Oleh: Amma Muiza

MediaOposisi.com-Beberapa hari lagi Indonesia memperingati hari kemerdekaan, dengan bermacam cara dan budaya. Perayaan ini tentu tidak lepas dari sudut pandang kemerdekaan. Sebagian orang memandang Indonesia sudah merdeka sejak 73 tahun yg lalu. 

Sebuah kemerdekaan yang mutlak sehingga layak di peringati, dirayakan dengan meriah bahkan mewajibkan masyarakat untuk menghadiri perayaannya. Sebagian lagi menyatakan bahwa Indonesia masih belum merdeka, dengan anggapan bahwa kemerdekaan adalah sebuah kebebasan ruang gerak rakyat. Bebas berpendapat, bebas berkarya, dan bebas berfikir. 

Sebagian lain menganggap Indonesia belum merdeka karena alasan lain, yaitu Indonesia masih di kungkung oleh hegemoni Barat, dengan cengkraman kapitalis - sekuler yang nyata terpampang di setiap sendi sosial. Perbedaan sudut pandang ini tentu dipengaruhi oleh fakta yang dipahami, empati yang di tumbuhkan dalam diri, dan tanggung jawab pribadi. 

Jadi, mari kita coba memperbanyak fakta lapangan, fakta saudara kita di Indonesia ini, fakta yang sebenarnya sudah berlangsung lama, namun mata hati menutup acuh terhadapnya. 

Saat bicara tentang krisis di Indonesia, tidak hanya kondisi ekonomi yg tergadai. Krisis sosial, pendidikan, moral, hukum, hingga SARA. Tak ayal Indonesia disebut-sebut mengalami krisis multidimensi. 

Dari sisi ekonomi, jeratan hutang Indonesia mencapai 4000 trilyun rupiah, disertai dengan angka pengangguran yg tinggi, nilai impor yg cenderung meningkat dan angka kemiskinan yang masih tinggi (BPS, 2018)

Dari sisi pendidikan, rakyat masih merasakan ketidak merataan fasilitas pendidikan diikuti dengan rendahnya kualitas pendidikan (IDN times, 2018) Begitu pula isu pornografi dan pornoaksi dikalangan pelajar semakin miris. 

Indonesia yang disebut negeri kaya sumber daya alam, sayangnya kekayaan terus dikuasai dan dieksploitas dengan liar— bukan oleh bangsa sendiri tapi oleh perusahaan asing. 

Tambang emas, minyak, gas dan banyak sumberdaya alam lainnya di negeri ini telah lama dikuasai dan diekploitasi oleh PT Freeport, Exxon Mobile, Newmont, dan banyak perusahaan asing lainnya. Sebuah eksploitasi yang legal tersebab dilindungi oleh undang-undang. 

Di ranah politik, banyak keputusan politik di negeri ini—terutama dalam bentuk undang-undang—terus berada dalam kontrol pihak asing. Semakin digali, problem pelik negeri ini seolah tidak ada habisnya. Ditambah Bencana alam sebagai peringatan jiwa yang tak henti mengetuk bangsa ini.

Namun demikian, pada saat yang sama sebagian masyarakat seolah tak pernah menyadarinya, tampak dalam antusiasme perayaan hari kemerdekaan. 

Sepatutnya kita menengok dan mempelajari fakta ini, sehingga memunculkan pertanyaan kritis, "sudahkah Indonesia merdeka?" Diikuti dengan sejumlah semangat terarah untuk perbaikan Indonesia, bukan sekedar perayaan kosong tak bermakna.

Maka layak pula makna kemerdekaan hakiki diwujudkan dalam kehidupan ini. Kemerdekaan yang sebenar, bukan merdeka semu yang dipaksakan atas fakta-fakta yang berkebalikan. Jika kita mengkaji detil makna merdeka, ada sebuah misi utama Islam untuk memerdekakan manusia. Islam dengan kesempurnaannya, bertujuan mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT. 

Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Islam memandang kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Perbudakan yang tampak dari kekangan manusia atas manusia, hegemoni keji sebuah bangsa atas bangsa lain, pemaksaan dzalim kehendak penguasa atas rakyat kecil.

Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya. Inilah misi Islam dalam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia. 

Dalam goresan tinta sejarah, misi kemerdekaan atas umat yang dibawa oleh Islam ini tergambar jelas saat Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

“…Amma badu. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… "(Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553).

Dengan demikian, pelik masalah bangsa ini, yang mengikat erat penduduknya, menjadikannya dalam keadaan tidak bebas merdeka. Hanya kembali kepada Allah swt - lah, dengan berpegang pada aturan-Nya, kemerdekaan hakiki akan dapat diwujudkan untuk seluruh rakyat Indonesia.[MO/sr]







Posting Komentar