Oleh: Maya

Mediaoposisi.com- Jika pepatah lama mengatakan banyak jalan menuju Roma, maka di era milenial sekarang ini pepatah tersebut nampaknya telah bergeser menjadi banyak jalan menuju perceraian. Bagaimana tidak? Media sosial pun kini turut berkontribusi sebagai penyebab hancurnya mahligai rumah tangga.

Dilansir oleh Antaranews.com (7/9), Pengadilan Agama Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, mencatat angka perceraian hingga pertengahan tahun ini sudah mencapai 447 kasus, dan sebagian besar di antaranya dipicu penggunaan media sosial yang kurang bijak.

Angka tersebut jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 775 kasus.

Hal senada juga disampaikan oleh Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Karawang Abdul Hakim. Padahal sebelumnya mayoritas kasus perceraian lebih dipicu oleh faktor ekonomi atau KDRT.

Tidak bisa dipungkiri, derasnya arus globalisasi menjadikan gadget lolos sebagai salah satu solusi terbaik menjawab keterbatasan informasi dan komunikasi. Sifatnya yang praktis, efektif dan efisien tak urung menjadi kelebihan tersendiri yang kemudian banyak diminati berbagai kalangan.

Namum, ibarat dua sisi mata pedang, semua kelebihan bernilai positif tersebut tetap saja bisa berpotensi sebagai alat untuk bunuh diri.

Pada kasus perceraian ini saja misalnya, cekcok akibat medsos lebih didominasi faktor kecemburuan. Kondisi ini menunjukkan banyaknya kalangan yang belum memahami bagaimana batasan pergaulan antara pria dan wanita.

Embel-embel dunia maya yang melekat pada media sosial, menjadikan mereka santai, bahkan berani menerobos segala batasan itu dengan dalih tak bersua secara nyata. Padahal, dari sinilah sejatinya bibit bibit perselingkuhan dan kekacauan itu bermula.

Belum lagi efek candu yang diberikan gadget, tentu akan membuat manusia kalang kabut bila tidak diiringi pengendalian diri yang apik. Lalai akan tugas dan kewajiban masing-masing pihak, bahkan menelantarkan anak adalah harga yang musti dibayar oleh mereka yang gila kesenangan duniawi.

Sebagai asas suatu ideologi rusak, sekulerisme berhasil mempropagandakan liberalisme. Konsep yang mengusung kebebasan ini pada akhirnya hanya melahirkan perilaku yang kebal terhadap larangan dan ancaman Tuhan. Akibatnya, bukan tidak mungkin jika benteng terkecil seperti ketahanan keluarga pun bisa hancur dengan mudah.

Bila ditarik benang merahnya, jelas sekali bahwa ketiadaan peran agama dalam kehidupan berhasil membuat masyarakat kehilangan gambaran secara utuh tentang Islam. Pada tataran ini, aspek agama hanya difokuskan pada perkara spiritual, padahal sejatinya eksistensi Islam terlalu sempurna jika dikerdilkan sebatas pada perkara itu.

Terkait tata pergaulan, maka sesungguhnya hukum asal kehidupan pria dan wanita adalah terpisah. Keduanya hanya bersinggungan sebatas pada perkara yang diperbolehkan oleh syari'at, yakni masalah pendidikan kesehatan dan muamalah. Itu pun masih disertai dengan larangan berkhalwat dan ikhtilat (campur baur).

Ketetapan tersebut tentu tidak hanya berlaku di dunia nyata. Kata kunci infishal (terpisah) juga harus dipegang teguh tatkala interaksi dilakukan di dunia maya.

Karenanya, sangatlah mendesak edukasi mengenai tata pergaulan Islam, yang kemudian didukung oleh suasana kondusif yang dihadirkan oleh negara. Kolaborasi inilah yang nantinya mampu meminimalisir segala kemungkinan terjadinya perselisihan dan cekcok rumah tangga akibat kesalahpahaman.[MO/sr]


Posting Komentar