Oleh:  Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com- Dilansir oleh Republika.co.id (6/9), Sandiaga Uno menyebutkan bahwa akan memperhatikan partai emak-emak. Ia berjanji akan menjadikan harga-harga terjangkau dan pangan terjamin serta pembangunan yang bersih.

Di sisi lain, pihak pertahana membuat Komunitas Super (Suara Perempuan) Jokowi. Seolah kubu Jokowi-Ma'ruf tak mau kehilangan momen merebut hati kaum wanita. Meski secara survey LSI (21/8), elektabilitas Jokowi masih jauh di atas Prabowo-Sandi. Sebanyak 50.2 % pemilih Jokowi. Sementara, pendukung Prabowo hanya 20.5 %. Untuk kaum perempuan. Sisanya belum menentukan pilihan.

Di musim-musim menjelang pilpres, seperti biasa, rakyat menjadi target pendekatan para capres dan cawapres. Kali ini emak-emak sebagai tokoh utamanya. Sehingga wajar jika kedua bakal capres dan cawapres tersebut berebut suara mereka.

Memang begtitulah tabiat demokrasi. Slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat menjadi sihir yang berhasil menipu umat. Sebelum pemilu, rakyat dielu-elukan, diangkat-angkat, tapi setelah pemilu rakyat seakan dijadikan tumbal untuk meraih kekuasaan.

Lihat sja bagaimana slogan politisi negeri ini ketika keluar dari orde baru. Di awal reformasi, demokrasi memberi harapan kosong yang tak dapat dibuktikan. Saat Presiden pertama wanita Indonesia, Megawati malah banyak menjual aset negara. Pun begitu saat Presiden hasil pemilihan langsung berkuasa, 10 tahun rakyat hanya harap-harap cemas.

Apa lagi hari ini? Ketika kampanye begitu merakyat. Tapi ternyata mencekik rakyat. Berulang kali subsidi dicabut, baik subsidi listrik maupun BBM. Rakyat memang hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan jabatan. Begitu menjabat, rakyat dilupakan dan diabaikan. Nanti menjelang pemilu lagi, rakyat diajak untuk memilih lagi. Mimpi!

Dalam Islam, kedudukan umat sangat penting. Pilar kedua dari Khilafah adalag kekuasaan ada di tangan umat.

Artinya, umatlah yang menentukan siapa yang layak memimpin mereka. Dengan akad baiat yang sesuai syariat, seorang khalifah tidak akan menjanjikan yang lain kecuali menerapkan hukum-hukum Allah untuk mengurus masyarakat. Jadi, kontrak politik atau janji-janji Khalifah, bukan kepada rakyat, tapi hakikaknya kepada Allah.

Itulah yang menjadikan 2 tahun kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz berhasil menyejahterakan rakyat. Tak membedakan laki-laki dan perempuan, aki-aki dan emak-emak. Semuanya mendapatkan kebaikan tersebab sistem yang baik dan pemimpin yang bertaqwa.

Saatnya mengganti Demokrasi yang selama ini hanya memanfaatkan rakyat saat pemilu tiba. Diganti dengan Khilafah yang sudah terbukti dalam sejarah, mampu menciptakan golden age tanpa harus mengorbankan umat dibelakangnya.[MO/sr]




Posting Komentar