Oleh: Erni Susanti

Mediaoposisi.com-Di tengah panasnya suasana politik tahun ini yang puncaknya akan digelar tahun depan pada pemilihan presiden, jari ini asyik menelusuri website ke website, mencari sebuah ‘pilihan’. Banyak sekali tokoh yang tampak bersemangat berada dalam panggung politik ini. Hingga akhirnya pencarian ini bermuara pada beberapa kasus korupsi. Orang-orang yang diamanahi pengurusan rakyat dan negara harus berujung bui. Sekali lagi gara-gara korupsi.

Berita tentang korupsi menjadi berita yang tak pernah habis. Banyak kasus tentang korupsi muncul di berberapa media dalam rentang waktu yang dekat, dengan berbagai tokoh yang berbeda. Menandakan bahwa kasus korusi telah menjangkiti banyak tokoh-tokoh politik. Kisah mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto (terpidana kasus korupsi mega proyek e-KTP) menjadi kisah yang fenomenal. Ia bahkan harus terus menjalani pemeriksaan terkait kasus korupsi yang lain. Idrus Marham, Menteri Sosial RI, terlibat dalam kasus suap proyek pembangunan PLTU Riau-1. Dalam satu judul artikel detiknews, 41 anggota dari 45 Anggota DPRD Malang menjadi tersangka korupsi.

Sungguh realita yang sangat memilukan. Sebagai pengurus negara, pelayan rakyat seharusnya yang paling bertanggungjawab atas kesejahteraan rakyatnya. Memberikan yang terbaik untuk rakyat bukan justru sibuk memperkaya diri sendiri. Di tengah kerinduan pada pemimpin yang adil, yang berpihak pada kepentingan rakyat bukan kepentingan asing kepentingan pemilik modal, berita tentang korupsi laksana garam yang ditaburkan pada luka yang menganga. Rakyat sudah sering terluka. Akhirnya, kita harus menyadari inilah wajah perpolitikan Indonesia. Bahkan tak hanya Indonesia tapi juga negara yang lain. Sistem politik saat ini terbukti mampu memunculkan korupsi. 

Ialah Demokrasi, sistem yang dianggap solusi terbaik justru menghantarkan manusia pada lembah kesengsaraan. Demokrasi yang diyakini sebagai pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat, kenyataannya rakyat terkalahkan oleh kepentingan individu.

Dapat kita lihat bagaimana seorang individu untuk menang dalam sistem demokrasi ini. untuk menduduki suatu jabatan, ia perlu mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Baik dia calon independen atau melalui dukungan partai. Apalagi jika melalui partai akan lebih besar lagi ‘ongkos’ yang akan dikeluarkan, karena harus membayar ‘mahar’ kepada partai. Uang kampanye dan biaya untuk mendanai tim sukses itu besar jumlahnya, dikalikan dengan jumlah daerah sasaran yang akan dia bidik untuk kesuksesan kampanyenya itu. Tak jarang ketika mereka akhirnya terpilih, mereka manfaatkan jabatannya itu untuk mengembalikan modal yang sudah ia keluarkan ketika kampanye, dengan mengambil bagian yang jelas bukan haknya. Belum lagi karena gaya hidup sebagian besar para pemegang kekuasaan yang jauh dari kesederhanaan. Seolah mereka harus dibedakelaskan dengan rakyat biasa.

Rakyat kembali hanya menelan pil pahit. Banyaknya uang yang dikorupsi oleh penjahat-penjahat negara, sekali pun tak terbayang dalam benak kita. Seberapa banyak? Mungkin uang tersebut akan cukup untuk makan beberapa bulan? Atau akan cukup membuat korban bencana alam tersenyum kembali? Sungguh alih-alih rakyat semakin sejahtera, pada faktanya kesengsaraan yang kian terasa. Tatkala ada rakyat yang berani mengkritik penguasa justru dianggap pemberontak yang tak ingin tunduk pada penguasa, dituduh makar. Mereka dianggap ancaman besar bagi keamanan negara. Padahal para koruptor jauh lebih jahat dari rakyat yang hanya menyampaikan kritik atas apa yang kita saksikan saat ini. Untuk apa kita tetap memilih sistem politik yang salah? Mengapa kita masih memilih Demokrasi? Demokrasi layak untuk ditinggalkan. Kita sebagai umat Islam, meyakini bahwa Allah swt. telah memberikan kita solusi untuk setiap permasalahan di dunia. Karena Islam bukan saja agama yang mengurusi masalah ruhiyah (spiritual), namun juga masalah politik (siyasah).

Untuk menjadi seorang pemimpin dalam Islam, atau bagian dari lembaga yang mengurusi rakyat, tidak diperlukan orang yang ingin memperkaya dirinya sendiri, bahkan pemimpin dalam Islam adalah ia yang berpegang teguh pada ajaran yang telah Allah turunkan, ia harus adil kepada rakyatnya. Bukan ia yang diintervensi asing, bukan ia yang kalah karena suap.

Betapa kita rindu pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz, pemimpin yang justru menyumbangkan hartanya untuk kepentingan rakyatnya. Beliau rela hidup dalam kesederhanaan, tapi rakyatnya hidup dalam kecukupandan kesejahteraan, bukan kesengsaraan. Dan kerinduan akan pemimpin yang menerapkan Islam sebagai aturan kehidupan ini bukanlah sekedar mimpi. Tapi adalah cita-cita yang dapat diwujudkan. Semoga panasnya politik yang terus bergejolak mengantarkan kemenangan untuk rakyat, diterapkannya sistem poltik yang benar. Aamiin.[MO/dr]

Posting Komentar