Oleh: Hana Rahmawati


Mediaoposisi.com-Nilai tukar rupiah mulai anjlok. Menyentuh angka 15.000 per US dollar. Ini menyebabkan melangitnya harga-harga kebutuhan primer dan sekunder. BBM salah satu yang terkena dampaknya. LPG sebagai sahabat ibu rumahtangga pun tak luput dari kenaikan harga. Inilah yang membuat mahasiswa Indonesia turun untuk bersuara. Mewakili rakyat menyampaikan aspirasi ke para penguasa.

Dikutip dari TribunWow.com dari tayangan iNews, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya melakukan aksi unjuk rasa di jalan Sultan Alaudin, Rabu petang (13/09/2018).

Tak hanya di Gowa, sehari setelahnya ratusan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Tangerang Raya berunjuk rasa didepan gedung Puspemkot Tangerang, kamis 14/09/2018
(TangerangNews.com).

Pada aksi tersebut, mahasiswa menuntut pemerintah untuk segera mengatasi merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Bahkan dalam salah satu spanduknya, mereka menuntut tegas pemerintah. "Turunkan nilai rupiah atau Jokowi yang turun" demikian bunyi tulisan dalam spanduk itu.

Kapitalisme Induk Kehancuran di Ambang Keruntuhan

Keadaan semacam ini, tidak lain adalah buah dari sistem kapitalisme. Dimana Amerika sebagai negara pencetusnya menjadi kiblat ekonomi dunia. Dalam sistem kapitalis, ekonomi saat ini berbasis pada uang kertas (Dollar) yang nilainya tidak pernah stabil.

Sistem ekonomi kapitalis dibangun atas dasar kebebasan baik dalam hak milik, pengelolaan harta, maupun kebebasan konsumsi. Ini menjadikan sistem ekonomi kapitalis justru merusak tatanan perekonomian. Kerusakan ekonomi kapitalis terlihat dari berbagai pola. Yaitu pertama, sistem perbankan dengan suku bunga. Kedua, berkembangnya sektor non-riil dalam perekonomian sehingga
melahirkan pasar modal. Ketiga, utang luar negeri. Keempat, sistem moneter yang diterapkan diseluruh dunia tidak disandarkan pada emas dan perak. Kelima, privatisasi pengelolaan sumber daya alam yang merupakan milik publik.

Harry Shutt, penulis buku Runtuhnya Kapitalisme mengatakan apa yang sedang dialami sistem ekonomi ini, "gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik". Pasalnya, pertumbuhan ekonomi dibeberapa negara penganut sistem ini semakin lesu dan bertambahnya tingkat kemiskinan. Hal ini akan berdampak pada krisis keuangan global berkepanjangan.

Ibarat pondasi rumah, pondasi Kapitalisme sangat rapuh, yakni sekularisme. Tiang penyangga pondasi inipun rapuh dikarenakan pertama, ekonomi berbasis investasi asing. Kedua, ekonomi berbasis utang. Ketiga, ekonomi berbasis uang kertas (Fiat Money). Keempat, ekonomi berbasis sektor moneter (Monetary Based Economy).

Untuk itu, menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi tidaklah bisa diwujudkan dengan sistem kapitalisme. Harus ada sistem lain yang mampu mengembalikan kestabilan keadaan ekonomi. Sistem
ekonomi Islamlah satu-satunya solusi yang ampuh menstabilkan perekonomian. Ini terbukti pernah diterapkan selama 1.300 tahun lamanya dan satu kalipun belum pernah mengalami krisis. Berbeda dengan sistem kapitalisme yang baru 300 tahun diterapkan, telah puluhan kali mengalami krisis.

Solusi Islam Sampai Dinar Dirham

Islam adalah agama yang kamil. Menyeluruh. Aturan Islam tidak hanya pada aktivitas spiritual keagamaan saja. Lebih dari itu, Islam juga memiliki aturan dalam sistem perekonomian.

Islam menetapkan bahwa emas dan perak merupakan standar mata uang. Nilainya adalah tetap dan tidak akan berpengaruh pada naik turunnya dollar. Dimasa lalu, emas dan perak terus menerus digunakan sebagai standar mata uang sampai sebelum Perang Dunia I. Namun, pada tanggal 15 juli 1971 standar ini resmi dihapuskan.

Setelah sistem uang emas dan perak dihapus permanen. Maka, yang ditetapkan sebagai gantinya adalah dollar. Sistem uang kertas inkonvertibel menjadi sistem uang yang berlaku sejak saat itu. Tidak mewakili emas dan perak dan tidak pula mempunyai nilai intrinsik.

Negara-negara penjajah memanfaatkan uang tersebut sebagai alat penjajahan. Mereka mempermainkan mata uang dunia sesuai kepentingannya. Memperbanyak penerbitan uang kertas inkonvertibel tersebut. Sehingga berkecamuklah inflasi yang menggila, yang akhirnya menimbulkan kegoncangan pasar modal.

Adapun alasan syar'i mengapa emas dan perak ditetapkan sebagai standar mata uang adalah pertama, dalam Islam diharamkan menimbun emas dan perak. Firman Allah, "orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah SWT maka beritahukanlah kepada mereka adzab yang pedih" (QS. At-Taubah (9): 34).

Dalam ayat tersebut jelas terlihat bahwa emas dan perak dilarang untuk ditimbun oleh individu-individu. Itulah mengapa nilai emas dan perak dalam sistem Islam tidak mengalami inflasi.

Kedua, emas dan perak dijadikan standar pembayaran untuk diyat menggunakan dinar dirham. Rasulullah SAW. bersabda,"Bagi pemimbun emas adalah seribu dinar" (HR. An-Nasa'i).

Disadur dari Nidzom Al-Iqtishod karangan Syekh Taqiyudin An-Nabhani, terdapat beberapa keuntungan emas dan perak sebagai standar sistem keuangan.

Pertama, sistem uang emas meniscayakan kebebasan pertukaran emas, termasuk mengimpor dan mengekspor. Dalam kondisi semacam ini, aktivitas pertukaran mata uang tidak akan terjadi karena adanya tekanan luar negeri yang bisa memengaruhi harga barang dan jasa.

Kedua, sistem uang emas juga bermakna bahwa kurs pertukaran mata uang antar negara bersifat tetap. Para pelaku bisnis dalam perdagangan luar negeripun tidak takut bersaing. Karena kurs uangnya tetap, maka mereka tidak khawatir dalam mengembangkan bisnisnya.

Ketiga, dalam sistem uang emas, bank-bank pusat dan pemerintah tidak mungkin memperluas peredaran kertas uang. Keempat, setiap mata uang yang digunakan di dunia selalu dibatasi dengan standar tertentu berupa emas. Kelima, setiap negara akan menjaga kekayaan emasnya. Sebab, kekayaan tersebut tidak akan di transfer dari negara tersebut kecuali adanya alasan yag sah menurut syariah. Seperti membayar barang atau upah para pekerja.

Salah satu solusi perekonomian umat saat ini adalah kembali ke sistem uang emas dan perak, dinar dan dirham. Dengan kembali pada sistem emas, maka akan terwujud kestabilan ekonomi dan lenyapnya hegemoni uang suatu negara atas negara lainnya. Oleh karena itu, jelaslah perbedaan sistem buatan manusia dengan sistem yang aturannya berasal dari Allah SWT. Tidak ada pilihan lain, melainkan tunduk patuh pada Allah yang akan mengangkat berbagai kesulitan pada diri juga umat.[MO/dr]

Posting Komentar