Oleh: Meti Nur Hidayah, S.Pt
"Komunitas Muslimah Peduli Generasi Brebes"

Mediaoposisi.com-Dunia industri tengah memasuki era baru yang disebut Revolusi industri 4.0. Tak hanya ramai jadi perbincangan dunia, tapi gaung soal industri generasi keempat ini juga terus dibahas  di Indonesia. Apalagi sejak Presiden Joko Widodo meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0.

Menuju Revolusi Industri 4.0 atau era digital maka keberadaan dan ketelibatan perempuan dinilai sangat potensial dalam mengembangkan industri ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa dan matematika (Science, Technology, Engineerng and Mathemathics/STEM).

Sebagaimana yang disampaikan oleh Indonesia Country Manager di Investing in Women menyebut bahwa keterlibatan peran perempuan secara tidak langsung berpotensi meningkatkan perekonomian negara. (https://m.katadata.co.id)

Menteri Pemberdayan Perempuan dan Perilndungan Anak, Yohana Yembise juga menegaskan bahwa perempuan berpotensi untuk membangun bangsa ini, oleh karena itu sangat perlu memberikan akses bagi perempuan untuk berpartisipasi di segala bidang pembangunan. Perempuan harus diberikan kesempatan untuk melakukan kontrol terhadap proses pembangunan.

Dengan demikian kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dapat terwujud dan pembangunan dapat berjalan. Dan salah satu cara efektif dalam meningkatkan produktivitas Indonesia adalah melalui pemberdayaan perempuan terutama dalam bidang ekonomi. (https://www.kemenpppa.go.id)

Upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di era digital menjadi fokus pembahasan dalam gelaran bergengsi Temu Nasional Kongres Wanita Indonesia ke-90 dan Sidang Umum International Council of Women (ICW) ke-35 di Yogyakarta.

Sisi yang lain, Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi digital pada tahun 2020. Dan pada tahun 2050 peluang ekonomi digital akan mencapai nilai USD 150 milyar per tahun. Namun tantangan yang dihadapi bagi Indonesia adalah memperkecil bias gender dalam pemanfaatan digital, khususnya partisipasi perempuan dalam fintech.

Maka berbagai upaya akan dan terus dilakukan oleh pemerintah demi terwujudnya tujuan global yaitu mewujudkan kesetaraan gender demi tumbuhnya ekonomi. Kebijakan yang pro-perempuan, kesempatan yang sama untuk perempuan, membantu meningkatkan kemampuan perempuan, dan menyediakan lapangan kerja yang mendukung bagi perempuan terus digulirkan oleh pemerintah.

Perempuan Target Tapitalisme

Perempuan dinilai memilki peran penting dalam perekonomian, politik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dari data bahwa perempuan memiliki 35% usaha kecil dan menengah, yang mana jenis usaha inilah yang banyak memajukan perekonomian Indonesia (https://www.dev-cafe.org).

Dalam acara talk show Sidang Umum ke-35 International of Council of Women (ICW), Diretur Consumer Service PT Telekomunikasi Indonesia , Siti Choiriana menyebut saat ini 63% dari 5 juta pelaku ekonomi didominasi kaum perempuan.(https://antaranews.com)

Melihat betapa strategis peran perempuan yang digadang-gadang sebagai motor penggerak dan mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di era digital, maka menjadi hal serius yang harus dikritisi oleh kaum perempuan dan masyarakat. Atas nama kemajuan kaum perempuan diberdayakan demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Perempun “dipaksa”  bekerja dengan dalih kesetaraan gender yang telah dikampayekan secara global.

Negara Indonesia pun dipaksa mengikutinya, demi tercapainya target global.

Dan semua itu diarusglobalkan oleh Barat demi pertumbuhan ekonomi dunia terlebih di era ekonomi digital ini. Perhitungan yang dilakukan oleh Mc Kinsey, yang mengibaratkan tanpa peningkatan pemberdayaan perempuan, dunia akan mengalami kerugian sebesar US $ 4,5 triliun dalam PDB tahunan pada tahun 2025.

Sesungguhnya ini adalah bentuk eksploitasi perempuan dalam bidang ekonomi karena dalam kacamata kapitalisme hitungan selalu dinilai dalam bentuk materi saja. Beban ganda yang harus ditanggung oleh perempuan yaitu sektor domestik dan juga dituntut pada sektor publik tidaklah menjadi perhatian. Perempuan menjadi mesin kapital yang tuntut menghasilkan pundi-pundi pendapatan dan kekayaan.Bagaimana pendapat pembaca ? [MO/an] 


Posting Komentar