Oleh: Nuruzzaman 

Mediaoposisi.com- Siapa yang tidak geleng-geleng kepala menyaksikan berbagai fenomena menggelikan akhir-akhir ini. Mungkin dalam bahasa emak-emak,ini benar-benar makan 'ati' alias menyakitkan hati. Mulai dari dipermasalahkannya volume suaran adzan, lafadz laa ilaaha illallaah, pembubaran pengajian, hingga terciduknya puluhan anggota dewan sebuah daerah sebagai tersangka korupsi.

Bayangkan, dinegeri mayoritas muslim justru adzan yang merupakan panggilan untuk menghadap pemilik langit dan bumi dianggap mengganggu.Jika masalahnya adalah volumenya yang keras padahal hanya beberapa menit saja, mengapa berbagai konser sepanjang malam yang memekakkan telinga tidak dipermasalahkan?

Tidak kalah anehnya, kasus pembubaran pengajian dan respon tidak wajar pada simbol tauhid laa ilaaha illallaah juga membuat kita tak habis pikir. Katanya karena terindikasi ditunggangi ormas tertentu.

Padahal apa yang salah dengan simbol tauhid? Mengapa justru simbol akidah tersebut dijadikn alasan untuk menstigma sesama muslim sebagai kelompok yang berbahaya?Bukankan tauhid adalah harga hidup dan matinya seorang muslim? Anehnya, disaat yang sama berbagai atribut islam digunakan untuk menarik simpati demi meraih kekuasaan.

Katanya jangan bawa-bawa agama dalam politik, tapi faktanya justru agama dijadikan kendaraan para pemuja kepentingan untuk mendulang suara.

Tak cukup sampai disini, ulah para pemimpin negeri pun melengkapi episode sinetron negeri yang katanya menjunjung tinggi Pancasila ini. 41 dari 45 anggota DPRD kota Malang jadi tersangka kasus suap (liputan6.com).

Ditengah himpitan hidup rakyat,justru para wakil rakyat mempertontonkan tingkah polah miris ini. Ada benarnya statemen yang mengatakan bahwa para wakil rakyat tadi memang 'mewakili rakyat'. Mewakili rasa kenyang dan mewakili hidup sejahtera.Segalanya sudah diwakili, rakyat tinggal gigit jari karena didzalimi.

Apa sebenarnya akarnya? Mengapa berbagai fenomena diatas tumbuh subur dalam kehidupan hari ini? Inilah buah sistem Demokrasi. Sistem yang mengagungkan kebebasan (liberalisme) . Sistem yang menjunjung tinggi pemisahan agama dari kehidupan/sekulerisme (fashluddin 'anil hayat).

Sistem pemerintahan demokrasi  meniscayakan celah lebar bagi praktik yang menuhankan hawa nafsu termasuk korupsi.Mekanisme penyusunan anggaran ataupun perundang-undangan yang menjadikan suara terbanyak sebagai pemutus meniscayakan permainan uang gelap.

Sistem ini pulalah yang menjadi penyebab mengapa berbagai simbol islam begitu ditakuti, islamophobia menjadi wabah. Bagi mereka,islam adalah momok yang akan menjegal berbagi kepentingannya. Jika rakyat sudah cerdas dengan islam dan semakin mencintai islam secara utuh dianggap sebagai batu sandungan para pemuja kekuasaan.

Apa kebaikan yang bisa kita ambil dari Demokrasi? Bahkan sejarah kemunculannya berasal dari Barat yang sejak lama memusuhi Islam. Bagaimana kita akan berharap Demokrasi akan menaungi Islam?Sistem ini nyata-nyata rusak dan merusak. Semua itu wajar saja sebab Demokrasi adalah sistem buatan manusia yaitu sistem jahiliyah. Karena itu sistem demokrasi itu harus segera ditinggalkan.

Allah SWT bertanya yang sekaligus mencela siapa saja yang mengikuti sistem jahiliyah. Allah berfirman:

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS al-Maidah [5]: 50)

Sudah saatnya kita mengalihkan pandangan kita pada tata aturan islam dalam segala aspek kehidupan.Islam bukanlah ancaman seperti yang banyak icitrakan selama ini. Demokrasi-Sekulerisme lah ancaman sesungguhnya bagi negara dan rakyatnya.

Islam adalah agama yang sempurna, memiliki seperangkat aturan yang komplit dan dijamin sempurna karena didesain langsung oleh Sang Maha Pemilik Kesempurnaan,Allah SWT. Kesempurnaan Islam akan dirasakan tidak lain dengan jalan menerapkan syariah secara keseluruhan dalam bingkai sistem islam.[MO/sr]

Posting Komentar