Oleh Siti Wahyuni
Aktivitis muda, pengamat sosial, pengajar.

Mediaoposisi.com-Perempuan selalu menjadi sorotan menarik dari zaman ke zaman. Baik sebelum Islam datang, pun ketika islam dan aturannya mulai ada di kehidupan. Bahkan kini banyak lembaga swasta setara nasional dan internasional yang mengatur urusan perempuan.

Namun sayang, kini kepedulian itu berubah haluan. Diam-diam dunia memperlakukan perempuan bak sapi perah. Lebih parah. Dunia tak segan mengeksploitasi fisik, ide bahkan fitrah perempuan demi kepentingan ekonomi global.

Seperti yang dikatakan oleh McKinsey perusahaan manajemen konsultan terkemuka yang berpusat di New York, Amerika mengatakan bahwa ekonomi global akan merugi $ 4.5 US dolar pada PDB tahun 2025 (World Economy Forum, 10/09/2018). Dan di sambut baik oleh Indonesia dengan menjadi tuan rumah pada ICW ke-35 di Jogjakarta (VOAIndonesia, 12/09/2018).

Memperparah eksploitasi perempuan dengan mengangkat isu kesetaraan gender

Fakta yang harus kita ingat adalah ketika Islam belum hadir dipermukaan, perempuan memang selalu menjadi bulan-bulanan peradaban. Misalnya, seperti dianggap sebagai alat pemuas nafsu. Bahkan menjadi alat waris turun temurun yang bisa dipakai oleh anaknya. Kelahirannya bahkan menjadi aib terbesar bagi keluarganya.

Namun keadaan menjadi berubah ketika Islam datang membawa rahmat dengan aturan yang diterapkan dalam kehidupan. Peradaban Islam mengangkat harkat martabat perempuan. Dia menjadi mulia, bahkan peranannya tak kalah penting dalam mengubah wajah dunia menjadi lebih baik.

Allah berikan gelar mulia padanya sebagai Ummu warobbatul bait. Madrasah pertama seorang anak adalah ibunya. Dari rahimnya terkandung anak-anak sehat dan cerdas. Dari didikannya lahirlah manusia hebat seperti Imam Syafi'i, Muhammad Al-Fatih, Ibnu Katsir, dll.

Pun dalam urusan kemsyarakatan disebut ummu aijal, dimana, "Perempuan adalah tiang negara, bila
perempuannya baik maka baiklah negaranya. Dan bila buruk perempuannya maka buruklah negaranya." Lantas yang membuat baik dan buruknya perangai perempuan adalah keterikatan mereka pada aturan penciptanya. Tolak ukur bahagia mereka dalam menggapai ridho Allah selaku tuhanNya.

Allah kemudian menerapkan aturan bahwa bekerja bagi perempuan adalah mubah, dimana tidak mendapat pahala dan tidak juga mendapat dosa. Bukankah peran ini sungguh merugikan dirinya dibanding kewajibannya menjadi istri dan ibu bagi masa depan anak-anaknya. Akan terlewat peran cerdasnya dalam mengurus kemasyarakatan?

Maka seruan-seruan dunia yang mengarahkan peran perempuan untuk bekerja menghasilkan dolar adalah peran terendah. Sebab Allah tidak memandang wanita dari penghasilannya, namun dari ketakwaannya. Allah memberikan hadiah terbaik padanya atas karyanya dalam menyebarkan Islam dan mendidik sosok-sosok yang akan melanjutkan kepemimpinan dimasa depan.[MO/dr]

Posting Komentar