Oleh: Hany Handayani 
(Ibu Rumah Tangga)

Mediaoposisi.com- Sulit nian bagi ulama untuk bergerak menyebarkan syiar Islam sebagai salah satu tugasnya di Indonesia. Padahal Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di Asia, Muslim menjadi warga mayoritas namun seakan jadi kaum minoritas.

Belakangan ini banyak dari kalangan ulama tertentu yang dipersekusi oleh sekelompok orang karena alasan radikal, fundamentalis, bertolak dari Pancasila, ingin membuat makar dengan mengganti ideologi indonesia, dll.

Sebut saja ustad Felix Siauw, agenda dakwah beliau di daerah Malang mesti dibubarkan setelah sebelumnya dipindahkan dari sebuah universitas ke sebuah hotel sebagaimana dilansir oleh detiknews.com.

Begitu pula ceramah yang sedianya akan dilaksanakan di daerah bangil pasuruan Jawa timur dibubarkan secara paksa oleh Banser dan gp Ansor, dikutip dari siaran video fakta TVone. Hal ini juga terjadi pada ustad Abdul Somad (UAS) yang dipersekusi di wilayah Bali beberapa waktu lalu dan yang terakhir dikabarkan juga mengalami hal yang sama ketika hendak berdakwah di Hongkong dengan tuduhan teroris  sebagaimana diterangkan oleh Jawa pos.com.

Sebelum kedua ustad tadi pun sebenarnya banyak para ustad yang mendapat perlakuan yang sama namun tidak terendus oleh media.

Persekusi ulama terjadi makin marak usai pengesahan Perppu ormas menjadi undang-undang ormas.  Atas dasar undang-undang ormas mereka berlindung didalamnya. Padahal sejatinya undang-undang ormas pun bermasalah secara formil dan materiil. Secara formil tidak bisa diterima karena tidak ada kegentingan memaksa yang benar-benar terjadi.

Secara materiil juga banyak mengandung masalah, selain menghapus kekuasaan kehakiman yang bertentangan dengan prinsip keadilan hukum juga melahirkan ketidakpastian hukum terutama mengenai definisi paham yang bertentangan dengan Pancasila justru menimbulkan multitafsir.

Melihat kejadian-kejadian di atas saya sebagai seorang muslim bukan hanya sedih berikut marah namun juga bingung. Bingung dengan sikap pemerintah yang seakan cuek dengan kondisi yang dialami oleh para ulamanya.

Bukankah seharusnya ulama itu dijunjung tinggi karena keilmuan dan kedekatannya terhadap Syariah? Bukankah pemerintah sebagai Umaro wajib melindungi kehormatan semua warganya tanpa pandang bulu terlebih ini adalah ulama. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Tak ada penjagaan kehormatan, tak ada kutukan bagi si pelaku persekusi apalagi tindakan nyata sebagai sangsi hukum.

Semua tema ceramah yang akan disampaikan dibatasi, yang pembatasnya pun tak jelas tolak ukurnya dari mana. Tidak boleh ada isi ceramah yang menyinggung pemerintahan, tidak boleh ceramah tentang kekhilafahan, tidak boleh ada ceramah berbau ideologi selain pancasila.

Harus ceramah yang hanya berkaitan masalah ibadah keseharian, masalah Peningkatan akhlak, bukan menyasar kepada pembahasan yang keluar dari kebhinekaan NKRI. Seakan ada ketakutan yang tidak beralasan dari sekelompok orang yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk niat-niat tertentu.

Berbeda ketika kaum Muslim masih berada dalam naungan pemerintahan yang islami. Sungguh besar rasa pemuliaan kepada seorang ulama. Bagaimana sosok yang berilmu itu sungguh amat diagungkan dan dihargai keberadaannya. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk memuliakan para ahli ilmu Islam. Memuliakan ulama adalah karakter khas pengikut beliau.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلْ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan dari golongan kami, orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan mengasih sayangi yang lebih muda dan mengetahui hak-hak ulama kita.” (Shohih Al-Jami’ no. 5443, Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 96). Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bahkan mengeluarkan orang yang tidak menghargai para ulama dari jajaran umat Islam,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلْ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan menghargai ulama kita.” (Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 101)

Penolakan-penolakan dakwah Islam dan para ulama yang mendukung ide khilafah dan Islam politik yang terjadi seakan ingin menghembuskan Islam phobia diantara kaum Muslim. Radikal dan teroris adalah label yang digunakan untuk para ulama tersebut. Namun apa daya, yang dilakukan para pelaku persekusi justru berbuah manis bagi islam.

Diantara buah manis tersebut adalah kaum Muslim jadi tau bahwa al-liwa dan ar-roya adalah bendera kaum Muslim bukan bendera salah satu ormas yang terkena imbas pengesahan undang-undang ormas kemarin. Begitu pula dengan apa yang disampaikan oleh UAS dalam setiap dakwahnya mengenai pentingnya khilafah bagi kaum Muslim dan non muslim dalam menata kehidupan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran/3 : 54

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya

Bukti semakin bersatunya umat Islam dalam naungan  Al Liwa dan Ar Royah sebagaimana yang terjadi saat aksi 212 dan reuni 212 tanpa memandang golongan, Mazhab, dan gerakan serta viralnya video klip yang dibuat oleh salah satu artis Ahmad Dani yang menggunakan Al Liwa dan Ar Royya pemersatu kaum muslim. Semoga ini adalah tanda-tanda bisyarahnya Rasulullah bahwa Islam akan segera bangkit dari tidur.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

55. [1]Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi[2] sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa[3], dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam)[4]. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu[5], maka mereka itulah orang-orang yang fasik[6].[MO/sr]

Posting Komentar