Oleh: Arin RM, S.Si
"Member TSC"

Mediaoposisi.com- Menuju tahun politik, apapun sering dilakukan demi bisa menarik simpati masa. Seluruh area darat maupun udara melalui dunia maya pun tak luput dari lirikan menarik simpati tadi. Dan demi meraih simpati ini, terkadang nalar sehat tak dimainkan. Apapun bentuk kegiatan yang mampu dilaksanakan pasti dipilih asalkan berpeluang mendapatkan dukungan.

Termasuk diantaranya kegiatan yang kekinian dan disukai banyak orang. Soal sesuai agama aturan Islam ataukah tidak, itu urusan belakangan.

Yang terbaru, dunia maya dikejutkan oleh beredar nya video dangdutan di luar kebiasaan. Dikatakan di luar kebiasaan dikarenakan di panggungnya ada sosok yang justru tidak seharusnya di sana. Sosok tersebut adalah ulama sepuh berinisial KHMA. Tak seharusnya beliau melihat pemandangan biduan berjoget ria. Cukuplah perwakilan partai ataupun kawan sesama calonnya. Begitu seharusnya.

Namun, yang terjadi justru KHMA tetap di panggung. Justru terlihat happy dengan isyarat gerakan tangganya. Ia bertepuk tangan mengikuti irama. Entah apa yang dirasakannya. Terpaksa dengan keadaan itu ataukah bagaimana, yang pasti sebagai muslim layak prihatin atas kejadian di atas
KHMA sangat dikenal luas sebagai sosok ulama.

Bahkan beliau menduduki posisi penting di lembaga Islam di Indonesia. Oleh karenanya, sangat disayangkan apabila sifat keulamaan beliau justru dikikis paksa dengan keadaan seperti di atas.
Apa yang terjadi pada beliau adalah pelajaran bahwa ketika Islam hanya melekat pada sosok hebat saja, belum cukup untuk mengubah kondisi yang tidak islami.

Ibarat ikan sehat diletakkan di air keruh lagi terkontaminasi polusi, maka ikan itu pun jadi terimbas. Agar ikan bisa tetap sehat, maka ikan itu harus dikembalikan lagi ke habitatnya. Air yang jernih.

Habitat ulama adalah lingkungan jernih. Ulama menghebat dan menguat dengan ilmunya di tempat sehat. Kemudian dari sana ia mulai beranjak untuk menularkan apa yang dikuasai kepada masyarakat. Ulamalah yang mengedukasi masyarakat dengan tsaqafah dan pemikiran, termasuk politik Islam.

Edukasi ini yang nantinya akan membuat masyarakat mengetahui keruhnya politik ala demokrasi. Lalu dengan sukarela membuangnya jauh-jauh sehingga lingkungan masyarakatnya jadi jernih kembali.

Teguhnya ulama dengan konsep politik Islam akan membuat marwah ulama terjaga. Terlebih di tahun politik seperti ini. Ulama tak lagi dijadikan stempel legitimasi bagi kepentingan politik tertentu. Pun ulama tak ditarik paksa sebagai pendulang suara di ranah politik praktis.

Entah sebagai calon langsung ataukah berada di balik calonnya. Tak ada lagi suasana saling tarik suara ulama demi menyukseskan politik ala demokrasi.

Tanpa kejelasan politik Islam, ulama dikerat demokrasi hingga tampak berseberangan satu dengan yang lainnya. Bahkan ketika ulama mengadakan pertemuan sekalipun, rawan kepentingan demokrasi ada di sana.

Bahkan aroma saling memanfaatkan untuk kepentingan demokrasi pun terbaca dari  laman m.republika.co.id, yang menuliskan headline "Politikus PDIP: Intinya Ulama Bukan Digelar Atas Nama MUI (14/09/2018). Dari laman yang sama akhirnya justru diberikan bahwa "Ijtima Ulama II Resmi Dukung Prabowo Sandiaga" (16/09/2018).

Oleh karena itu sudah seharusnya ulama kembali kepada posisi awalnya. Ulama adalah pewaris Nabi dengan keilmuannya dan ketakutannya kepada Allah. Sudah saatnya lah ulama kembali mendudukkan marwahnya dengan justru menjadi garda terdepan di tengah umat dalam rangka melindungi umat dari rezim yang cenderung keras terhadap Islam.

Ulama adalah edukator yang perlu kembali masuk ke jajaran dakwah agar umat paham syariat, lalu menjadikannya pedoman dan standar berperilaku. Agar Islam kembali tegak dan memuliakan manusia sebagaimana konsep Islam Rahmatan Lil' Alamin yang dijanjikan.[MO/sr]

Posting Komentar