Oleh: Widya Rhomadhona 
(Anggota Tim Penulis Pena Langit)

Mediaoposisi.com-Kesadaran umat atas kebangkitan islam bak gelombang yang tak bisa dibendung. Semakin hari, seorang alim semakin dicintai. Fenomena hijrah terlihat di berbagai lini dan usia. Majelis ilmu menjadi tambatan hati para pemuda. Ide islam dalam mengatur segala aspek kehidupan mulai banyak diterima.

Begitulah manusia yang akan selalu condong pada kebenaran. Tak terkecuali urusan politik dan pemerintahan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari syariat islam.

Suara Emas Ulama
Gembar gembor antara politik dan agama agaknya semakin ramai diperbincangkan. Menuju pemilihan umum tahun depan masyarakat dihadapkan pada dua fakta calon pemimpin negeri dengan dukungan para ulama.

Tidak mengherankan manakala setiap pagelaran politik lima tahunan, baik itu pemilihan legislatif, kepala daerah atau bahkan pilpres sekalipun, ulama nyaris tidak pernah absen di dalamnya. Ulama menjadi nafas perjuangan sejak negeri ini masih dalam cita-cita. Tidak ada perjuangan yang alpa dari kehadiran dan peran ulama.

Ijtima’ ulama jilid satu dan dua menjadi tombak dukungan yang menyamakan frekuensi di satu kubu. Ijtima Ulama II secara resmi menyatakan dukungan kepada pasangan bakal calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Republika.co.id, 16 September 2018).

Kubu lain pun tak berbeda dalam menghimpun dukungan ulama. Sekjen Majelis Silaturahim Kiai dan Pengasuh Pondok Pesantren Indonedia ( MSKP3I) Arifin Junadi mengatakan, mereka sepakat memilih Jokowi-Ma'ruf karena ingin Indonesia dipimpin oleh ulama. "Kami mau Indonesia ini dipimpin yang benar-benar ulama, bukan yang cuma dekat dengan ulama," ujar Arifin Junadi (Antaranews, 15 September 2018).

Di satu sisi ada gelombang islam politik untuk menyelamatkan negeri. Di sisi lain banyak terjadi perpecahan, tak jarang juga saling sikut dan menyudutkan. Politisasi islam nampak jelas ketika para alim dan terang menyuarakan kebenaran akhirnya dikriminalisasi. Tetapi saat dibutuhkan untuk mendobrak suara ulama pun digandeng erat.

Suara ulama memang memiliki pengaruh yang besar di tengah-tengah umat. Ulama dianggap sebagai seseorang yang berilmu dan mengetahui baik-buruknya suatu perkara, termasuk dalam memilih pemimpin.

Ulama sebagai Penerang dalam Kegelapan
Ulama sejatinya adalah pewaris nabi. Rasulullah saw tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu. Tugas utama para nabi adalah menegakkan tauhid dan hukum-hukum Allah swt. Maka sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab ulama sepeninggal nabi sampai akhir zaman untuk melanjutkan perjuangan mewujudkan kehidupan dengan pengaturan berdasarkan hukum Allah semata.

Ulama bukanlah kaki tangan penguasa atau siapapun yang ingin berkuasa hingga membenarkan segala kebatilan. Ulama bukan juga alat untuk mengumpulkan suara dalam rangka menghipnotis rakyat atas nama agama. Ketika umat terombang-ambing dalam kebingungan di era derasnya fitnah dan besarnya makar, ulama menjadi cahaya yang menunjuki jalan.

Sesuai hadist Rasulullah saw :
Sesungguhnya ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut. Apabila dia terbenam, maka jalan akan tampak kabur” (HR Ahmad).

Islam mendefinisikan politik sebagai aktivitas mengurusi urusan umat dalam hal akidah sampai muamalah, dari bangun tidur sampai membangun peradaban. Islam dan politik sama sekali tidak bisa dipisahkan. Maka sudah seharusnya ulama menjadi garda terdepan perjuangan, memahamkan dan mencerdaskan umat atas urgensitas pererapan hukum Allah untuk mengentas segala problematika.[MO/sr]

Posting Komentar