Oleh: Ayu Mela Yulianti, Spt

Mediaoposisi.com-Merah padamlah wajah lelaki itu, berita yang tidak disukainya singgah ditelinganya. Isterinya melahirkan bayi perempuan. Serta merta dikuburkan bayi perempuan itu hidup-hidup . Dibenamkan masuk kedalam tanah.

Lain waktu, ketika sang ayah telah meninggal, diwariskanlah sang ibu kepada anak laki-lakinya. Atau ketika seorang wanita mengalami haid/menstruasi, dia langsung diasingkan disatu tempat, hingga tidak diperkenankan untuk bersosialisasi dengan siapapun hingga masa haid berakhir.

Lebih ngeri lagi di Eropa pada masa kegelapan. Para laki-laki selalu begidik jika melihat wanita. Mereka bingung jika melihat wanita, seringkali timbul pertanyaan dibenak mereka, makhluk apakah yang bernama wanita itu ?, apakah masuk kedalam golongan makhluk halus ataukah golongan hewan.

Inilah pandangan dan perlakuan yang diterima perempuan saat zaman jahiliyah. Perempuan tidak berharga sama sekali apalagi dimuliakan. Hari ini pun, kejadian dan perlakuan sadis kembali diterima oleh perempuan. Wajibnya mereka menafkahi diri sendiri, bagaimanapun kondisinya. Terjadi eksploitasi perempuan. Hingga banyak kasus pelecehan yang menimpa perempuan. Dari mulai kejadian seorang isteri yang dijual kehormatannya oleh suaminya untuk mendapatkan uang. Eksploitasi kecantikan perempuan sebagai bintang iklan produk konsumsi, dan masih banyak lagi kasus memelas dan menghinakan yang menimpa perempuan.

Pandangan dan perlakuan terhadap perempuan jaman jahiliyah sebelum Islam turun dan saat ini ketika Kekhilafahan Islam runtuh adalah sama. Memandang rendah perempuan sebagai sosok yang lemah dan tidak berdaya, jauh dari kategori mulia. Apa sebab? Karena sistem hidup yang dipakainya adalah sama, yaitu sistem hidup yang berasal dari hawa nafsu manusia yaitu sistem hidup jahiliyah dan sistem hidup sekuler kapitalis yang sangat menyengsarakan kehidupan perempuan dan manusia seluruhnya. Sistem hidup yang hanya mengandalkan akal semata ketika menghadapi permasalahan hidup dan menegasikan aturan agama dalam mencari solusi kehidupan.

Islam Memuliakan Perempuan

Jauh sebelum hari ini datang, ketika Allah SWT mengangkat Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabi dan RasulNya. Semua kebiasaan jahiliyah dibalik keadaannya seratus delapan puluh derajat oleh Islam. Islam begitu memuliakan perempuan. Hal ini terlihat sangat jelas dalam tata aturannya sebagai berikut :

pertama, Islam telah melarang mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Bagi pelakunya diganjar hukuman yang setara dengan menghilangkan nyawa manusia tanpa hak. Sangat berat.

Kedua, Islam melalui syariatNya, melarang manusia untuk menjadikan ibu kandung menjadi bagian dari benda yang diwariskan kepada anak laki-laki. Sebaliknya, Islam telah memberikan hak menerima waris bagi seorang janda yang ditinggal mati suaminya, dari harta peninggalan suaminya.

Ketiga, Islam akan memelihara kehidupan seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, dengan
memberikan kewajiban nafkah kepada anak laki-lakinya, ayahnya, saudara laki-lakinya dan seterusnya yang disebut jalur nafkah. Hingga negarapun diberikan kewajiban oleh Islam untuk memenuhi nafkah perempuan yang tidak bersuami yang terputus jalur nafkahnya. Islam tidak mewajibkan perempuan untuk menanggung nafkahnya sendiri, karenanya bekerja untuk mencari nafkah bagi perempuan adalah mubah/boleh saja, selama tidak melalaikan kewajibannya sebagai perempuan dan manusia.

Keempat, Islam telah mewajibkan agar menjaga kehormatan perempuan dengan memberi kewajiban
kepada mereka menutup aurat. Tersebab sayangnya Islam kepada perempuan. 

Kelima, Islam telah mewajibkan menjaga keamanan bagi perempuan dengan sebuah kewajiban agar
ditemani oleh mahramnya jika melakukan perjalanan dengan jarak tempuh perjalanan lebih dari 24 jam.

Kenam, Islam begitu memuliakan perempuan, dengan membolehkan perempuan untuk ikut belajar bersama Rasulullah SAW dan para sahabat. Kebiasaan baik ini dilanjutkan oleh para Khalifah dengan
memberikan hak menuntut ilmu dilembaga-lembaga pendidikan.

Ketujuh, Islam memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada perempuan yang menyusui anaknya. Dengan memberikannya tunjangan Hal ini dicontohkan antara lain oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Kedelapan, Islam mengakui kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan sebagai manusia. Dengan menerima kesaksian perempuan dan pendapat perempuan. Hal ini dibuktikan dimasa kepemimpinan Umar bin Khaththab yang menerima pendapat yang diajukan oleh seorang perempuan yang keberatan
dengan keputusan Khalifah Umar bin Khattab tentang mahar.

Kesembilan, Islam telah memberikan kewajiban utama dan pertama bagi perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga juga menjadikan perempuan sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Kesepuluh, Islam tidak mewajibkan perempuan untuk pergi berjihad kemedan perang. Akan tetapi Islam hanya mewajibkan jihad kepada laki-laki dewasa dan anak-anak yang telah baligh. Dan masih banyak lagi tata aturan dalam syariat Islam yang dijalankan dari zaman Rasulullah Muhammad SAW, khulafaur rasyidin hingga para Khalifah setelahnya.

Hasilnya banyak menebarkan kebaikan bagi umat manusia. Dengan sebenar-benarnya kebaikan. Semua peran dilaksanakan sesuai dengan maksud penciptaannya. Sehingga dihasilkan kegemilangan peradaban kehidupan manusia, dengan peradaban yang tinggi dan mulia. Darah, harta dan kehormatan manusia terjaga, dengan sebaik-baiknya penjagaan. Baik laki-laki maupun perempuan.

Maka jika hari terlalu banyak asumsi yang mendeskreditkan dan mempertanyakan peranan perempuan dalam membangun peradaban manusia. Maka tanyalah kembali, sistem hidup yang dipakainya hari ini, yaitu sistem hidup sekuler kapitalis yang banyak menyumbangkan ketidakadilan dan eksploitasi perempuan. Sesuaikah dengan fitrah manusia, menenangkan hati dan menentramkan jiwa?

Karenanya, jika sistem hidup sekuler kapitalis sungguh tidak mampu memuliakan perempuan. Maka,
saatnya kembali menerapkan syariat Islam kaffah, yang dijamin pasti akan memuliakan perempuan dan menempatkan perempuan sebagai pondasi penting pembangun kecemerlangan peradaban manusia.[MO/dr]

Posting Komentar