Oleh: Anisa Rahmi Tania (Aktivis Muslimah Jakarta Utara)

Mediaoposisi.com-Tanggal 13-18 September 2018 menjadi momen penting bagi Indonesia. Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Sidang Umum ke-35 Dewan Perempuan Dunia (the 35th General Assembly of International Council of Women) yang akan berlangsung di Yogyakarta. Indonesia, yang pernah menjadi presiden International Council of Women (ICW), tahun ini ditunjuk menjadi tuan rumah Sidang Umum ke-35 ICW. Acara ini diselenggarakan untuk memerkuat komitmen bersama, bagi 150 perempuan dari organisasi dunia di 18 negara dan 1.000 perempuan perwakilan organisasi di Indonesia dalam meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di dunia, khususnya di Indonesia.

Menteri Yohana menjelaskan bahwa perempuan dan anak seringkali mengalami berbagai kekerasan, baik fisik, psikis dan seksual, serta menjadi korban stereotype, marjinalisasi, subordinasi, dan beban ganda. Banyak perempuan dianggap hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga, sedangkan laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama, sehingga pendapatan perempuan dianggap hanya sebagai tambahan saja. Perempuan juga mengalami marjinalisasi (proses
peminggiran) yang berdampak pada kemiskinan secara ekonomi.

Untuk itu, beberapa tahun ini pemerintah melalui Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) sangat gencar mengajak kaum perempuan supaya ikut dalam berbagai aktivitas ekonomi. Mereka mencoba menggerakkan para kaum ibu supaya dapat berkreatifitas dalam memperoleh penghasilan tambahan. Mereka memompa semangat kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah dengan membangun opini
absurd. Mereka menilai bahwa perempuan yang maju, terhormat, dan patut dihargai adalah dia yang mampu menghasilkan materi. Sekaligus membuat frame bahwa pembangunan ekonomi bangsa akan lebih baik jika kaum perempuan telah punya kesempatan yang sama dengan laki-laki.

Dari jargon-jargon yang dibuat itulah tak heran kini banyak perempuan yang begitu getol bekerja. Lihat saja di pabrik-pabrik, perusahaan, atau departemen-departemen, mayoritas pekerjanya adalah perempuan. Perempuan kini begitu sangat leluasa untuk melangkahkan kakinya keluar rumah dan bekerja. Tidak malam maupun petang, tak menjadi pantangan. Karena ekonomi akan semakin sulit jika perempuan tak ikut andil.
Tapi benarkah opini tersebut? Apakah penghargaan kepada perempuan itu hanya dinilai dari seberapa
besar materi yang ia dapatkan? Apakah para ibu yang sedianya 24 jam mengelola rumah tangga dan
keluarga menjadi sosok rendah dan tak terhormat?
Nyatanya Rasulullah tak pernah sedikit pun menyindir sinis perempuan yang hanya sibuk dalam dunia
domestiknya. Rasulullah memberikan gambaran penghormatan pada perempuan dengan menyebutkan
sosok seorang ibu, bukan ibu pekerja.
Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai
Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ dan orang
tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut

bertanya kembali ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu!’ orang tersebuat bertanya kembali,
‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari no
5971 dan Muslim no 2548)
Artinya, besarnya kasih sayang, kecintaan dan penghormatan kepada seorang ibu 3 kali lipat daripada
kepada ayah. Tak pernah sekalipun Rasulullah memerintahkan kaum perempuan untuk ikut bekerja
supaya mendapatkan kedudukan dan penghormatan yang sama dengan kaum laki-laki. Lantas dari
mana asal klaim, opini dan jargon-jargon itu jika dalam islam malah berbanding terbalik. Jelaslah
kesemuanya itu berasal dari opini barat yang mengusung sistem kapitalisme.
Dalam sistem ekonomi kapitalis, apapun dapat dimanfaatkan dan digunakan demi memeroleh
keuntungan yang sebesar-besarnya. Ketika wajah dan tubuh perempuan lebih menjual di dunia publik,
maka tak segan mereka mengeksploitasinya tanpa memertimbangkan kerusakan yang akan ditimbulkan
setelahnya. Kepiawaian, ketekunan, dan kesabaran yang telah menjadi fitrah perempuan mereka
ekploitasi untuk digunakan sebagai mesin uang. Tanpa sadar haknya untuk dilindungi dirampas, haknya
untuk dihormati pun dirampas. Tengoklah betapa dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun
pelecehan seksual, KDRT, dan pemerkosaan semakin merajalela tak mengenal tempat dan waktu.
Oleh karena itu, gagasan-gagasan pemberdayaan perempuan tersebut pada hakikatnya adalah tipuan
dan jebakan busuk untuk kaum perempuan. Dalam islam, penghormatan dan perlindungan itu telah
nyata-nyata diwujudkan dalam pengaturan hak dan kewajibannya. Hak istri adalah mendapatkan
nafkah, sementara bekerja adalah kewajiban suami. Hak istri adalah mendapatkan perlindungan,
sementara menjadi imam/pemimpin rumah tangga adalah kewajiban suami. Adapun mencetak generasi
berkualitas dan menjadi madrasatul ‘ula untuk anak-anaknya adalah kewajiban bagi istri. Di sinilah
potensi seorang perempuan yang sangat dibutuhkan oleh bangsa dan Negara. Mencetak generasi
berkualitas yang siap menjadi pemimpin yang beriman di masa depan. Bukan dengan menyibukkannya
di luar rumah sementara pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya dibebankan pada orang lain. Wallahu’alam bish shawab.[MO/dr]

Posting Komentar