Oleh: Siti Mawadah, Koordinator Muslimah Komunitas Yukngaji, Depok

Mediaoposisi.com-Tahun hijriah ditandai dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dimulai dari dakwah Rasulullah di Makkah. Rasulullah terlahir di tengah rusaknya kehidupan masyarakat dan dunia saat itu, dengan dikuasai negara adidaya yaitu Quraisy, Persia dan Romawi. Rasulullah hadir untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Masyarakat Arab saat itu mengenal Allah tapi kemusyrikan (menyekutukan Allah) merajalela. Mereka menafikan Allah sebagai satu-satunya Rabb. Maka saat itu Rasulullah berdakwah dengan mengajarkan tauhid yaitu laa ilaaha ilallah muhammad rasulullah.

Kaum Quraisy tidak mau mengucapkan kalimat tauhid karena kekuasaannya akan terusik, maka mereka berpikir dakwah Rasulullah harus dihalangi. Kaum Quraisy menghalangi dakwah Rasulullah dengan cara melabeli dan stigmatisasi negatif, seperti menyebut Rasulullah seorang penyihir dan orang gila. Penyiksaan fisik bagi orang-orang yang lemah juga mereka lakukan, sehingga pada saat itu Rasulullah mengajak orang-orang yang lemahuntuk hijrah ke Habsyah, tapi Rasul tetap di Makkah untuk melanjutkan dakwahnya. Bani Hasyim juga diboikot oleh kaum Quraisy selama 3 tahun, padahal tidak semua Bani Hasyim seorang Muslim. Dakwah Rasul bukan hanya mengubah individu tapi merombak tatanan kehidupan masyarakat.

Apakah Rasulullah menyerah? Apakah hijrah Rasulullah juga dikarenakan pada saat itu istri dan paman meninggal dunia? Apakah itu yang menyebabkan Rasul berhijrah? Ternyata Rasulullah tidak menyerah dan bukan karena meninggalnya orang-orang yang Beliau cintai.

Rasulullah tetap melakukan dakwah ke berbagai kabilah menyerukan Islam agar diterima. Beliau ke Thaif mendakwahkan Islam, tapi Beliau diperlakuan masyarakat dengan menimpuki dengan batu sampai berdarah, tapi Beliau tetap bersabar.

Jadi, dakwah Rasulullah bukan cuma urusan akhlak tapi meminta agar kekuasaan itu diberikan kepada Rasulullah agar Islam tegak menjadi aturan kehidupan. Itu makna politis dari dakwah Rasul. Pada musim haji datanglah orang-orang untuk melaksanakak haji termasuk orang-orang Yatsrib (Madinah). Di sana Rasulullah menyampaikan dakwah Islam. Ternyata orang Yatsrib menerima dan kemudian membaiat Rasul dan ditandai dengan baiat aqabah 1. Sepulangnya orang-orang haji tadi, maka diutuslah Mush'ab bin Umair untuk mengajarkan Al- Qur';an dan mengajarkan Islam. 

Maka sisi politisnya adalah Yastrib termasuk kelompok besar yang selalu berperang dan sudah jenuh dengan peperangan yang ada. Di Yastrib juga ada kelompok yahudi yang mengatakan bahwa akan ada seorang Rasul. Kemudian setelah musim haji kedua ada 72 orang untuk membaiat Rasulullah yaitu baiat aqabah 2. Saat baiat aqabah 2 orang Yastrib sudah menyanggupi untuk menerima konsekuensi bahwa mereka akan diperangi dan kemudian bisa melindungi Rasulullah dan konstitusi Islam.

Satu per satu para sahabat hijrah ke Madinah. Hijrahnya Rasulullah ke Madinah untuk berdakwah dan menjadi pemimpin yang untuk ditaati. Madinah pun siap untuk patuh dipimpin oleh Rasulullah sebagai pemimpin negara.

Jadi ketika memaknai hijrahnya Rasulullah benar-benar untuk melanjutkan dakwah, bukan
sekadar menghindari penyiksaan di Makkah.

Hijrah perupakan pondasi tegaknya masyarakat Islam dengan membangun masjid dan membina ukhuwah islamiyah. Syariat Islam diterapkan secara riil untuk mengatur kehidupan masyarakat dan membuat perjanjian dengan warga non Islam. Karena Islam rahmat untuk seluruh alam bukan hanya untuk Islam atau orang arab saja. Mengemban Islam ke seluruh dunia dengan menyusun strategi politik dan militer, menghilangkan hambatan dakwah dengan aktivitas jihad dan futuhat. Maka dari situ Islam bisa menyebar ke seluruh dunia dengan cara mengirim surat ke kerajaan melakukan ekspedisi militer peperangan dan Rasul membuat bisyarah akan ada penaklukan Konstatinopel dan Roma.

Ibrohnya tidak ada bedanya Rasulullah di Makkah dengan kehidupan kita saat ini. Realitas kerusakan umat saat ini di seluruh bidang baik ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik. Konsekuensi jika kita beriman kepada Allah dan Rasulullah maka kita harus mematuhi aturan Islam. Karena tujuan dakwah yaitu amar maruf nahi munkar agar peraturan Islam bisa diterapkan.

Meneladani bukan hanya move on tapi juga move up. Tidak hanya cukup untuk hijrah ke arah yang lebih baik tapi juga harus berani mengambil peran dakwah karena dakwah sangat urgent dilakukan. Rasul tidak pernah sendirian dalam berdakwah maka kita harus berjamaah untuk mengemban tugas dakwah ini. Dakwah itu wajib untuk meningkatkan taraf berpikir umat, merubah keadaan yang tidak Islam agar dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Tak akan sempurna Islam tanpa penerapan syariat secara menyeluruh dalam Daulah. Tidak akan tegak Daulah yang menerapkan Islam secara kaffah tersebut kecuali dengan dakwah. Dan tak akan sempurna dakwah menyeru pada Islam dan penerapan syariah tersebut jika tidak dilakukan dengan berjamaah.[MO/dr]

Posting Komentar