Oleh: Rahilati Izka 
(Mahasiswi, Aktivis Kampus) 

Mediaoposisi.com-Tragedi pembantaian  Muslim Rohingya oleh milisi teroris Budha yang dilindungi militer Myanmar, menambah daftar panjang sejarah genosida yang sistematis terhadap umat Islam, dari masa ke masa. Inilah pembantaian terbesar dalam beberapa dekade (kicknews.com)

Hingga saat ini pembantaian tersebut terus terjadi, tepat tahun lalu, militan Rohingya menyerang sejumlah pos polisi Myanmar dengan bom rakitan dan pisau. Mereka menewaskan 12 orang, menurut pemerintah Myanmar.

Sebagai balasan, militer Myanmar melancarkan operasi 'pembersihan' melawan mereka yang disebut teroris di desa-desa Rohingya. Serbuan ini menyebabkan ratusan ribu warga muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Setahun kemudian lebih dari 900 ribu orang Rohignya, kebanyakan anak-anak, tinggal di lima kamp penampungan di Distrik Cox Bazar, sebelah selatan Bangladesh. Kutupalong adalah salah satu kamp pengungsi terbesar di muka bumi, dihuni sekitar 700 ribu orang. Mereka hidup dengan bantuan kemanusiaan. (merdeka.com)

Siapa sebenarnya Muslim Rohingya? 
Berdasarkan catatan sejarah, Rohingya berasal dari kata Rohai atau Roshangeym yang berarti peduduk Muslim Rohang atau Roshang. Itu adalah sebuah untuk daerah tersebut sebelum dinamai Arakan. Pada tahun 1420, Arakan memproklamirkan diri sebagai kerajaan Islam merdeka di bawah Raja Sulaeman Shah.

Kekuasaan Arakan yang Islam itu bertahan hingga 350 tahun. Pada 1784, Arakan kembali dikuasai oleh Raja Myanmar. Tahun 1824, Arakan menjadi koloni Inggria. Sejak itulah populasi Isam dikawasan Arakan perlahan-lahan berkurag. Dalam penjajahan Ingrislah adu-dimba antara umat Islam Rohingya dan Budha Burma/Myanmar dilakukan.

Pasca Ingris memerdekakan Burma,  Muslim Rohingya dikucilkan dalam kesatuan warga negara Burma.

Situasi buruk Muslim Rohingy mulai terjadi saat Perang Dunia II. Pada 1942 pasukan Jepang menyerang Burma da Inggris mundur sehingga menyebabkan kekosongan besar dalam kekusaan dan stabilitas. Sejak saat itulah terjadi kekerasan komunal antara Muslim Rakhine dan Rohingya.

Persoalan yang terjadi di Rohingya tidak lain ialah karena faktor agama, sehingga yang menjadi korban pembantaian hanya Muslim Rohingya. Mereka ditindas karena alasan agama. Sebagaimana yang disebutkan oleh Paus Fransiskus, Rohingya disiksa dn dibunuh hanya karena ingin hidup menjalani keyakinn Muslim mereka.

Solusi untuk Muslim Rohingya tidak cukup hanya sekedar menunjukkan solidaritas terhadap pederitaan Muslim Rohingya dengan mendoakan mereka dalam qunut-qunut nazilah kita, membatu dengan mengirim dana, obat-obatan serta bahan makanan.

Harus adanya solusi konkrit untuk menghetikan penindasan terhadap Muslim Rohingya, yaitu dengan mewujudkan institusi dengan power yang real. Institusi berupa Negara Islam dapat meakukan intervensi terhadap Myanmar sehingga ada hukuman yang setimpal bagi pihak yag melakukan penindasan Muslim Rohingya.

Hanya Institusi negara yang berdasarkan aqidah Islam yang benar-benar akan membela nasib umat Islam. Hal tersebut yag belum terwujud hingga saat ini,  Umat Islam kehilangan jati dirinya dan kehilangan perisai yang bisa melindungi umat kedzaliman dan kekejaman zionis dan para rezim.[MO/sr]

Posting Komentar