Oleh: Erik Sri Widayati
(Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com- Kabar ‘tak sedap muncul dari Lumajang. Akhirnya Polres Lumajang berhasil mengungkap kasus foto bugil yang dilakukan 3 orang pelaku bermodus jasa fotografi. Sebelumnya warganet sempat dihebohkan dengan foto yang beredar di facebook tentang aksi seorang fotografer yang mengarahkan model wanitanya untuk berpose bugil.

Menurut pengakuan pelaku hingga kini telah melakukan pemotretan tanpa busana kepada sekitar 45 anak dibawah umur selama 3 bulan. (Jatimtimes, 23/08/2018).

Demi memuluskan aksinya, pelaku mengelabuhi korban dengan iming-iming akan menjadikannya model, awalnya difoto dengan berpakaian lengkap, kemudian diminta lepas satu persatu hingga tanpa busana. Fakta ini menambah daftar panjang eksploitasi seksual yang kerap terjadi di masyarakat.

Kasus ini terungkap setelah beberapa korban melapor karena merasa tertipu. Namun mungkin akan lain ceritanya jika para korban benar-benar diorbitkan menjadi model, dipastikan tidak akan ada pelaporan.

Faktor Penyebab Maraknya Eksploitasi Seksual
Pertama, faktor ketahanan keluarga yang saat ini didominaasi oleh paham kapitalis menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan keluarga, sehingga keluarga menjadi miskin visi.

Standar kebahagiaan adalah diraihnya materi sebesar-besarnya dalam bentuk banyak uang, gelar, kedudukan yang tinggi, dipuja-puja banyak orang, dan hal lain yang sifatnya materi. Para remaja tergiur untuk menjadi terkenal dengan jalan pintas.

Di sisi lain, nilai-nilai agama semakin terkikis dan menjauh dari keluarga oleh paham sekuler. Agama dihayati hanya sebatas ibadah ritual belaka dan kehilangan ruhnya sebagai pedoman dan peraturan hidup. Maka ‘tak heran apabila keluarga kehilangan orientasi hidupnya sehingga nasehat amar ma’ruf nahi munkar antara orang tua dan anak menjadi semakin langka. Hubungan antara orang tua dan anak menjadi kendor.

Kedua, faktor edukasi public atau kontrol masyarakat yang harusnya mampu menguatkan suasana keimanan dan ketaatan masyarakat terhadap Islam dan hukum-hukumnya sudah tercabuti oleh sistem kapitalis. Dalam sistem kapitalis, edukasi public justru menjadi sarana penyebaran virus materialis dan hedonis.

Gaya hidup yang mengedepankan kesenangan dan kenikmatan materi ini adalah sarana bagi kaum kapitalis untuk memastikan barang-barang produksi mereka laris manis di pasaran.
Permasalahannya, konsumen edukasi public ini mayoritas adalah kaum remaja. Mereka melahap berbagai informasi tanpa penyaringan. ‘

Tak ayal, terjadilah perusakan secara massif terhadap kepribadian mereka. Untuk bisa memenuhi biaya tinggi dalam mengikuti gaya hidup modernisme saat ini, sebagian remaja putri ‘tak segan “melacurkan diri”, sementara laki-laki banyak yang terjebak dalam dunia kriminalitas.

Ketiga, faktor sistem pendidikan sekuler yang diterapkan dalam institusi pendidikan saat ini. Kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum sekuler. Artinya Islam hanya dipahami sebagai agama yang mengatur urusan akhirat saja, bukan sebagai sistem kehidupanyang mengatur dan mensolusi atas setiap persoalan kehidupan manusia.

Terkikisnya agama dalam kehidupan membuat orientasi mencari kesenangan dengan cara apapun hingga mengorbankan kehormatan orang lain pun ‘tak mengapa.

Kurikulum pendidikan menjadi sarana menyebarluaskan paham-paham sesat arahan barat, seperti pluralisme dan liberalisme. Apabila pemikiran semacam ini sudah terinstal dalam benak para pemuda, akan mudah agi barat untuk menancapkan hegemoni ideologinya di negeri terbesar ini. Islam hanya dijadikan sebagai baju luar saja, namun pemikiran yang diemban adalah pemikiran barat.

Solusi Syar’i
Maraknya eksploitasi seksual terjadi dalam sistem yang menghalalkan segala cara, mengagungkan kebebasan dan mencampakkan peran agama daam mengatur kehidupan. Ini berbeda dengan Islam.

Islam memiliki tatanan kehidupan yang khas yang mempu menghentikan perilaku eksploitasi seksual secara tuntas dan mecegah kemunculannya bukan sekedar yang korbannya merasa tertipu. Islam memiliki solusi yang dilandaskan pada nash-nash syariah yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sistem Islam telah diterapkan dalam sistem pemerintahan Islam sejak masa Rsulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan masa kekhilafahan sesudahnya.

Penyelesaian membutuhkan langkah yang terintegrasi antar berbagai komponen, baik keluarga, sekolah (pendidikan), masyarakat dan negara. Seluruh komponen ini membutuhkan penyamaan persepsi tentang standar yang diambil sebagai solusi. Kebutuhan untuk menyelesaikan masalah secara tuntas harus dikembalikan pada Islam.

Pertama, Islam telah memerintahkan kepada kepala keluarga untuk mendidik anggota keluarga dengan Islam agar jauh dari api neraka (tidak melakukan kemaksiatan) (Lihat: QS. At-Tahrim [66]: 6). Sehingga mengarahkan makna kebahagiaan hanya meraih ridha Allah SWT. Mencari harta dan kesenangan pun hanya pada yang Allah ridhai.

Kedua, sebagai tindakan preventif, Islam memiliki seperangkat solusi, diataranya: (1) Islam telah menetapkan hukum-hukum yang rinci seputar pergaulan, menutup aurat, ijin keluar rumah kepada orang tua/walinya sehingga orang tua akan mengetahui kemana anak gadisnya pergi. (2) Islam mengharuskan negara memberikan pendidikan yang layak yang sesuai dengan syariat sehingga seseorang mampu bekerja sesuai keahlian dan bidang yang halal. Negara memberikan sanksi tegas bagi pelanggarnya.

Penutup
Memang selama sistem kapitalis yang mendominasi warna negara ini tidak dihapuskan, maka selama itu pula semua persoalan kerusakan generasi yang terjadi akan bisa diselesaikan secara tuntas. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mencampakkan sistem kapitalis-sekuler dan kembali pada pangkuan sistem Islam yang telah Allah jadikan sebagai solusi bagi setiap permasalahan kehidupan.[MO/sr]


Posting Komentar