Oleh: Elva Susanti Meylani
(Aktivis muslimah Jakarta Utara)

Mediaoposisi.com- "Sekolah favorit" di Indonesia merupakan istilah yang berbuah dari senjangnya kualitas pendidikan antarinstitusi. Dibanding sekolah negeri lain, sekolah favorit dipandang superior dalam hal mutu pengajaran, kelengkapan fasilitas, dan ramahnya lingkungan belajar serta pergaulan.

Alhasil, prestasi siswa serta kemampuan sekolah mengantarkan lulusannya ke lembaga pendidikan tinggi ternama menjadi nama baik yang membuat banyak orangtua mengidamkan anaknya masuk ke sekolah favorit. Persaingan nilai menuju sekolah-sekolah favorit tidak terelakkan.

Bagi sebagian pihak, kecurangan di ruang ujian, transaksi kunci jawaban, sampai jual beli bangku menjadi cara halal untuk mencapai tujuannya.

Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 tahun 2018, pemerintah berupaya menghapus label "sekolah favorit" dengan menerapkan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018.

Sistem ini menyeleksi calon peserta didik berdasarkan (1) Jarak rumah ke sekolah tujuan, (2) Usia calon peserta didik, (3) Nilai hasil ujian sekolah atau Ujian Nasional, dan (4) Prestasi akademik dan nonakademik peserta didik. "Semua [sekolah] harus sama tidak boleh ada yang status favorit kemudian yang lain buangan," ujar Mendikbud Muhadjir Effendy. (tirto.id)

Lantas, sudahkah kebijakan ini menjawab problematika sekolah favorit dan pendidikan Indonesia umumnya?

Sejatinya, sistem zonasi baru berupaya memeratakan input peserta didik, belum kualitas pendidikan itu sendiri. Itu pun malah meninggalkan masalah-masalah baru. Persebaran sekolah yang seyogianya diperhitungkan sebelum pelaksanaan kebijakan justru diabaikan. Sehingga, banyak anak yang gagal masuk sekolah negeri karena kalah oleh pendaftar yang jarak rumahnya lebih dekat dari sekolah.

Menurut Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim melalui tirto.id, sistem zonasi dapat merenggut hak-hak siswa untuk belajar di sekolah keinginannya. Upaya menghilangkan favoritisme sekolah harus didahului oleh akses menuju sekolah, kelayakan infrastruktur, serta pemerataan tenaga pendidik.

Ketidakpercayaan pada mutu sekolah juga yang membuat sebagian orangtua masih bersikeras memasukkan anaknya ke sekolah favorit; lahirlah trik pindah KK dan penyalahgunaan SKTM.

Dikutip dari Menggagas Pendidikan Islami (2014), karakter materialistik dalam sistem pendidikan yang ada saat ini gagal melahirkan manusia salih dan muslih yang menguasai IPTEK. Untuk memperbaikinya, tidak cukup hanya mengubah kebijakan teknis, namun perlu direformasi landasan filosofis dan ideologis dari pendidikan tersebut.

Sistem sekuler menghasilkan kehidupan dan masyarakat yang sekuler. Pemisahan kurikulum pendidikan umum dari Kemendikbud dengan kurikulum pendidikan agama dari Kemenag seakan membatasi generasi muda untuk cerdas dalam "ilmu dunia" atau "ilmu akhirat" saja.

Kesejahteraan masyarakat yang rendah mendorong perlombaan untuk menguasai ilmu dunia dengan jalan mencapai pendidikan setinggi-tingginya. Pendidikan dipandang sekedar sebagai alat peraih kebahagiaan di dunia. Pembangunan kepribadian banyak terabaikan.

Bila pun ada, hanya bersandar pada etika moral sekuler yang abu-abu. Tidak heran bahwa generasi muda kini mudah terseret depresi, kecanduan gadget, pergaulan bebas, penyalahgunaan NAPZA karena pendidikan sekuler tidak mampu menunjukkan mereka jati diri yang benar.


فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200).

Dalam Islam, pendidikan bertujuan menyiapkan manusia sesuai misi penciptaannya, yakni sebagai abdullah sekaligus khalifatullah. Akidah Islam, kepribadian Islam, dan ilmu pengetahuan diajarkan terus-menerus secara bertahap. Kurikulum disusun memenuhi kebutuhan siswa menghadapi kancah kehidupan, bukan hanya teori tanpa perbuatan.

Pendidikan tidak diperlakukan sebagai komoditas, melainkan hak yang harus dipenuhi negara kepada rakyatnya. Proses belajar mengajar pun bermakna amal ibadah bagi pihak siswa maupun murid yang harus dilandasi oleh keikhlasan mengharap ridha Allah Swt.

Mush’ab bin Umair dan Bilal bin Rabah adalah dua figur sahabat Rasulullah Saw. dari latar belakang yang bagai bumi dan langit. Pendidikan Islam yang keduanya peroleh tidak mementingkan kualitas input para muridnya, tetapi berfokus pada pelurusan paradigma dan pengamalan ilmu yang diperoleh.

Hasilnya, Mush’ab dan Bilal sukses dengan peran masing-masing di masyarakat serta menjadi tokoh teladan kaum muslimin hingga hari ini. Cabang ilmu pengetahuan tidak dikotak-kotakkan sehingga para polimatik, atau ilmuwan multidisplin, banyak lahir dari rahim Islam. Ibnu Sina dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern dan berkarya pula dalam filsafat, pedadogi, politik, dan sastra.

Selain seorang ulama besar, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga menguasai tiga belas bidang sains dari astronomi sampai kedokteran.

Sejarah mencatat para pemimpin muslim yang cakap dan berakhlak mulia, seperti Nuruddin Zanki, Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih, Sultan Salim I, dan Thariq bin Ziyad. Jika hari ini kiblat model pendidikan ideal disandarkan pada Finlandia dengan masyarakatnya yang homogen, sesungguhnya sejarah Islam telah mencontohkan pada kita pendidikan yang sukses menyemai individu cemerlang melewati batas-batas zaman, kultur, demografi, dan geografi.

Tentunya, kualitas manusia yang demikian tinggi tidak cukup dipupuk mengandalkan lembaga pendidikan formal saja. Ada peran gabungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam bingkai kehidupan Islam yang paripurna. Pendidikan sebagai pilar negara ditunjang oleh pilar ekonomi, sosial, politik, dan kehidupan sesuai syariat Islam.

Itulah solusi yang diwajibkan Allah Swt. kepada kaum muslimin sebagai syarat berkah bagi kaum muslimin dan seluruh alam, salah satunya dalam bentuk generasi cemerlang pengukir peradaban. Firman Allah Swt.,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَاتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ﴿الأعراف:٩٦﴾

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-Araaf: 96)[MO/sr]


Posting Komentar