Oleh: Abu Nawas Barnabas

Mediaoposisi.com-Musa berdakwah menyampaikan risalah, ditemani sahabat setia yang seiman, dialah Harun. Isa berjuang di bela dan dikerumuni para pembela dari kaum hawariyun. Rasulullah, juga dikelilingi para sahabat yang sholeh yang memiliki akal dah kecenderungan yang sama. Kalau Anda perhatikan, Anda akan melihat siapapun akan dikumpulkan dengan orang yang semodel.

Tidak perlu bingung dengan nama yang muncul dalam pencapresan. Tidak perlu kecewa dengan nama yang diluar ekspektasi. Demokrasi, memang tidak akan pernah bisa menjadi jalan aspirasi umat Islam. Demokrasi, adalah wadah sekaligus penyalur aspirasi kaum kapitalis.

Jangan dikira, nama yang muncul itu yang menentukan. Mereka yang berkehendak penuh atas keadaan. Bukan. Mereka hanya menjalankan peran, dari skenario besar yang bekerja dibalik mereka.

Sekarang Anda tidak bisa mengkonfrontasi, mana yang berada di barisan umat, mana yang berseberangan, kecuali dengan kacamata akidah Islam. Jika melihat sosok, Anda akan tertipu.

Bagaimana mungkin orang yang berfatwa haram memilih pemimpin ingkar janji, bisa berdampingan dengan seorang pendusta ? Bagaimana mungkin calon dari partai Penista agama, kemudian mendapat 'Stempel Halal' sebab berpasangan dengan seorang ahli fatwa ?

Anda pun melihat dengan jelas, bagaimana kekuatan kapital menentukan pasangan, bukan preferensi Ijtima' ulama atau aspirasi umat. Ingat ! Umat tak boleh punya selera berbeda, kapital dan partai-lah yang menentukan pilihan.

Kekuatan kapital dan partai, telah membuat pilihan menu politik. Bagi yang pragmatis, suka tidak suka, tinggal ambil menu diantara yang sudah tersedia. Kecuali Anda mengambil jalan ideologis.

Bagaimana mungkin Anda menginginkan ulama sekaliber UAS memimpin? Karena tidak ada yang selevel untuk bersanding dengannya. Demokrasi kufur juga bukan habitat bagi ulama lurus untuk mengabdi dalam dunia politik.

Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, mereka semua adalah ulama dari generasi sahabat sekaligus Khalifah kaum muslimin. Mereka memegang kendali polotik sekaligus kepemimpinan agama. Kenapa bisa ? Karena mereka hidup dalam habitat sistem Islam, Khilafah.

Jadi bagaimana mungkin ada kiyai berpasangan dengan pendusta ? Ya, hakekatnya mereka sama, tidak ada beda, karena kerelaan pada persahabatan menunjukan karakter dan jati diri pribadi. Sistem yang rusak membuat siapapun akan dipaksa rusak.

Namun ada yang patut disadari, dibalik semua hiruk pikuk ini, sesungguhnya kekuatan Islam memiliki peran yang dominan. Tinggal umat Islam, mau terus ditipu oleh panggung semu demokrasi, yang menampilkan badut-badut politik yang terus menebar dusta dan nestapa, atau memilih berfokus berdakwah, mengikuti thariqoh dakwah Nabi.

Realitas politik ini baik, untuk menunjukan kepada umat hakekat politik dan perpolitikan. Bagi yang berakal, dan tulus ikhlas bervisi pada Islam, InsyaAllah akan ditunjuki jalan yang lurus bagaimana berjuang untuk Islam.[MO/sr]

Posting Komentar