Ilustarsi
Oleh :Arimbi Nikmah Utami, S.Farm., Apt

Mediaoposisi.com-Siapa tak kenal istilah PIL, WIL dan Pelakor? Istilah yang disematkan pada orang ketiga yang mengganggu atau bahkan merusak rumah tangga seseorang.

Jumlah mereka nampaknya semakin banyak, ditandai dengan semakin meningkatnya mahligai rumah tangga yang hancur dan berujung pada perceraian karena orang ketiga.

Di Karawang, kasus perceraian banyak diakibatkan oleh kecemburuan yang bermula dari pertemanan di media sosial. “sekarang pemicu perceraian tidak melulu karena faktor ekonomi. Penggunaan media sosial juga bisa memicu perceraian pasangan suami istri,” kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Karawang ( antaranews.com /090/9/18).

Hampir sama yang terjadi di Bengkulu, dikutip dari antaranews.com (7/7/2018), Pengadilan Agama Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, mencatat angka perceraian hingga pertengahan 2017 mencapai 447 kasus, sebagian besar diantaranya dipicu penggunaan media sosial yang kurang bijak.

“Berdasarkan kasus yang kami tangani, kemajuan teknologi menyebabkan perkara perceraian dalam hubungan rumah tangga,” jelas panitera Pengadilan Agama Manna, Sairun.

Pengadilan Agama Kelas 1B Blora mencatat jumlah perkara perceraian tahun ini di Kabupaten Blora mengalami peningkatan. Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Kelas 1B Blora Kastari melalui Staff Pelayanan Informasi dan Pengaduan, Yustisi Yudhasmara mengatakan, “Jumlah perkara cerai hingga bulan November 2017 mencapai 1.741 perkara. Untuk jumlah perkara cerai talak yakni 554 pekara. Sedangkan cerai gugat yakni 1.187 perkara,” katanya. ( Beritajateng.net 20/12/2017)

Jumlah ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Jumlah perkara cerai hingga Desember 2016 mencapai 1.812 perkara. Terdiri dari cerai gugat 1199 perkara dan cerai talak 613 perkara. Dia menjelaskan, rata – rata penyebab timbulnya perceraian yakni karena permasalahan ekonomi dan  Pola komunikasi Pasangan yang salah  menimbulkan beberapa konflik rumah tangga.[MO/an]


Posting Komentar