dan standing uplous dari negara tetangga, jika akhirnya rakyat sengsara. Bukankah seharusnya harta negara digunakan untuk membantu para korban bencana? Mereka hidup dalam bahaya. Setiap saat harus waspada. Ketakuatan dan kekurangan menjadi teman hidupnya.

Sudah. Hentikan segala kegiatan yang membuang banyak harta negara. Karena sejatinya harta negara
adalah milik rakyat. sebelum terlambat. Sebelum kasus Venezuela menimpa Indonesia juga. Buang sistem kapitalis yang membuat rakyat menangis. Ganti dengan sistem terbaik yang berasal dari Sang pencipta manusia. Sistem yang sempurna yang bersumber dari Alquran dan Sunnah yang sudah jelas
menyejahterakan rakyat. wallahu a’lam bish-shawab.[MO/dr]

Posting Komentar