Oleh: Bagas Kurniawan
(Aliwa' Institute)

Mediaoposisi.com-Hoax menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) yaitu berita bohong, informasi bohong. Sementara hoax dalam hal ini, kini sering digunakan oleh banyak pihak yang memang memanfaat kondisi, dan kepentingan tertentu untuk mencapai sesuatu.

Mendengar kata-kata hoax, sering kita dengar dalam media-media, baik, media sosial, media cetak, bahkan media elektronik. Peristiwa atau sesuatu yang tidak benar kejadiannya dengan fakta atau realita, tentu hal ini dikatakan hoax.

Mengeklaim bahwa Indonesia rakyatnya sejahtera ini jelas hoax, atau Indonesia hutang luar negerinya lunas ini pun sangat hoax. Dan masih banyak lagi hoax-hoax yang lain. Sampai-sampai keluar statement hoax membangun.Hoax, memang sangat terlihat dalam menjelang Pilpres. Antara lawan politik dan juga relawan, masing-masing.

Dengan menebar hoax menjadi tim sukses memang mungkin dilakukan, karena suatu parpol ingin mendapatkan dukungan baik suara, mau pun membantu bicara. Bahkan tak dihiraukan lagi hoax itu menyasar kalangan ustadz, tokoh publik, maupun ormas-ormas Islam. Pokoknya dapat suara Umat Islam.

Memang aneh, politik dalam demokrasi sering melakukan tindakan yang justru tindakan tersebut dinilai memiliki beragam cara, sikap politik, maupun kepentingan politik tidak seharusnya dilakukan, dengan menebar hoax, yang menuju kepada sasaran mendulang suara. Serta segudang alasan lain.

Isu hoax memang perlu dijadikan sebagai persoalan yang mendasar, mengingat masyarakat awam sering terkena dampaknya dari berita hoax tersebut. Alih-alih ingin memperbaiki dan menangkal isu hoax, tapi justru sangat disayangkan banyak pihak yang memanfaatkan seseorang atau kelompok tertentu untuk dijadikan lahan menebar hoax.

Tumbuh suburnya hoax, dikarenakan masyarakat masih belum sadarnya bersikap politis terhadap suatu berita. Dan kurang cermatnya dalam memilih atau membaca berita yang beredar. Atau bisa jadi hanya membaca berita judulnya saja. Sehingga tidak tepatnya dalam mengambil informasi secara historis, empiris.

Menangkal hoax, harus benar-benar dilakukan oleh masyarakat, terutama negara. Dan juga sesorang atau kelompok yang menamai dirinya sebagai aktivis dakwah. Sangat perlu untuk mencerna kembali berita-berita yang sedang berkembang. Dengan ketidak tepatan mengambil suatu berita, atau informasi dikhawatirkan akan mengundang perkara dan juga menyeretnya kedalam ranah hukum.

Oleh sebab itu, sebagai seorang politisi bersikaplah seperti layaknya politisi yang tidak gampang menyebar konten hoax. Jadikan hukum syara sebagai landasan dalam bersikap tentukan pilihan. Bila saat ini banyak dan tumbuh suburnya hoax menjelang Pilpres sangat disayangkan. Karena dengan hoax tersebut bisa saja umat akan semakin tidak percayanya menentukan pilihan.

Di dalam Islam apalagi, dengan menebar hoax alis berita bohong, sangat tidak patut untuk di jalankan, karena hoax tergolong tindakan dosa besar. Bila hoax itu menuju kepada fitnah, sungguh akan memakan korban yang lebih besar lagi. Untuk itu para penyebar hoax, takutlah kalian kepada Allah SWT. Karena Allah akan memberikanmu balasan yang setimpal.

Jadilah penebar kebaikan yang dengannya  akan senantiasa mengingatkan kepada indahnya hidup di dalam sistem Islam. Bukan sebaliknya, memilih demokrasi sebagai sistem yang terbaik, itu jelas 'hoax'.[MO/sr]

Posting Komentar