Oleh: Heni Yuliana S.Pd

Mediaoposisi.com- Belakangan ini, istilah Islam Nusantara sering didengungkan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat menolak konsep Islam Nusantara.

"Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa: 'Islam Nusantara' dalam konsep/pengertian definisi apa pun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatera Barat). Bagi kami, nama 'Islam' telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apa pun,"

Demikian kesimpulan MUI Sumbar sebagaimana dokumen unggahan akun Facebook Ketua Umum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018, seperti dikutip detikcom, Rabu (25/7/2018).

Itulah gebrakan yang telah dilakukan oleh ketua umum Majlis Ulama Indonesia(MUI) Sumbar. Bak tersambar petir! Tentu ini kabar yang mengejutkan bagi pengusung ide Islam Nusantara yang sekarang sedang mulai dihembuskan di tanah air. Ide ini begitu gencar tersebar. Para pengusungnya datang dari berbagai kalangan, tokoh dan profesi. Dari ulama, akademisi hingga politisi.

Para pengusung ide Islam nusantara ini berpendapat bahwa Islam nusantara membawa citra Islam lebih ramah, wujud kearifan lokal, wujud Islam yang lebih empirik, Islam yang moderat dan toleransi juga mencegah Islam yang transnasional. Ini jelas tak bisa diterima. Islam yang sudah sempurna harus disempitkan oleh istilah nusantara.

Hanya Ganti Baju
Ide Islam nusantara sendiri bila dilihat lebih dalam lagi ialah nama lain dari ide-ide rusak terdahulu. Sebut saja Islam moderat. Menyajikan Islam yang lebih toleran. Islam yang cinta damai. Ini mantra untuk menjauhkan umat dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Hukum Islam bisa dikompromikan atas nama adat istiadat.

Dan ini merupakan bagian dari upaya pecah belah umat yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh musuh-musuh Islam. Kita bisa menilik kembali Dokumen Rand Corp dalam memecah persatuan umat.

Rand Corp sendiri adalah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah atas biaya Smith Richardson Foundation, berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya ia perusahaan bidang kedirgantaraan dan persenjataan Douglas Aircraft Company di Santa Monica-California, namun entah kenapa beralih menjadi think tank (dapur pemikiran) di mana dana operasional berasal dariproyek-proyek penelitian pesanan militer.

Langkah pertama yang mereka ambil ialah dengan membagi-bagi umat Islam ke dalam beberapa kelompok.

Pertama: kelompok fundamentalis, yaitu kelompok yang dinilai menolak nilai-nilai demokrasi dan budaya Barat serta menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan  Hukum Islam yang ekstrem.

Kedua: kelompok tradisionalis, yaitu kelompok yang menginginkan suatu masyarakat yang konservatif.

Ketiga: kelompok  modernis,   yaitu kelompok yang menginginkan Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka juga ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikan Islam dengan perkembangan zaman.

Keempat: kelompok sekular, yaitu kelompok yang menginginkan Dunia Islam dapat menerima paham sekular dengan cara seperti yang dilakukan negara-negara Barat dimana agama dibatasi pada lingkup pribadi saja.

Setelah itu mereka melakukan strategi belah bambu, mengangkat yang satu dan menginjak yang lainnya. Mengangkat kelompok pengusung ide Islam nusantara yang dianggap terbuka dengan sistem kapitalis sekularis yang diterapkan di negeri ini. Lalu menekan kelompok lainnya, yang berseberangan dengan kepentingan mereka.

Ulama tolak Islam Nusantara
Jelas sudah kesalahan ide Islam nusantara ini. Maka semua pihah harus menolak ide ini. Terlebih lagi ulama. Karena ulama ialah orang-orang berilmu di tengah-tengah masyarakat. Mereka punya pengaruh yang besar dalam membimbing umat mengamvil suatu keputusan.

Mereka menjadi penjaga umat dari kerusakan-kerusakan pemikiran. Jangan sampai ulama malah menunjuki umat pada jalan yang salah.

Dalam kitabnya Imam al-Ghazali menyatakan,

Kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa. Rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Siapa saja yang terpedaya oleh kecintaan terhadap dunia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil. Lalu bagaimana pula dia hendak melakukan pengawasan terhadap penguasa dan perkara besar?” (Al-Ghazali, Al-Ihyâ’, 2/357).[MO/sr]


Posting Komentar