Oleh : Rutin (Aktivis Women Movement Institute)

Mediaoposisi.com-Melansir kabar dari republika.co.id, diberitakan bahwa calon wakil presiden (cawapres) Ma'ruf Amin mengunjungi kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada Rabu (5/9) sore. Dalam pertemuan dengan Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan jajaran pimpinan PP Muhammadiyah, disepakati bahwa ukhuwah sesama umat Islam lebih diutamakan daripada permainan politik praktis. "Perbedan politik tak buat kita pecah sebagai bangsa apalagi saling bermusuhan dan tak boleh juga ada kekerasan karena perbedaan politik. Itu jauh lebih penting dan pak kiai tadi dengan jiwa keulamaan dan kenegaraannya berkata bahwa perbedaan politik tak membuat kita rusak ukhuwah," kata Haedar Nashir kepada wartawan, Rabu (5/9).

Jika ukhuwah sesama umat Islam harus lebih diutamakan daripada permainan politik praktis, kenapa diserukan baru sekarang saat-saat mendekati pemilu? "Ada udang dibalik batu", itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan tindakan para politikus menjelang pemilu 2019. Mereka melakukan berbagai cara supaya sukses dipemilu, termasuk mencari dukungan massa sebanyak- banyaknya.

Jika ukhuwah sesama umat Islam lebih diutamakan, kenapa juga politisi enggan menerima Khilafah sebagai sistem kenegaraan yang telah terbukti mampu mempersatukan umat? Inilah politik Demokrasi sekular. Sistem politik yang telah membangun Indonesia menjadi negara yang anti politik Islam. Demi kekuasaan apapun dilakukan. Sehingga para politikusnya tidak lagi berpikir jernih bagaimana supaya ukhuwah sesama umat Islam kuat tanpa melampaui batas-batas keyakinan agama atau menggadaikan keyakinan dengan harta dan tahta.

Rusaknya pemikiran para politikus akibat racun kapitalisme-sekularisme, menampik impian pak Haedar Nashir yang mengharapkan tak ada perpecahan antar parpol. Ibarat katak merindukan rembulan, mustahil tak ada perpecahan dalam bingkai politik Demokrasi-kapitalis. Karena siapa yang ber-uang, merekalah yang berkuasa. Dan saling sikut kanan-kiri sudah menjadi hal biasa dalam perpolitikan demokrasi ini, jika dirasa tak sejalan dengan kepentingan pribadi.

Berharap bangsa ini maju, dan kuat tidak cukup dengan cara membangun karakter bangsa yang berbasis agama pancasila serta nilai luhur bangsa. Faktanya hanya Islam yang telah mewujudkan generasi yang berkarakter mulia dan penguasa peradaban. Suatu bangsa bisa kuat jika karakter bangsa dan rakyatnya kuat. Faktanya karakter bangsa Indonesia ini sangat lemah bahkan tertinggal taraf berpikirnya sehingga dengan mudah diperdaya oleh Asing. 

Walhasil bangsa ini menjadi bangsa pembebek pada Asing. Baik dari fun, food, fashion, semuanya membebek asing. Tanpa umat sadari ternyata itu merusak mereka. Saatnya menjadikan Islam sebagai pemersatu umat. Bukan atas dasar kepentingan pemilu, lantas persatuan umat diserukan, setelah pemilu hilang tak diperjuangkan. Bahkan Islam didiskrimisasi dan dijatuhkan demi ambisi duniawi yang menyesatkan.[MO/dr]

Posting Komentar