Oleh: Rahilati Izka
 "Mahasiswi, Akhtivis Kampus"

Mediaoposisi.com-Kabar duka Lombok belum terobati, peralihan isu dengan menjadikan Asian Games sebagai trending toping menjadikan umat lupa dengan korban gempa Lombok dan sekitarnya. Ditambah dengan aksi kristenisasi oleh para misionaris yang berada di Lombok yang berusaha untuk mengkristenisasi umat Islam di Lombok.

Dilansir dari Nusa News mengatakan Klkorban gempa Lombok yang sebagian besar adalah Umat Islam menjadi target pemurtadan. Di Dusun Loloan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditemukan buku-buku yang berisi materi kristenisasi yang siap dibagikan kepada masyarakat. Salah satu relawan asal kota Mataram, Farhan Abu Hamzah, yang tengah bertugas di Dusun Loloan mengungkapkan, tidak diketahui siapa pengirim buku tersebut namun buku-buku tersebut tergeletak di posko bantuan korban gempa yang berada di kantor dusun. (Nusanews.com)

Tidak hanya berupa buku, upaya kristenisasi juga terdapat dalam paket makanan. Di dalam plastik berisi makanan ringan sengaja diselipkan tulisan-tulisan yang kerap digunakan oleh umat Nasrani. Seperti "Pertolongan Tuhan indah pada waktunya." "Kamu tidak sendiri dalam kesusahan. Allah bersamamu."

Tentu hal diatas dapat mengoncangkan iman para Muslim khususnya korban gempa Lombok. Pernahkan kita terpikir mengapa tidak ada upaya pencegahan dari pemerintah? 
Karena sistem yang diterapkan saat ini ialah Kapitalisme Liberalisme. Pemerintah dalam Kapitalisme tentu tidak akan menanggapi hal ini, karena Kapitalisme Liberalisme  memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk memlakukan sesuatu dengan kebebasan yang sebebasnya, kemudian dibalut dengan Hak Asasi Masunia (HAM) termasuk urusan Aqidah selama hal itu tidak mengganggu kepentingan penguasa. 

Ketika terjadi sesuatu yang menganggu kepentinga penguasa maka HAM seolah dicabut dan para pengganggu ditindak lanjuti dengan cara yang tidak adil. 

Islam mencatat dalam sejarah, bahwa para misionaris juga berusaha untuk memurtadkan Kaum Muslim sepeninggal Rasulullah SAW. Hal ini terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar As-siddiq, dan Khalifah langsung menanggapi isu ini dengan tegas dan keras. 


Dikisahkan dalam buku yang berjudul “Para Penggenggam Surga” karya Syaikh Muhammad Ahmad Isa, bahwa di Jazirah Arab apinya dipicu oleh banyak kabilah, negara, kekaisaran, agama juga ras yang beragam. Ketika kabar itu sampai kepada Abu Bakar, dia merespons keras, lalu bangkit untuk memerangi mereka. Dia telah memahami hakikat kemurtadan tersebut. Oleh karena itu, sahabat yang terkenal lembut dan penuh toleransi ini memandang penanganannya harus dengan tegas dan keras.

Namun, Umar yang walaupun terkenal keras dan tegas berbeda pandangan. Umar tidak setuju untuk memerangi mereka. Dia menolak pandangan Abu Bakar dan memintanya untuk mengampuni mereka yang menolak membayar zakat asalkan mereka masih mengerjakan kewajiban lain.

Umar berkata, “Satukanlah manusia dan berlemah lembutlah kepada orang-orang itu.”

Abu Bakar menjawab seakan dirinya kayu yang terbakar api. “Aku berharap bantuanmu, tetapi engkau mendatangiku dengan pembangkanganmu. Engkau begitu berani pada masa jahiliyah, tetapi menjadi pengecut setelah memeluk Islam. Lalu menurutmu, dengan apa kau harus menyatukan mereka? Dengan syair yang dikarang-karang atau dengan sihir penuh tipu daya?

Tidak, tidak Rasulullah SAW sudah wafat dan wahyu terputus. Demi Allah selama pedang di tangan, aku akan memerangi mereka. Walaupun hanya menolak memberikan seutas tali unta yang dulu pernah mereka berikan kepada Rasulullah SAW.”

Mendengar jawaban tersebut Umar berkata, Bagaimana engkau akan memerangi mereka, sedangkan Rasulullah SAW bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka mengucapkan, ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Siapa yang mengatakannya, harta dan darahnya semua perhitungannya adalah milik Allah.”

“Demi Allah,” kata Abu Bakar. “Akan kuperangi siapa pun yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah haknya harta. Karena itu akau berkata, ‘Kecuali karena sesuatu yang benar.’
“Demi Allah,” kata Umar, “ Aku melihat Allah telah mencerahkan dada Abu Bakar untuk berperang. Maka aku mengetahui bahwa dia benar.”

Begitulah seharusnya pemerintah menaggapi misionaris yang berusaha memasukkan aqidah selain Islam kepada kaum Muslim. Hal ini tentu tidak akan jika akan terjadi jika Islam yang diterapkan diseluruh link kehidupa.

Jika saat ini usaha kristenisasi terus digencarkan maka yang seharusnya bertanggung jawab ialah pemerintah itu sendiri. Negeri yang mayoritas Muslim akan selalu menjadi target misionaris untuk mengkristenisasi umat. Umat harus sadar dan berupaya sekuat tenaga untuk tegaknya Islam di muka bumi ini, agar hal ini tidak terjadi lagi.[MO/an]


Posting Komentar