Oleh: Febri Ayu Irawati
"Siswi SMA Negeri di Kabupaten Konawe"

Mediaoposisi.com-Presiden Joko Widodo, atau yang akrab disapa Jokowi, menerima kunjungan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, di Istana Merdeka, Jakarta. Jokowi mengatakan sebelumnya telah mendapat laporan dari Menteri Perdagangan Indonesia, Enggartiasto Lukita, dan para delegasi bisnis bahwa pihak Amerika ingin bertemu denganya (Tempo.co, 5/8/2018).

Bahkan yang lebih mengejutkan, pada kunjungan kenegaraan yang juga menandai 70 tahun hubungan bilateral ini, sejumlah topik yang diperkirakan akan dikedepankan pemerintah Joko Widodo adalah masalah perdagangan. Masalah itu antara lain mencakup kepastian tindak lanjut negosiasi tambang emas tembaga di Papua, ancaman penarikan preferensi khusus AS terhadap beberapa produk Indonesia, di samping juga kepastian tetap terciptanya perdamaian di kawasan (Bbc.com, 4/8/2018).

Di samping itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, akhirnya menjejakkan kaki di Indonesia pada Sabtu (4/8) usai berkunjung dari Malaysia. Tiba di kantor Kemenlu sekitar pukul 17.58 WIB, Pompeo didampingi beberapa delegasi langsung memasuki ke Gedung Pancasila untuk melakukan pertemuan empat mata dengan Menlu Retno Marsudi (Idntimes.com, 4/8/2018). 

Seperti inilah keadaan negara kita saat ini. Negara yang kaya akan sumber daya alam, namun di kuasai asing. Kini kita telah menyaksikan, penjajahan yang pelan-pelan namun cepat atau lambat akan menguasai sepenuhnya negara ini. Bagaimana tidak, tambang emas yang ada di Papua yang seharusnya penguasa mampu mengelolanya dan sebagian hasilnya diserahkan  kepada masyarakat sekitar atau seluruh masyarakat Indonesia malah ingin di serahkan ke negara asing. 

Padahal jika diuangkan dengan patokan harga emas tiap gram sekarang senilai Rp 500.000,- saja, maka penghasilan yang didapat oleh Negara Amerika itu bisa dihitung-hitung senilai triliyunan. Sungguh jumlah yang sangat fantastis. SDA yang luar biasa. 

Sehingga, hal ini bisa di pastikan dapat menjamin meningkatnya perekonomian AS. Dan dengan kedatangan Menteri Luar Negeri  ini secara tidak langsung pemerintah menjamin keamanan AS untuk menjajah Indonesia secara pemikiran.

Kekayaan alam yang tidak dapat dirasakan rakyat namun dapat dinikmati oleh asing. Memang jika kita lihat semua kebijakan pemerintah terkesan pro terhadap rakyat, padahal jika kita mampu menelisik lebih dalam lagi, bukannya masyarakat yang merasa terjamin namun nyatanya malah asing yang terjaminkan akan segala kebijakan itu. Bukti penguasa Indonesia memiliki posisi dalam rancangan strategis penguatan hegemoni ekonomi, politik dan keamanan AS.  

Padahal jelas, dengan adanya perjanjian-perjanjian ini akan membuat terlepasnya kepemilikan sumber daya alam ke tangan asing dalam hal ini AS sebagai negara penjajah yang memastikan demokratisasi dan Islam moderat tertancap di negeri muslim sebesar Indonesia, hal ini tidak lepas dari penjajahan kapitalis, yang berarti akan melanggengkan hegemoni atau imperialisme kapitalis.[MO/an]

Posting Komentar