Oleh: Rahilati Izka
(Aktivis Kampus) 

Mediaoposisi.com-Beberapa Hari yang lalu, Selasa 21 Agustus Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengadakan survei capres dan cawapres. Denny JA, Adjie Alfarabymenyebut mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa memengaruhi suara pemilih nonmuslim di Pilpres 2019, untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Survei digelar pada 12-19 Agustus 2018 menggunakan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka ke 1.200 responden, dengan dilengkapi focus group discussion dan wawancara mendalam. Berikut ini perbandingan elektabilitas Jokowi vs Jokowi-Ma'ruf Amin. Pemilih muslim: Jokowi: 51,7%, Jokowi-Ma'ruf: 52,3%. Nonmuslim: Jokowi: 70,3%, Jokowi-Ma'ruf: 51,5%.(Detik.com)

"Ketika Pak Ahok kemudian masuk, menjadi salah satu tim Pak Jokowi, akan menambah atau meyakinkan pemilih nonmuslim untuk tetap atau tidak meninggalkan Pak Jokowi. Artinya tetap memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf," ujar Adjie di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur.

Namun, Adjie menyarankan kepada koalisi Jokowi untuk memperhatikan cara masuknya Ahok ke dalam tim pemenangan. Sebab, jika tidak hati-hati justru akan mengganggu pemilih muslim yang tadinya ingin memilih Jokowi-Ma'ruf.(Sindonews.com).

Tak ada kata teman tanpa kepentingan dalam sistem Kapitalisme. Inilah cara untuk mendapat kekuasaan di sistem kapitalisme, yaitu mengalalkan berbagai cara untuk meraih suara rakyat dalam pilpres 2019.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu calon pilpres yaitu pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin memasukkan Ahok ke dalam list tim sukses agar meraih suara dari non-muslim, setelah beberapa bulan terakhir masyarakat banyak mulai sadar akan kebijakan-kebijakan selama pemerintahan Jokowi-JK yang tidak sesuai dengan janji-janji ketika kapanye pada saat 5 tahun yang lalu, sehingga lahirlah gerakan dan hastag 2019 ganti presiden karena kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah.

Masyarakat Indonesia dengan masyoritas muslim tentu akan beripikir 1000 kali untuk memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, walaupun cawapres merupakan seorang Ulama, tapi masyarakat lebih memilih agar ulama tidak masuk kedalam bangku kekuasaan dalam sistem kapitalisme yang kotor, begitu pula dengan muslim memutuskan banyak yang tidak memilih Jokowi untuk kedua kalinya karena banyak kriminalisi Ulama dan Islam yang terjadi pada periode Jokowi, serta slogan Radikalisme selalu tertuju pada umat Islam.

Jika sebelumnya capres dan cawapres berkampanye untuk mendapat voting suara, berbeda dengan tahun ini, capres dan cawapres tidak begitu fokus pada kamapanye namun lebih membangun koalisi dan action untuk mendapatkan voting. Seperti yang dilakukan oleh Jokowi.

Keputusan memasukkan Ahok kedalam list tim sukses ini tentu memiliki kepentingan dan memberi keuntungan bagi dalam pilpres ini.

Padahal Ahok pernah menistakan Aquran, namun diberi kesempatan oleh pasangan pilples Jokowi-Ma'ruf Amin untuk mendapatkan voting suara dari masyarakat minoritas yaitu nonmuslim. Inilah sistem Demokrasi ala Kapitalisme yang menghalalkan berbagai cara agar mendapatkan kekuasaan.

Berbeda dengan Islam, Islam memilih seorang pemimpin dengan cara membaiat bukan dengan dengan voting suara. Didalam sistem Islam,  setiap Muslim yang baligh, berakal, baik laki-laki maupun perempuan berhak memilih Khalifah dan membaiatnya. Orang-orang non-Muslim tidak memiliki hak pilih.

Pengangkatan pemimpin sebagai kepala negara, dianggap sah jika memenuhi tujuh syarat, yaitu laki-laki,  muslim, merdeka, berakal, adil dan memiliki kemampuan. 

Didalam Alquran Allah melarang umat Islam untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, dan hal tersebut telah terjadi saat ini. maka tidak heran jika kita hidup dalam sistem yang dzalim akibat perbuatan manusia itu sendiri.

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara- saudaramu menjadi WALI (pemimpin/pelindung) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka WALI, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS: At-Taubah [9]: 23)[MO/sr]



Posting Komentar