Oleh: Nur Syamsiyah
"Mahasiswi Ekonomi Syariah UIN Malang"


Mediaoposisi.com-Rupiah kembali terseok. Dolar Amerika Serikat (AS) menghantam rupiah pada level Rp 15.029. Seperti dikutip TribunWow.com dari laman Kursdollar.net, nilai tukar rupiah tembus mencapai Rp 15.029 per dolar AS pada pukul 19.20 WIB di hari Selasa (4/9).

Sebelumnya, mengutip data perdagangan Reuters, Selasa (4/9), hingga pukul 11.54 WIB, dolar AS berada pada posisi tertingginya di Rp 14.897. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap doar AS ini diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2018.

Secara year to date (ytd) atau dari awal tahun hingga saat ini, dolar AS sudah menguat terhadap rupiah sebesar 9,8 persen. (Kumparan.com, 4/9/2018)

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah memang mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa tembus Rp 15.000 hingga akhir tahun jika tekanan terus berlanjut. Namun untuk mengatasi hal tersebut, Piter mengatakan, Bank Indonesia (BI) akan secara penuh menggunakan seluruh instrumen untuk mengendalikan rupiah, salah satunya adalah penggunaan tingkat suku bunga.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bima Yudhistira menilai pelemahan rupiah ini sudah di luar fundamentalnya. Bima mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS jelas berisiko ke utang. Selisih kurs yang ditanggung pemerintah muncul saat pembayaran kewajiban jatuh tempo utang. (Liputan6.com, 1/9/2018)

Berdasarkan data SULNI BI, kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo pada tahun 2018 mencapai USD 9,1 miliar yang terbagi menjadi USD 5,2 miliar pokok dan USD 3,8 miliar bunga. Apabila dihitung dalam kurs rupiah, utang luar negeri yang jatuh tempo di tahun 2018 sebesar Rp 136,8 triliun yang terbagi menjadi Rp 78,2 triliun pokok dan 58,6 triliun bunga.

Persoalan ekonomi akibat tidak stabilnya nilai tukar yang bergerak fluktuatif telah berlangsung sejak sistem moneter yang diterapkan di dunia ini berupa fiat money, dimana mata uang kertas tidak ditopang oleh emas untuk dijadikannya sebagai alat tukarnya.

Secara politis langkah yang dilakukan oleh AS untuk menghentikan pengkaitan dolar dengan emas adalah didorong oleh keinginan AS untuk memposisikan dolar sebagai standar moneter internasional hingga menguasai pasar moneter internasional. Oleh sebab itu, standar emas kemudian dianggap tidak lagi dapat dipergunakan di dunia.

Sejak itulah kurs pertukaran mata uang terus berfluktuasi, berbagai kesukaran bermunculan dalam mobilitas barang/jasa dan mata uang dunia menjadi tidak stabil. Krisis finansial saat ini dan sejumlah krisis sebelumnya semakin memperjelas bahwa sistem moneter saat ini yang menggunakan mata uang kertas (fiat money) sangat rapuh dan tidak layak untuk diadopsi.

Sementara itu, sistem transaksi mata uang saat ini tak pernah luput dari praktek riba, khususnya dalam hal utang berbasis bunga yang tak akan ada habisnya. Mengutip dalam artikel Larry Hannigan yang berjudul “Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%”, sebuah ilustrasi yang mudah untuk dicerna mengenai bagaimana dunia telah ditipu habis-habisan oleh sistem transaksi uang kertas dan koin yang berlaku saat ini. Inilah yang disebut dengan model penjajahan baru dunia tanpa senjata dan darah.

Islam mewajibkan pemakaian mata uang yang memiliki harga secara intrinsik, yakni logam-logam mulia yang mengandung nilai ekonomi pada dirinya sendiri. Mata uang dinar dan dirham adalah mata uang yang dipakai di berbagai negara di dunia di masa lalu. Kekuatan dinar dan dirham ini telah terbukti mampu menjaga kestabilan perekonomian. 

Melihat penggunaan mata uang kertas (fiat money) saat ini, selalu menyebabkan terjadinya inflasi yang bergerak cepat, tingkat suku bunga menjadi naik, harga-harga barang mengalami perubahan dengan sangat drastis, tingkat konsumsi masyarakat menurun, produksi dari industri juga menurun, beberapa karyawan di PHK, sehingga taraf pengangguran semakin meningkat dan angka kemiskinan bertambah.

Maka sudah layaknya, saatnya kita kembali pada kekuatan mata uang yang bersandarkan pada dinar dan dirham dengan menegakkan isnstitusi penerap hukum-hukum Islam termasuk sistem moneter berbasis emas dan perak di dalamnya.[MO/an]

Posting Komentar