Oleh: Tri S, S.Si
"Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi"


Mediaoposisi.com-Politik menjadi sebuah perkara yang mendorong banyak orang untuk memberikan perhatian padanya dewasa ini. Jika angin politik berhembus, semua telinga ingin mendengarnya dan semua mulut ingin berkomentar.

Permasalahan politik sudah dianggap satu hal yang urgen dalam kehidupan, maka dimanapun dan kapanpun orang siap mendiskusikannya; di kantor, warung kopi, bahkan di masjid sekalipun. Tribunnews.com (30/5/2016).

Sayangnya, politik sering dipahami hanya sebatas alat untuk meraih jabatan di pemerintahan. Sehingga apabila ada tokoh-tokoh agama yang berpolitik dianggap tidak wajar.

Padahal politik itu sangat luas maknanya. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berpolitik; seorang penjual grosiran, dia akan berpolitik bagaimana dagangannya banyak laku, yang disebut dengan politik ekonomi.


Seorang kepala keluarga yang keluar rumah mencari kebutuhan keluarga, dia juga berpolitik bagaimana caranya kebutuhan keluarga terpenuhi. Seorang redaktur instansi pendidikan dia akan berpikir bagaimana caranya agar tempat belajarnya banyak diminati orang, yang disebut dengan politik pendidikan.


Seorang ulama, ketika mendapatkan sebuah permasalahan keliru yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat di suatu tempat, ia ingin membenarkannya, maka ia berpikir bagaimana caranya agar apa yang ia sampaikan nanti dipercaya oleh mereka disebut dengan politik syariat (siyasah syar’iyah).

Dalam Islam ulama memegang peran penting dalam mensejahterakan manusia. Ulama diharapkan mampu menyusun konsep-konsep menuju kebahagiaan dunia akhirat yang kemudian pemerintah menyuruh rakyat untuk mengaplikasikannya.

Semua konsep-konsep yang disusun oleh ulama itu disebut dengan politik ulama. Namun apabila konsep-konsep itu para ulama ingin menerapkan sendiri dalam kehidupan masyarakat, yang mengharuskan dia mendapatkan jabatan penting dalam pemerintahan, disebut dengan ulama berpolitik.

Islam merupakan sebuah agama yang mengatur semua aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengatur hubungan hamba dengan Rab-nya, tapi juga mengatur hubungan sesama manusia. Apapun masalah yang dihadapi manusia baik yang berkaitan dengan dunia atau akhirat mereka, Alquran dan hadis menjadi pedoman bagi kehidupannya. 

Karena itu Rasulullah sawdalam sebuah hadis menegaskan:”Aku tinggalkan untukmu dua perkara, siapa saja yang berpegang teguh pada keduanya maka tak akan sesat selama-lamanya, yaitu Alquran dan Hadis.”

Dalam Alquran dan Hadis terdapat beragam solusi untuk mewujudkan kebahagiaan,

ketentraman, dan kesejahteraan dalam kehidupan. Akan tetapi tidak semua orang mampu menggali pesan dalam Alquran dan hadis yang masih bersifat konsep, maka butuh kepada para ulama. Merekalah yang mampu menguak makna-makna tersirat (implisit) dalam setiap ayat Alquran. 

Merekalah yang mengorbitkan hukum, cara hidup yang baik berdasarkan tuntunan Alquran dan hadis tadi. Tugas ulama bukan hanya sekedar memahami dan menggali pesan-pesan yang dikandung dalam Alquran dan hadis. Tapi juga memikirkan bagaimana sebuah hukum bisa teraplikasi dalam sebuah komunitas masyarakat. Bagaimana cara menerapkan sebuah hukum yang akan berat diterima oleh sebuah masyarakat yang masih jauh dari agama atau baru masuk Islam. Yang semua ini dinamakan dengan politik ulama dalam mensejahterakan kehidupan manusia.

Ketika sekelompok manusia berkelahi atau bertikai karena sebuah permasalahan yang mereka hadapi, atau karena satu hal yang sedang mereka perebutkan, di sini para ulama berperan sebagai pemberi solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi umat. Solusi yang dipikirkan ulama untuk membuat dua kelompok yang sedang rebut tadi agar berdamai dinamakan dengan politik ulama.

Islam dan politik adalah dua hal yang integral. Oleh karena itu, Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara, sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja.

Namun, Islam juga mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kedzaliman oleh penguasa.


Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barang siapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).”

Maka jika ada yang mengatakan bahwa Islam tidak usah berpolitik, adalah salah besar

karena berpolitik adalah hal yang sangat penting bagi kaum muslimin. Jadi kita harus memahami

betapa pentingnya mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syari’at Islam.

Terlebih lagi memikirkan/memperhatikan urusan umat Islam hukumnya fardhu (wajib). [Mo/an]


Posting Komentar