Oleh: Abu Nawas Barnabas

Mediaoposisi.com- Kok ya masih kolokan, berlagak sok suci, seperti hidup dalam demokrasi kuno ala Yunani, yang berfantasi memilih dan dipilih itu murni kehendak pribadi dan nurani, tanpa tendensi dan pretensi, apalagi tanpa uang. Sudahlah, jujur saja akui tidak perlu basa-basi, demokrasi memang butuh duit.

KPU saja rilis butuh duit 15 T untuk acara pilih-pilihan 2019, baik Pilpres maupun pemilu. Jadi, Klo ada isu 500 M, 1 T, 3 T, 7 T, itu kecil, dan itu baru DP. Ga cukup Kalo cuma ngandalin duit segitu.

Sebutannya bisa macam-macam, ada yang menyebut mahar, uang operasional, biasa politik, biaya kampanye, atau sebutan lain yang semisal. Dan tak perlu dipersalahkan, selama Anda membenarkan demokrasi. Kecuali Anda menuding demokrasi biang keladinya, boleh lah ikut menyalahkan praktik uang dalam pemilihan.

Anda ini sok bodoh atau berlagak tidak tahu ya ? Saksi butuh duit, kampanye butuh duit, spanduk baliho butuh duit, bikin kaos butuh duit, bendera dan atribut butuh duit, undang wartawan butuh duit, konsultan butuh duit, kunjungan daerah butuh duit. Emang semua gratisan ? Emang ada mesin politik bensinnya cuma doa, dzikir dan tawakal ?

Relawan-relawan itu butuh duit, biarpun bukan gaji tapi minimal uang rokok, uang kopi, uang bensin. Masak tega, udah berbusa bela calon suruh modalin sendiri ? Dimana perikerelawanan partai ? Dimana perikerelawanan calon ?

Lha semakin menuding, semakin mengklaim paling bersih, semakin mengingkari pake duit Anda justru akan dituding ajaib ! Anda akan dianggap pria dari planet tak teridentifikasi yang sedang berlaga dalam politik demokrasi bumi. Anda akan dianggap Alien !

Anda juga tak perlu bikin pembatas, pembeda, tidak ada dikotomi parpol Islam atau sekuler. Yang parpol Islam  juga sama, tidak bisa menang pemilu cukup dengan wirid dan baca Yasin. Semua butuh duit !

Lantas, kalau semua butuh duit nanti saat memimpin untuk rakyat atau untuk duit ? Jawabnya mudah : untuk duit. Demokrasi itu dari duit, oleh duit dan untuk duit. Bohong besar kalau demokrasi itu untuk rakyat, rakyat itu hanya alat, tujuannya duit.

Selama sistem politik yang dipake demokrasi, jadi mimpi saja kalau rakyat mau sejahtera, apalagi menerapkan syariah Islam dalam demokrasi. Yang diterapkan itu Sekulerisme, kapitalisme, duitisme ! Mana ada kedaulatan rakyat ? Yang ada kedaulatan duit.

Nah umat Islam yang masih mikir, masih ada alat pilkit, masih punya pikir sehat, segera tinggalin demokrasi. Demokrasi itu sistem kufur, haram mengemban, menerapkan dan mendakwahkannya.

Ingat ! Sehabis dilantik, pemimpin demokrasi akan sibuk mencari pengembalian duit yang dipake saat kampanye. Baik dengan membuat kebijakan, jualan kewenangan, dan membuat aturan yang menguntungkan dirinya dan para cukong kapitalis yang mendukungnya.

Jadi, tugas utama pemimpin demokrasi setelah dilantik adalah bagaimana memindahkan duit dari kantung APBN ke kantong pribadi dan kelompoknya. Praktik menyalahgunakan kekuasaan, itu lazim dan dianggap sah dalam demokrasi. Percaya demokrasi ? Siap-siap di Machfud MD-in sama demokrasi.[MO/sr]

Posting Komentar