Oleh: Istiqomah., S.Pi 
"Aktivis Mahasiswa Kepulauan Riau"

Mediaoposisi.com-Siapa yang menyangka sekolah TK Kartika V-69 Probolinggo menjadi viral disosial media. Awal mula peristwa ini ketika anak-anak sedang melaksanakan karnaval peringatan kemerdekaan RI ke 73 dengan mengenakan cadar serta membawa replika senjata di Probolinggo (kompas.com). Menurut Disdikpora sanksi tegas pun diberikan kepada Hartatik selaku Kepala TK V-69 Probolinggo tanpa alasan yang jelas. 

Padahal perintah menutup aurat untuk wanita adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan termasuk mengenakan cadar. Menurut Hartatik video yang tersebarpun tidak utuh karena ada beberapa pertunjukkan lain yang akan dipertontonkan, yakni menampilkan ornamen Ka’bah sebagai simbol kokohnya keimanan yang dimiliki Rasulullah, serta replika senjata itu juga pernah digunakan pada karnaval-karnaval tahun sebelumnya (viva.co.id)\

Berita ini kemudian meluas ditengah-tengah masyarakat, sehingga muncul tanggapan bahwa cadar dan senjata merupakan awal dari terorisme dan kerusakan. Cadar yang merupakan bagian dari ajaran Islam dinilai tak pantas untuk disyiarkan. Belum lagi meributkan masalah senjata yang dibawa anak-anak TK tersebut, yang mengklaim bahwa tindakannya itu akan memicu aksi-aksi Radikalisme. Apa salahnya cadar dan juga replika senjata? Padahal disaat yang sama pertunjukkan kontes bikini toh juga melenggang begitu bebas dinegeri ini.

Jika bicara masalah perjuangan kemerdekaan, umat Islamlah dengan semangat jihad mempelopori perlawanan terhadap penjajah. Sosok Cut Nyak Dien yang juga mengangkat senjata dan diangkat menjadi pahlawan nasional pun tidak dipermasalahkan.

Keputusan Hartatik dinonaktifkan dari jabatannya karena dianggap lalai, sementara mengimpor Tenaga Kerja Asing (TKA) masuk bukan dianggap tindakan yang lalai, pelaksanaan ASIAN games  yang menghabiskan dana triliunan juta ditengah bencana melanda bukan dianggap tindakan yang lalai, serta membungkam suara intelektual bukan dianggap tindakan yang lalai.

Tentu sejatinya hal inilah yang diinginkan oleh Barat, narasi sesatnya terus digaungkan, penistaan Islam dan penyiksaan kepada Ulama tak mampu dicegah.

Seperti contoh kasus yang menjerat seorang wanita Meilana asal Tanjung Balai, Medan yang memprotes masalah volume suara Azan yang minta dikecilkan tempat ia tinggal hingga akhirnya hanya divonis 18  bulan penjara (kompas.com). Sensitivitas terhadap Islam kian hari kian melampau-lampau.

Lagi-lagi Islam dipojokkan serta dinilai intoleran. Inilah yang dinamakan Islamophobia, Islam ditakuti oleh penganutnya sendiri.

Kebencian demi kebencian akan Islam tak mampu lagi dibendung. Islam din yang mendorong pemeluknya untuk taat dan patuh pada perintahnya tak mendapat lagi tempat. 

Kisah-kisah pahlawan heroiknya, berdiri dengan gagah berani hasil dari peradaban cemerlang 14 abad lamanya tinggallah sejarah. Terkubur dalam-dalam dan hilang ditelan zaman.

Tak ada lagi perisai yang mampu melindunginya, tak ada lagi negara yang berpihak terhadap Islam serta melindungi ulamanya. Lalu, apakah pantas sebuah negara yang mayoritas Islam takut dan benci pada ajarannya sendiri? Sementara Barat tertawa terbahak-bahak menyaksikan kekisruhan yang merajalela ini.[MO/an]

Posting Komentar