Oleh: Rahmawati Ayu K., S.Pd (Praktisi pendidikan di Jember)

Mediaoposisi.com-"Melalui usulan kebijakan, perguruan tinggi harus menjadi lokomotif. Termasuk di Revolusi Industri 4.0 saat ini, dan di pertumbuhan ekonomi digital," tegas Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa di acara Inspiring Lecture Series Studium General Sinergi dan Desain Kebijakan Publik yang Memberdayakan dan Berkeadilan Sosial di Gedung Soetardjo Universitas Jember (Unej) awal agustus lalu. Khofifah membeberkan tentang ekonomi digital, termasuk yang akan diejawantahkan di Jatim. Dia menegaskan perguruan tinggi, seperti Unej, harus menjadi lokomotif perubahan dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pengentasan kemiskinan tidak hanya bisa dilakukan oleh pemangku kebijakan. Perguruan tinggi bisa dilibatkan, salah satunya melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Khofifah optimistis, melalui KKN tematik secara berkala, mampu mengantar sebuah pedesaan keluar dari angka kemiskinan. (www.tribunnews.com) 

Pemuda di Era Revolusi Industri 4.0

Seperti kita ketahui, dunia kini telah memasuki era digitalisasi atau yang dikenal sebagai era revolusi industri 4.0. Era ini menekankan fenomena disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut, dunia kampus perlu menyiapkan para lulusannya guna memasuki era digitalisasi ini. Mahasiswa mewakili kalangan muda. Dalam sejarah bangsa, pemuda senantiasa mengambil peran menentukan. Pada kilasan sejarah Indonesia di masa kolonial, kaum muda dari berbagai pelosok nusantara menyemai benih persatuan dan kesatuan dalam bingkai “Sumpah Pemuda”. Di setiap zaman, peran pemuda memiliki dampak nyata. Mulai dari inisiator persatuan nasional, mendesak kemerdekaan bangsa, hingga menggulingkan penguasa.

Generasi muda dalam masyarakat menempati posisi sentral dan strategis. Semua bangsa di dunia mengakui semangat pemuda sebagai sumber daya bangsa yang mampu mengerjakan hal-hal luar biasa termasuk sebagai faktor perubahan yang fundamental. Maka investasi terbesar yang harus dilakukan suatu bangsa demi kemajuan dan kejayaan di masa mendatang adalah pemuda. Tegasnya, jargon “Pemuda adalah harapan bangsa” bukan hanya mitos atau retorika, melainkan sebuah keniscayaan sejarah. Sesungguhnya di tangan pemuda terletak nasib umat dan dalam semangat serta keberaniannya terletak hidup bangsa. Maka, di atas pundak pemuda pulalah kelangsungan nasib dan bangsa ini dipertaruhkan.

Kampus Menjawab Tantangan Zaman 

Revolusi industri 4.0 (generasi keempat) merupakan tantangan besar untuk dunia kampus saat ini. Dengan melibatkan kampus dalam pengentasan kemiskinan dalam revolusi 4.0 dikhawatirkan kampus hanya dijadikan lokomotif ekonomi penopang kapitalisme. Sebab, secara nyata kita harus sadar bahwa pola pikir Barat dalam memandang ilmu yang diperoleh dalam proses pendidikannya adalah untuk kepentingan ekonomi dan eksistensi peradaban mereka. Pengetahuan sebagai bagian dari self value yang merupakan faktor penting dari fungsi produksi, selain faktor lain yang secara tradisional menjadi faktor produksi, yakni labour dan capital. Adanya perkembangan pengetahuan di masyarakat merupakan salah satu sinyal atau indikator terjadinya pertumbuhan ekonomi. (Romer dan Lucas dalam Audretsch dan Keilbach; 2006).

Lebih lanjut, PBB (2011) memberikan penekanan serupa, ‘educational systems to be more responsive to the changing needs of economies and societies, and labour markets in particular.’ (World Youth Report, 2011).

Barat menyadari potensi besar pemuda menuju perubahan. Adanya investasi besar-besaran dalam bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia hingga pemberdayaan pemuda dalam pengentasan kemiskinan, sejatinya adalah strategi Barat untuk mengalihkan perjuangan gerakan pemuda akan persoalan kerusakan dan kemiskinan yang sebenarnya ditimbulkan tatanan kapitalisme sekuler.

Dunia kampus harus menjawab tantangan ini dengan menjadi lokomotif perubahan. Ia tidak boleh terjebak dalam hegemoni Barat atas dunia saat ini dengan ideologi kapitalisme sekulernya. Karena hanya akan menghasilkan peradaban yang minus nilai-nilai agama. Hal ini hanya bisa diraih dengan mewujudkan perubahan hakiki, yakni didasari pemikiran mendasar yang berasal dari wahyu Illahi. Kebangkitan ini terbukti pernah dialami umat Islam dalam sejarahnya yang panjang selama 13 abad menjadi mercusuar dunia. Saat itu umat Islam menjadi negara adidaya di dunia.

Maka partisipasi kampus dalam pengentasan kemiskinan, bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika partisipasi tadi diberikan justru malah akan melestarikan sistem kapitalisme. Agar menjadi bangsa yang unggul, dunia kampus sebagai lokomotif perubahan harus mengajak masyarakat untuk kembali mewujudkan wahyu ilahi dalam kehidupan, bukan kapitalisme. Patut kita renungi firman Allah SWT:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-
amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”(QS. An Nuur:55).[MO/dr]

Posting Komentar