Oleh: Sa’adah, S.Pd 
"Founder Gumam Muslimah"


Mediaoposisi.com-Masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan penangkapan Idrus Marham pada hari Kamis (23/08) terkait adanya keterlibatan dalam kasus dugaan suap pada proyek pembangunan PLTU Riau-1. Dilansir Kompas.com, Idrus Marham sudah mengajukan surat pengunduran diri sebagai Menteri Sosial kepada Presiden Joko Widodo, jumat (24/08) siang.

Idrus juga mengaku telah mengajukan surat pengunduran diri dari kepengurusannya di Partai Golkar. Selain itu, ia membenarkan bahwa pengunduran dirinya ini terkait dengan statusnya sebagai tersangka di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Juru bicara KPK, Febri Diansyah, menyatakan bahwa ada sejumlah pertemuan yang dilakukan Idrus dengan Direktur Utama PLN, Sofyan Basir dan para tersangka, Eni Maulani dan Johannes B Kotjo. Dilansir dalam situs acch.kpk.go.id, Idrus terakhir kali menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LKHPN) pada Desember 2009. Idrus tercatat melaporkan harta kekayaannya saat menjabat sebagai anggota DPR periode 2009-2014
.
Harta Idrus tercatat mencapai Rp. 9.531.079.160 dan 40.000 dollar AS dengan harta tidak bergerak mencapai Rp. 7.976.391.000 berupa tanah dan bangunan. Sedangkan untuk harta bergerak mencapai Rp. 800.000.000, berupa alat transportasi, logam mulia dan batu mulia serta giro. Ia tercatat memiliki utang mencapai Rp. 170.000.000. Jika dibandingkan nilai harta Idrus saat itu jelas naik dari tahun 2004 yang awal
nya hanya memiliki total kekayaan Rp. 5.199.688.160 menjadi Rp. 9.531.079.160 di tahun 2009.
Potret para koruptor yang kian hari kian parah, seharusnya menjadi sorotan panas di negeri ini. Kenapa tidak?

Para pencuri uang rakyat yang jelas merugikan rakyat dan negara ini, kini seolah semakin bebas menumpuk harta. Tanpa ada rasa takut akan sanksi apalagi meyakini azab Allah, mereka terus melancarkan misinya demi meraup materi dan harta kekayaan yang jelas bukan haknya.

Para pencuri uang rakyat ini seolah bisu dan buta akan segala masalah yang sedang menimpa rakyat Indonesia yang seharusnya diperhatikan. Lihatlah, angka kemiskinan dan pengangguran semakin meningkat, pun kriminalitas semakin merajalela.

Jika kita telaah bersama lebih dalam, sebetulnya apa yang ingin dicapai para koruptor mulai dari kelas teri hingga kelas kakap ini hanya satu, yaitu kekayaan. Ambisi dan kekuasaanlah yang merubah hati mereka menjadi pribadi yang tamak, buas dan haus akan materi dan keberlimpahan harta. 

Banyaknya pejabat yang terjerat kasus korupsi membuktikan bahwa kekuasaan dalam demokrasi merupakan jalan pintas yang mulus untuk mengumpulkan materi. Ini jelas dapat menumbuhkan bibit-bibit bahkan melanggengkan para koruptor yang sudah ada sejak lama.[Mo/an]


Posting Komentar