Oleh  :Tety Kurniawati 
" Anggota Akademi Menulis Kreatif"

Mediaoposisi.com-Sejarah mencatat bahwa tiap perubahan yang terjadi di bumi pertiwi tidak lepas dari kiprah para pemuda. Runtuhnya orde lama dan orde baru sebagai contohnya ditandai dengan terjadinya demonstrasi besar-besaran masyarakat yang dipelopori oleh pemuda. Maka tak berlebihan kiranya jika pemuda yang di dalamnya termasuk pula mahasiswa. Dianggap sebagai tonggak peradaban bangsa. 

Jika kampus dianggap sebagai gudang pemikiran, pusat pergerakan, dan tempat menyemai bibit unggul peradaban. Maka mahasiswa adalah pelaku utama proses pembelajaran dan penempaan diri yang merupakan cikal bakal terciptanya peradaban tangguh masa depan.

Ironisnya. Kini potensi luar biasa kampus tersebut justru dibenturkan dengan isu terorisme dan radikalisme. Hingga pada musim penerimaan mahasiswa baru Kepala BNPT pun mengunjungi perguruan-perguruan tinggi untuk membekali mahasiswa dan segenap civitas. Kali ini, Kepala BNPT mengunjungi Universitas Widyatama Bandung untuk memberikan pembekalan resonansi kebangsaan serta bahaya radikalisme dan terorisme ( bnpt.go.id 12/9/2018).

Setelah sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan penentuan pemimpin di perguruan tinggi negeri atau rektor yang diharuskan dipilih presiden. Hal ini ditujukan untuk membendung ideologi selain Pancasila yang menyusup dalam perguruan tinggi ( m.detik.com 17/6/2018).

Kini, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, akan segera mengeluarkan peraturan tentang larangan kampus tidak boleh untuk kegiatan politik praktis. Dikeluarkannya peraturan ini karena sebentar lagi akan dilangsungkan kampanye Pilpres ( m.detik.com 15/9/2018)

Kesemua tindakan diatas menunjukkan keseriusan negara dalam gerakan deradikalisasi kampus. Dengan dalih menjaga marwah kampus sebagai lembaga pengembangan akademik. Kebebasan berekspresi serta potensi strategis  mahasiswa sebagai agent of change dan agent social of control  pun diamputansi. Seiring kiprahnya di dunia politik yang dibatasi.

Kampus yang harusnya menjadi ladang subur tumbuhnya berbagai pemikiran tercederai dengan hilangnya hak mahasiswa menyalurkan aspirasi. Tempat mengasah potensi strategis mahasiswa itupun sirna. Kala nalar kritisnya terhadap realitas kehidupan rakyat terbungkam dalam aturan akademika.

Terang dan jelas, pembungkaman civitas akademika ditujukan untuk memangkas mahasiswa yang dinilai kritis. Padahal nyatanya aksi menyuarakan aspirasi serta oposisi politik mahasiswa justru merupakan bagian dari proses pembelajaran yang tidak akan diperoleh dari bangku perkuliahan.
Inilah wajah asli demokrasi.

Kapitalisme yang menjadi ruh demokrasi meniscayakan tereduksinya kebebasan politik rakyat. Sebaliknya kebebasan politik harus tunduk pada kepentingan para pemilik kapital. Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Karl Marx, bahwa dalam negara demokrasi-kapitalis, negara di kontrol oleh logika ekonomi kapitalis yang mendiktekan keputusan politik haruslah menguntungkan pihak kapitalis. Alhasil, pembungkaman rakyat khususnya mahasiswa jadi konsekuensi tak terhindarkan atas penerapan demokrasi.

Sikap otoriter birokrasi tersebut cepat atau lambat akan menghancurkan identitas mahasiswa. Hingga ancaman terhadap keberlangsungan generasi ideal pembangun peradaban ini harus disingkirkan. Kebangkitan mahasiswa dilain sisi harus terus diupayakan. Budaya-budaya barat seperti individual, hedonis dan liberal yang ikut berperan menghanyutkan identitas mahasiswa harus dikubur dalam-dalam. Diganti dengan sistem pemikiran dan pergaulan luhur yang jauh dari kehinaan.

Islam merupakan sistem peraturan hidup yang sempurna. Pemikiran Islam akan mengantarkan mahasiswa kembali menemukan identitasnya. Maka mempelajari Islam secara ideologis adalah kewajiban yang tak boleh tertunda. Termasuk menjadikannya sebagai mainstream pemikiran dan tindakan dalam menyikapi setiap persoalan kehidupan.


Lebih dari itu, pemikiran politik Islam akan melahirkan mahasiswa-mahasiswa beridealisme tinggi. Mereka berjuang semata mengharap ridho Illahi. Semangat beramar ma'ruf nahi mungkar pun mengakar dan menjadi jati diri. Hingga segala pembungkaman dan pengkerdilan kebebasan politik, justru jadi energi tuk terus menyampaikan kebenaran hakiki. Saat itulah kampus pencetak intelektual unggul yang faham akan agama akan terealisasi.[MO/an]

Posting Komentar