Oleh : Winda Sari 
(Mahasiswi)

Mediaoposisi.com- Begitu ya, politik dilarang membawa agama, dan agama dilarang mencampuri urusan politik. Padahal di zaman Rasulullah SAW, agama itu gandengannya politik. Artinya, politik selalu melibatkan agama di dalamnya, karena menyangkut masalah ummat dan akidah.

Agama jangan dibawa ke politik, kasihan ummat. Justru ummat lebih kasihan jika politik tidak melibatkan agama. Politik itu mengurusi urusan ummat, yang di dalamnya juga mneyangkut perihal akidah, jika agama tidak dilibatkan dalam urusan politik, ummat akan lebih kasihan ibarat naik perahu tanpa nahkoda, terombang-ambing dan akhirnya tenggelam dalam lautan diterpa badai.

Begitulah gambarannya, jika agama dipisahkan dalam urusan politik.
"Saran saya jangan agama dibawa ke politik. Karena kalau agama dibawa bawa ke politik, kasihan umat. Mau kemana nanti kan," kata Moeldoko di kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Menurut Moeldoko, dilibatkannya ulama dalam politik nantinya akan membingungkan masyarakat. Ia pun memberi contoh figur yang kehilangan jemaah setelah makin sering beraktivitas di bidang politik.

"Ujung-ujungnya adalah, sudah banyak ya, sudah banyak contoh. Para public figure yang tadinya giat di agama beralih ke politik, akhirnya massanya jadi hilang. Jangan sampai itu terjadi," tandas Moeldoko. (Sumber : Liputan6.com)

Menanggapi pernyataan Moeldoko tersebut, kejadian semacam itu hanya terjadi dalam sistem kapitalis demokrasi.

Ulama, sepandai apapun dia, jika masuk ke ranah politik di sistem kapitalis demokrasi ini, kesan ulamanya akan hilang, ia akan termakan sistem dan mungkin akan ikut-ikutan menjadi iblis, ikut mendukung kebijakan yang tidak menguntungkan masyarakat, hingga akhirnya menindas kaum bawahan. Hal ini jelas juga ia akan kehilangan jamaahnya.

Berbeda jika menerapkan sistem Islam, tidak ada namanya istilah tidak boleh mencampuadukkan urusan agama dan politik karena keduanya berbeda. Justru, agama dan politik akan saling berkaitan.
Dalam sistem Islam, aktivitas di bidang politik akan berkaitan dengan agama, karena dakwah tidak melulu tentang sabar, zuhud, tawakkal, dsb, tapi juga tentang politik.

Di masa Rasulullah SAW, semua aktivitas melibatkan agama, termasuk politik. Rasulullah SAW sendiri, manusia yang mulia, ibadahnya tidak diragukan lagi, dan terbebas dari dosa, itu saja turun langsung dalam perpolitikan, di mana saat itu Rasulullah SAW perna menjadi kepala Negara, ikut dalam perang, mendirikan Negara atau daulah, dsb.

Tidak hanya itu, para khulafaur rasyidin juga tidak diragukan ibadahnya, mereka juga terjun ke dunia politik, dengan menjadi khalifah dan mengurus ummat di dalam Negara. Dan itu berlangsung hingga masa utsmaniyah.

Akan tetapi, sekarang ini, banyak manusia yang lalai, tergila-gila akan kekuasaan dan harta, malah tidak mau ketika agama itu mengatur kehidupan, justru ingin memisahkan agama dari kehidupan, salah satunya dari dunia politik. Racun sekularisme benar-benar dahsyat, dan racun ini penawarnya hanya satu tidak ada yang lain, yaitu ISLAM.[MO/sr]


Posting Komentar