Oleh Chusnatul Jannah
"Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban"

Mediaoposisi.com-Pemurtadan di tengah bencana kembali terjadi. Bermula dari unggahan video trauma healing yang dilakukan relawan di Dusun Onggong Lauk, Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Video itu menampilkan kegiatan trauma healing dengan memecikkan air ke warga. Sontak, video ini viral dan diduga telah terjadi pemurtadan pada korban Gempa Lombok. 

Tak hanya itu, temuan relawan terkait materi kristenisasi juga cukup banyak. Ada ucapan khas warga kristen dalam bingkisan bantuan tersebut. Semisal, "Pertolongan Tuhan indah pada waktunya.", "Kamu tidak sendiri dalam kesusahan. Allah bersamamu.". Buku – buku materi kristen juga berserakan di posko pelayanan bantuan korban gempa.

Sangat disayangkan. Niat hati membantu tercederai dengan maksud terselubung. Pemurtadan kerap terjadi lewat bantuan sosial dan bencana.

Hal serupa pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 20004 silam, bantuan korban tsunami Aceh berdatangan dari kalangan misionaris. Begitu pun pada peristiwa gempa bumi di Yogyakarta (Juni 2006), Padang (Oktober 2009), dan meletusnya Gunung Merapi pada November tahun 2010.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nusa Tenggara Barat (NTB), Prof. H. Saiful Muslim  meminta kasus ini diusut sampai tuntas. Sejak kasus tersebut viral di media sosial, MUI mencoba menelusuri dan mengkonfirmasi kebenaran dari pemurtadan ini. 

Status bencana Lombok yang tidak ditetapkan sebagai bencana nasional memberi peluang bagi lembaga sosial dan relawan berlomba memberikan bantuan. Tak terkecuali para relawan yang memilik niat berbeda dalam membantu para korban.

Kristenisasi ini telah bertentangan dengan prinsip saling menghargai keberagaman beragama. Bila memang tulus membantu, tak perlu disusupi dengan pendangkalan aqidah.

Peran negara terlihat lemah. Untuk ukuran kerugian atas gempa Lombok ternyata tak cukup dijadikan bencana nasional. Dalam kapasitas sebagai pengurus rakyat, tak melakukannya secara totalitas. Apalagi menjaga aqidah umat dari pemurtadan.

Kasus semacam ini akan terus berulang bila pemerintah tak sigap. Respon cepat dan tanggap melihat apa yang dialami rakyat. Dukungan moral serta bimbingan iman dibutuhkan agar para korban tetap kuat dalam menghadapi musibah. Bantuan logistik dan finansial layak mereka dapatkan tanpa pamrih dan maksud tertentu.

Kepemimpinan yang acuh terhadap penjagaan aqidah umat sangat rentan dimasuki misionaris berkedok kegiatan kemanusiaan. Umat Islam seringkali menjadi sasaran pemurtadan di tengah kefuturan iman.

Negara harusnya tak sekedar hadir sebagai fasilitator, namun ia juga harus mampu menjadi katalisator penguat iman. Bukan abai dan minimal dalam pelayanan. Begitulah kepemimpinan dalam Islam. Penjaga, pelindung, dan pelayan umat.[Mo/an]

Posting Komentar