Oleh: Jumarni 
(Bidan dan Akitivis Dakwah)

Mediaoposisi.com- Belum kering linang air mata Ibu Pertiwi, tercurah menderas kembali melihat bencana besar datang menerjang meratakan segala perbedaan, menghancurkan kota yang indah nan megah. Tiada insan yang mampu bertahan, tiada benda yang kokoh terdiam semua hanyut dalam satu sapuan.

Rangkaian gempa dan tsunami menyapa Ibu Pertiwi, belum reda getaran di Lombok. Kini Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah yang jadi sasaran.  Gempabumi dengan kekuatan magnitude 7,4 telah mengguncang wilayah Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada 28/9/2018 pukul 17.02 WIB.

Pusat gempat tersebut terjadi pada pada 10 km pada 27 km Timur Laut Donggala, Sulawesi Tengah.
Dari laporan BMKG, gempa ini juga telah mengakibatkan tsunami. Dalam laporan BPBD, tsunami menerjang pantai Talise di Kota Palu dan pantai di Donggala. BPBD juga membenarkan beberapa video yang didokumentasikan masyarakat dan disebarkan di sosial media mengenai tsunami di Kota Palu dan Donggala. (Apa Kabar Kampus.com)

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) korban yang tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah saat ini mencapai 832 orang. Untuk sementara korban tewas terbanyak di Palu yakni 821 orang. Sementara di Donggala 11 orang. Korban tewas yang ditemukan dimakamkan secara massal karena pertimbangan kesehatan. Mereka yang dimakamkan setelah bisa diidentifikasi.

Sementara untuk korban luka ratusan orang dan pengungsi mencapai belasan ribu orang. Dalam keterangan terakhir, BNPB menyebut korban luka 540 orang dan pengungsi 17 ribu orang. Jumlah korban tewas ini menurut Sutopo ada kemungkinan akan terus bertambah karena banyak jenazah yang belum teridentifikasi. (CNN. Indonesia.com).

Musibah
Musibah apa pun, termasuk gempa bumi, merupakan bagian dari qadhâ’ Allah SWT. Ini yang harus kita imani.
قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah, “Tidak akan pernah menimpa kami melainkan apa yang memang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah Pelindung kami.” Karena itu hanya kepada Allahlah kaum Mukmin harus bertawakal (TQS at-Taubah [9]: 51).

Karena itu dalam menghadapi musibah apapun yang tak bisa ditolak, setiap Muslim harus bersikap positif.

Pertama, dengan selalu bersikap sabar. Kesabaran ini harus terus dipupuk dan dipelihara. Sebab Allah SWT memang akan menguji sejauh mana kesabaran para hamba-Nya. Orang-orang yang sabar inilah yang kemudian Allah SWT gembirakan.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Gembirakanlah orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lilLâhi wa innâ ilayhi râji’ûn.” Mereka itulah yang bakal mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka. Mereka pula yang bakal mendapat petunjuk (TQS al-Baqarah [2] : 155-157).

Kesabaran yang harus dibangun tentu bukan kesabaran yang bersifat pasif, melainkan kesabaran yang positif dan aktif. Dengan kata lain kesabaran itu disertai dengan perenungan untuk menarik pelajaran guna membangun sikap, tindakan dan aksi ke depan demi membangun kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.

Di dalamnya termasuk untuk bisa melakukan mitigasi bencana secara lebih baik. Dengan itu dampak dan kerugian yang diderita dalam berbagai aspeknya bisa diminimalisasi.
Kedua, dengan senantiasa lapang dada/ridha selain bertawakal dan mengembalikan semuanya kepada Allah Yang Mahakuasa. Rasul saw. bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu ia berkata, “Inna lilLâhi wa innâ ilayhi râji’ûn (Sungguh kami adalah milik Allah dan kepada Dialah kami kembali), ya Allah, berilah aku pahala karena musibahku ini, dan berilah aku pengganti yang lebih baik dari musibah ini,” kecuali Allah memberi dia pahala dalam musibahnya dan mengganti musibah itu dengan yang lebih baik untuk dirinya (HR Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

Hikmah di Balik Musibah
Dengan sikap sabar dan ridha, musibah yang datang akan mendatangkan banyak hikmah dan kebaikan. Di antaranya: Pertama, musibah bisa menghapus dosa. Inilah yang disabdakan oleh Rasul saw.:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Tidaklah seorang Mukmin tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengan itu Allah meninggikan dia satu derajat atau Allah menghapuskan dari dirinya satu dosa (HR Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad).

Kedua, melalui bencana, Allah SWT ingin menunjukkan kekuasaan-Nya kepada manusia. Allah SWT juga mengingatkan bahwa manusia itu lemah, akalnya terbatas dan membutuhkan bantuan-Nya. Dalam hal gempa bumi, faktanya akal dan pengetahuan manusia belum bisa memprediksi secara akurat akan terjadinya gempa.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dr. Daryono M.Si menyebut tidak ada satu pun lembaga resmi dan pakar yang kredibel dan diakui mampu memprediksi gempa. Bahkan ketika didukung dengan teknologi yang lebih canggih sekalipun. “Pakar gempa dunia pun sepakat bahwa gempa memang belum dapat diprediksi dengan akurat kapan di mana dan berapa magnitudonya,” jelas Daryono (CNNIndonesia.com, 24/8).

Maka dari itu tidak sepantasnya manusia sombong di hadapan kekuasaan Allah SWT. Tak sepantasnya manusia menyangka telah sanggup menguasai dan mengatur dunia seraya meninggalkan petunjuk Allah Yang Mahabijaksana, dengan meninggalkan syariah-Nya.

Mengembalikan Kesadaran Spiritual
Allah SWT mendatangkan musibah untuk mengingatkan dan mengembalikan kesadaran spiritualitas manusia akan azab Allah SWT. Allah SWT berfirman:

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ . أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

"Apakah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian. Lalu dengan itu tiba-tiba bumi berguncang? Ataukah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil Lalu kelak kalian akan tahu bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?" (TQS al-Mulk [67]: 16-17).

Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma’âlim at-Tanzîl, menjelaskan: Ibn Abbas ra. berkata, “A amintum man fî as-samâ`i (Apakah kalian merasa aman dari apa yang ada di langit), yakni dari azab Zat Yang ada di langit saat kalian bermaksiat kepada-Nya. An yakhsifa bikum al-ardha faidzâ hiya tamûr (Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian. Lalu dengan itu bumi berguncang.”

Al-Hasan berkata, “Bumi bergerak beserta penduduknya. Dikatakan, bumi itu ambruk menimpa mereka. Maknanya, Allah menggerakkan bumi pada saat perjungkirbalikan. Akibatnya, bumi melemparkan mereka ke bawah. Bumi lebih tinggi dari mereka dan berjalan di atas mereka.”

Allah SWT lalu menutup ayat berikutnya dengan memberitahukan: “fasata’lamûna kayfa nadzîr[in]”. Imam Ibn Katsir menjelaskan dalam Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhîm: “Maknanya, bagaimana peringatan-Ku dan kesudahan orang yang menyimpang dan mendustakan peringatan itu.”

Jadi musibah yang menimpa itu pada dasarnya untuk memberikan peringatan kepada manusia agar manusia kembali pada kesadaran akan kemahakuasaan Allah SWT, Pencipta alam semesta. Dengan musibah, manusia juga diharapkan menyadari betapa lemah dirinya dan betapa terbatas kemampuannya.

Dengan musibah, manusia juga diharapkan kembali menyadari bahwa sebagai makhluk ciptaan dan hamba dari Al-Khaliq tidak selayaknya bermaksiat kepada-Nya, menyimpang atau menyalahi peringatan (wahyu)-Nya serta mendustakan dan mengabaikan hukum-hukum dan syariah-Nya.

Bangkit untuk Taat
Kesadaran spiritual sebagai efek positif dalam menyikapi musibah haruslah membangkitkan energi penghambaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Energi untuk makin meningkatkan ibadah kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya. Wujudnya adalah tunduk dan patuh menjalankan dan menerapkan hukum-hukum dan syariah-Nya secara total di muka bumi.

Kesadaran spiritual ini juga harus membangkitkan energi untuk melakukan perbaikan dan meluruskan penyimpangan; untuk menempuh jalan dan sistem yang benar yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Apalagi banyak musibah terjadi di antaranya selalu melibatkan peran dan keterlibatan manusia. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

"Musibah apa saja yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa kalian)"(TQS asy-Syura [42]: 30).

Keterlibatan manusia itu boleh jadi di antaranya berupa perilaku yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan terjadinya musibah menurut sunatullah. Boleh jadi pula berupa tindakan dan kebijakan yang berakibat pada besarnya dampak musibah atau dalam hal penanganan terhadap bencana yang terjadi.

Karena itu musibah yang terjadi haruslah menumbuhkan kesadaran dan keberanian untuk meluruskan segala hal yang salah, keberanian untuk melakukan perbaikan atas berbagai kerusakan (fasad) yang ada, serta keberanian mengakhiri dan meninggalkan sistem rusak buatan manusia, yakni ideologi dan sistem sekularisme-kapitalisme.

Lalu mengganti sistem rusak itu dengan ideologi dan sistem yang benar, yang telah Allah SWT telah turunkan. Itulah ideologi dan sistem Islam. Itulah akidah dan syariah Islam yang memang wajib diterapkan di dalam seluruh aspek kehidupan manusia; ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, hukum, peradilan, dll.[MO/sr]


Posting Komentar