illustrasi


Oleh: Masniati, S. Pd 
"Member Akademi Menulis Kreatif Reg. Bima"

Mediaoposisi.comSaat ini kampus menjadi sorotan tumbuhnya benih-benih terorisme melalui isu radikalisme. Memang tak bisa dipungkiri, kesadaran mahasiswa sebagai agen of change sudah kembali bangkit.

Bahkan tidak sedikit pula dosen-dosen yang dengan intelektualitasnya mulai terbuka pemikirannya melihat problematika keumatan dari sudut pandang yang cukup luas dan memandang persoalan dengan perspektif Islam.

Isu radikalisme di kampus terus dihembuskan, sehingga upaya untuk meredamnyapun kembali gencar dilakukan. Upaya menangkal isu radikalisme di kampus  sebagaimana yang dilansir (bnpt.go.id).

Diawali pembekalan, mantan Sestama Lemhanas tersebut mengajak mahasiswa untuk menyiapkan diri menghadapi tantangan dan ancaman global.

Selain tantangan berprofesi, sebagai mahasiswa baru Kepala BNPT meminta agar mereka mampu mengenali bahaya radikalisme dan terorisme sebagai ancaman global yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau tantangan berprofesi itu dibutuhkan knowledge dan skill, tapi jangan lupa akhlak yang baik. Akhlak yang baik, moral, rasa nasionalisme dan kearifan lokal, lebih baik lagi dalam membentengi diri menghadapi ancaman seperti radikalisme dan terorisme, ini nyata dan jangan dianggap remeh,” ujar Kepala BNPT.

 Merujuk pada zaman sekarang, Kepala BNPT juga mengingatkan bahwa radikalisme dan terorisme dapat ditemui di dunia maya, termasuk media sosial. Oleh karena itu, Kepala BNPT mengajak segenap mahasiswa dan civitas akademika untuk mewaspadai sekeliling serta dunia maya.

“Karena kalau zaman sekarang semua serba online, termasuk pula infiltrasi radikalisme dan terorisme itu ada di online. Yang bisa kita lakukan adalah bentengi diri sendiri, kenali konten dan narasi, gejala pada teman sendiri, kemudian ingatkan dan laporkan, jangan takut. Kalian generasi penerus bangsa, duta monitor dan melapor, harus mampu,” ujar Drs. Suhardi Alius.

Masifnya perang melawan radikalisme (war on radicalism) itu sendiri tidak terlepas dari standar ganda yang digunakan oleh Barat untuk semakin menjauhkan umat dari memahami Islam. Sebab, perang melawan radikalisme sejatinya adalah perang melawan Islam.

Terlebih lagi, sorotannya saat ini adalah dunia kampus. Munculnya mahasiswa-mahasiswa yang semakin mencintai pengajian Islam dan membuka forum-forum diskusi membahas problematika keumatan memang tak dipungkiri menyelimuti dunia kampus.

Banyaknya organisasi kampus dan kegiatan kemahasiswaan yang mengarah pada pengkajian Islam sebagai satu-satunya solusi bagi problematika umat, malah dianggap sebagai aktivitas menyebarkan paham radikalisme. Cap negatif itu dilekatkan pada beberapa kampus. Maka sangatlah wajar jika pihak kampus meminta penjelasan apa indikator suatu kampus disebut radikal.

Standar Ganda Radikalisme

Jika kita ingin memahami apa itu radikalisme, maka kita harus memahami definisi dari radikal itu sendiri. Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akan kita temui makna-makna radikal, yakni secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip), misalnya dalam frase 'perubahan yang radikal'; amat keras menuntut perubahan (undang-umdang pemerintahan); maju dalam berpikir dan bertindak.

Dari makna tersebut, maka makna radikal itu bisa positif atau negatif. Bergantung pada sudut pandang yang digunakan. Namun, sayangnya istilah radikal ini malah dimaknai negatif untuk menyerang Islam dan kaum muslimin. 

Kaum muslimin yang menginginkan perubahan secara mendasar dengan penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh) sebagai konsekuensi imannya, malah dianggap sebagai muslim radikal dalam makna yang negatif. Hal itu juga pun yang disematkan pada kampus-kampus. Dari sini kita bisa menilai bahwa upaya melawan radikalisme di kampus hanyalah upaya menjauhkan potensi kebangkitan berpikir Islam di kalangan pemuda khususnya mahasiswa.

Mengapa demikian? Kita jangan pernah lupa tumbangnya rezim Suharto pada masa orde baru tidak terlepas dari peranan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang menuntut Suharto turun dari jabatannya sebagai presiden kala itu.

Mahasiswa sebagai kaum muda dan terpelajar memiliki potensi strategis dalam perubahan masyarakat. Jika mahasiswa memiliki kesadaran penuh untuk melakukan perubahan secara revolusioner, maka hal itu akan menjadi ancaman bagi Barat dalam mempertahankan hegemoninya.
Kita juga tidak boleh lupa kontribusi pemuda kepada perjuangan Islam.

Kebangkitan dan kegemilangan Islam pada masa kejayaannya tidak terlepas dari peran strategis pemuda dalam membangun peradaban agung. Kita bisa melihat pemuda-pemuda hebat yang menorehkan tinta emas peradaban Islam.[MO/an]
-

Posting Komentar