Oleh: Nur Khamidah

Mediaoposisi.com- Perhelatan Asean Games telah usai. Indonesia bertengger di posisi keempat dalam perolehan medali emas. Capaian ini membuat Presiden Jokowi tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Bonus dengan nominal besarpun digelontorkan Presiden Jokowi untuk mengapresiasi para atlet yang telah mengharumkan negeri ini di pentas olahraga tingkat Asia tersebut. Megahnya acara pembukaan, penayangan pentas olahraga yang intensif di televisi, dan penutupan pentas akbar yang membius jutaan mata, membuat umat di negeri ini lupa, bahwa negeri ini sedang dirundung duka.

Pulau Lombok sedang berduka. Pulau dengan julukan pulau seribu masjid itu diguncang  gempa. Sebagai umat Islam yang satu, duka masyarakat lombok adalah duka kita (umat Islam). Masyarakat membutuhkan perhatian khususnya dari pemimpin negeri ini, bukan sekadar jadi tempat ajang pencitraan. Masyarakat membutuhkan uluran tangan baik pangan, sandang, maupun papan.

Masyarakat juga butuh penguatan akidah, keyakinan terhadap qadla’ Allah, dan bagaimana menyikapi qadla’ yang Allah berikan. Selain itu, korban gempa juga punya hak-hak yang harus dipenuhi oleh penguasa secara nyata. Inilah kewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnya.

Seorang pemimpin dalam sebuah negara berkewajiban untuk meriayah (mengurusi) urusan rakyatnya. Indikasi keberhasilan pemimpin dalam meriayah rakyatpun tidak bisa hanya dipastikan dari segelintir orang saja, namun harus dipastikan bahwa setiap individu dari rakyatnya telah teriayah. Hingga akhirnya rakyat merasakan kesejahteraan dengan terpenuhinya hak-hak mereka. Baik dalam kebutuhan pangan, pelayanan kesehatan dan pendidikan, hingga pekerjaan.

Naas, rakyat harus menelan pahitnya pil kekecewaan. Sistem sekular demokrasi membentuk seorang pemimpin menjadi pribadi yang lalai. Uang dengan nominal besar justru digelontorkan untuk pentas olahraga, bukan untuk rakyatnya yang tertimpa musibah.

Walhasil, rakyat kini gigit jari. Sosok pemimpin yang jauh dari harapan. Umat Islam harus segera sadar, bahwa mereka butuh sosok pemimpin Islam. Sosok pemimpin yang bangun lebih awal untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sosok pemimpin yang tidurpun memikirkan urusan rakyatnya.

Pemimpin Islam tak akan pernah ditemui rakyat selama sistem sekular demokrasi bercokol di negeri ini. Umat Islam butuh penerapan Islam secara total untuk bisa mewujudkan pemimpin Islam. Karakter pemimpin Islam adalah ibarat penggembala.

Sebutan sebagai penggembala bukan untuk merendahkan posisi seorang pemimpin, melainkan untuk mengingatkan pemimpin akan tanggungjawabnya terhadap rakyat. Penggembala yang baik akan senantiasa melindungi gembalaannya dari segala ancaman, melakukan pencegahan dan pengawasan agar gembalaannya berada pada jalan kebenaran. Penggembala yang baik akan memastikan kebutuhan setiap gembalaannya terpenuhi, mencarikan rumput terbaik dan air yang segar.

Seorang pemimpin akan memberikan jaminan setiap individu rakyatnya mendapatkan pemenuhan kebutuhan pokok, memberikan kemudahan dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan, melindungi rakyatnya dari segala ancaman, menjaga akidah setiap individu rakyatnya. dan mewujudkan kesejahteraan rakyat secara nyata, bukan ilusi belaka.[MO/sr]

Posting Komentar